Grid.ID - Tim peneliti dari Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta mengungkap kesimpulan teror api di Seyegan Sleman. Para pakar dari dua universitas tersebut pun resmi menutup penelitian terkait munculnya api misterius di rumah Agusyani.
Baru-baru ini, kemunculan api misterius di rumah seorang warga, Agusyani, di Dusun Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyita perhatian publik. Fenomena terbakarnya barang-barang di rumah Agusyani secara terus-menerus ini mengundang sejumlah peneliti untuk menyelidiki sumber api.
Masing-masing tim peneliti tersebut melakukan penelitian dengan berbagai metode dan alat, mulai dari georadar, drone thermal, geolistrik, geomagnetik, hingga alat pengukur gas. Tim ahli yang terlibat dalam penelitian ini pun sudah menyerahkan hasil kesimpulannya.
Kesimpulan teror api di Seyegan Sleman dari tim peneliti UGM maupun UPN Veteran Yogyakarta menyatakan bahwa tidak ada fenomena alami yang menyebabkan munculnya api di rumah Agusyani. Kesimpulan ini didapat setelah para pakar melakukan penelitian di lapangan dan menguji sampel di laboratorium. Selain itu penelitian ini juga telah melalui pendalaman serta validasi dengan beberapa metode.
Tim peneliti dari UGM menyatakan bahwa meski ada temuan kandungan gas yang mudah terbakar, namun tidak ada fenomena alami yang menyebabkan munculnya api. Senada dengan UGM, pihak UPN juga tidak menemukan adanya hubungan peristiwa ini dengan gelembung gas di Sungai Nepen di sekitar rumah Agusyani.
Dengan pengungkapan kesimpulan ini, tim ahli dari UGM dan UPN Veteran Yogyakarta pun resmi menutup penelitian mereka. Kini, fenomena munculnya api misterius di rumah Agusyani diserahkan kepada kepolisian.
Kesimpulan Tim UGM
Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) UGM juga mematahkan dugaan adanya self-ignition atau pembakaran spontan akibat faktor alam. Asisten Profesor Departemen Teknik Geologi UGM, Sarju Winardi mengungkap bahwa dari seluruh rangkaian uji geolistrik, termal, elektromagnetik, hingga elektrostatik, menunjukkan tidak adanya anomali yang memicu api secara alami.
"Begitu pula dengan kandungan gas, tidak ada anomali yang dapat memicu kebakaran. Itu sama sekali tidak ada," kata Sarju, dikutip dari Tribun Jogja.
Akan tetapi, dari hasil uji laboratorium terhadap residu di lokasi kejadian, pihaknya justru menemukan titik terang. Sarju mengaku pihaknya telah dua kali mengambil sampel dari lokasi kejadian.
Dari pengujian sampel awal barang-barang yang terbakar, terdapat kandungan abu dan gas karbon dioksida (CO2). Lalu dari uji lab menggunakan metode FTIR pada permukaan dinding rumah, ditemukan adanya material yang mudah terbakar.
Dari sampel tersebut, terdapat kandungan poly vinyl chloride (PVC) yang tidak umum dijumpai di permukaan dinding keramik maupun kayu atau tripleks.
Meski begitu, UGM tidak memiliki data terkait mekanisme terbakarnya material ini. Pihaknya pun menyerahkan hasil temuan tersebut kepada BPBD untuk ditindaklanjuti.
"Dengan demikian, dari UGM sudah menyimpulkan bahwa tidak ada fenomena alami yang menyebabkan munculnya api tersebut. Sehingga, nantinya diperlukan penyelidikan lebih lanjut dari pihak BPBD untuk menindaklanjuti apa yang kami temukan. Kami memastikan bahwa tim UGM sudah menyelesaikan tugas penyelidikan terkait kebakaran di rumah Bapak Agusyani Seyegan," jelas Sarju.
Lebih lanjut, tim geologi UGM juga menelusuri dugaan adanya sumber gas dari retakan tanah di sekitar rumah Agusyani. Ahli geologi PKPE FT UGM, Saptono Budi Samodra memastikan retakan yang ditemukan hanya retakan biasa dan tidak mengandung gas.
“Dari hasil analisis kami, retakan itu hanya retakan biasa, jadi tidak ada gas di dalamnya, yang kemudian kesimpulannya, mendukung bahwa tidak ada gas alami yang terbentuk,” ungkapnya, dikutip dari Kompas.com.
Selain itu, diselidiki juga kemungkinan adanya lapisan batuan yang menghasilkan gas metana atau gas alam lainnya, namun lagi-lagi indikasi tersebut tidak ditemukan.
Kesimpulan Tim UPNV Yogyakarta
Ketua Tim Fakultas Teknologi Mineral Energi UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Basuki Rahmad menyampaikan tidak ada keterkaitan antara penempuan gelembung gas di Sungai Nepen dengan teror api di Seyegan Sleman. Hal itu lantaran sungai Nepen berjarak sekitar 250 meter dengan rumah Agusyani.
"Sekali lagi, kami tidak menemukan hubungan antara gelembung gas di Sungai Nepen dengan rumah yang terbakar. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami menyampaikan kepada teman-teman media bahwa Fakultas Teknologi Mineral Energi UPN Veteran Yogyakarta resmi menutup penelitian ini," ujar Prof. Basuki.
Meski ditemukan gelembung gas, namun saat diuji langsung di lapangan, gas tidak mau menyala saat disulut api. Dari data geologi permukaan, UPN juga menemukan beberapa patahan yang mengarah dari timur laut ke barat daya.
Patahan tersebut telah divalidasi dengan metode subsurface atau bawah permukaan menggunakan geolistrik dan geomagnet untuk mengetahui lapisan batuan di bawah permukaan di sekitar rumah Agusyani. Sehingga ditemukan di bawah rumah Agusyani memang terdapat banyak retakan batuan porous.
Meski begitu, hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara barang-barang di rumah yang terbakar dengan gelembung gas di Sungai Nepen. Hal ini pun menjadi kesimpulan akhir dari tim peneliti UPN Veteran Yogyakarta.
"Terus bagaimana dengan hubungan gasnya?. Nah kami lakukan analisis, setelah kami menganalisis data geologi permukaan dan geofisika, kami mengerucut pada satu kesimpulan. Kami menyimpulkan, kami tidak menemukan hubungan antara rumah yang terbakar dengan gelembung gas yang ditemukan di Sungai Nepen, yang berjarak 250 meter tersebut. Ini jadi kesimpulan akhir," jelasnya.
Kerugian Materiil
Dikabarkan bahwa teror api di Seyegan, Sleman ini pertama kali muncul pada 23 Mei 2026 lalu. Kemudian selama 22 hari, tercatat ada 126 kali tersulutnya api yang menghanguskan beberapa barang-barang di rumah Agusyani.
Namun dalam dua hari terakhir, teror api tersebut tak lagi muncul. Letupan api terakhir kalinya muncul pada Jumat (14/6/2026) lalu.
BPBD Sleman pun menyampaikan estimasi kerugian materiil dari peristiwa terbakarnya perabotan di rumah Agusyani, seperti sofa, pakaian, hingga lemari berkisar kurang lebih Rp45 juta.
Penyelidikan Diserahkan ke Polisi
Usai kesimpulan teror api di Seyegan Sleman diungkap tim peneliti dua universitas di atas, kini penyelidikan diserahkan kepada pihak kepolisian. Hal ini lantaran hasil penelitian menyatakan munculnya api tidak ada hubungannya dengan gas alam maupun fenomena alami lainnya.
"Karena (hasil riset akademisi) tidak ada hubungannya dengan gas alam di sana, maka nanti ini tugasnya kepolisian dengan timnya yang akan mencari penyebab munculnya api," kata Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, dikutip dari Tribun Jogja.
Pihak kepolisian yang awalnya hanya melakukan pendampingan, kini mulai bergeser ke ranah penyelidikan guna mencari fakta sebenarnya di balik fenomena api misterius ini. Kasat Reskrim Polresta Sleman, AKP Mateus Wiwit Kustiyadi menyatakan kini pihaknya tengah menggali fakta di lapangan.
"Jadi, kami dari Kepolisian yang kemarin adalah pendampingan pendampingan. Sekarang ini, kami (mulai) mengumpulkan fakta. Kemarin mungkin yang turun dari fungsi Samapta dan Binmas. Nah kini fungsinya reskrim dan mungkin nanti dari fungsi intel, tentunya Kepolisian, masih mencari atau mengumpulkan fakta yang ada di lapangan ini. Untuk kesimpulannya nanti pasti akan ada perkembangannya bagaimana," ujar Mateus.
Polisi juga akan melakukan pendalaman terhadap rekaman CCTV yang dipasang di lokasi kejadian. Penyelidikan mendalam dilakukan guna mengungkap tuntas apakah teror api di Seyegan Sleman ini terdapat unsur kesengajaan atau tidak. (*)
Artikel Asli




