Tak Lagi Impor Barang Modal, Arah Kemitraan RI-Jerman Bergeser ke Penguatan Manufaktur

idxchannel.com
14 jam lalu
Cover Berita

Salah satunya, Indonesia membidik kerja sama dengan Jerman untuk memperkuat ekosistem industri semikonduktor nasional.

Tak Lagi Impor Barang Modal, Arah Kemitraan RI-Jerman Bergeser ke Penguatan Manufaktur.Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kemitraan ekonomi Indonesia-Jerman kini tengah mengalami pergeseran. Jika sebelumnya Jerman dikenal sebagai produsen teknologi tinggi tempat Indonesia banyak mengimpor barang-barang modal (capital goods), kini arah kerja sama mulai didorong pada manufaktur langsung di Tanah Air.

Salah satunya, Indonesia membidik kerja sama dengan Jerman untuk memperkuat ekosistem industri semikonduktor nasional.

Baca Juga:
PMI Manufaktur RI Kembali ke Ambang Ekspansi di Mei 2026, Ini Pendorongnya

“Indonesia secara spesifik minta untuk ekosistem semikonduktor karena mereka masih kuat, dan perusahaan Jerman sudah beroperasi di Indonesia juga, di Pulau Batam yaitu Infineon. Jadi kita ingin agar ini diperdalam," ujar Airlangga selepas agenda pertemuan dengan delegasi Jerman di kantor Kementerian Perekonomian, Senin (15/6/2026).

Dalam penjajakan investasi tersebut, lanjut Airlangga, Jerman juga menanyakan sektor potensial lain yang bisa didorong, termasuk ketertarikan mereka terhadap logam tanah jarang atau rare earth serta komoditas nikel.

Baca Juga:
Jaga Ketahanan Industri, Menperin Tingkatkan Porsi Ekspor Manufaktur Jadi 30 Persen

Meski demikian, pemerintah Indonesia bersikap selektif dalam membuka peluang investasi baru demi menghindari tumpang tindih industri global. 
Selain itu, Airlangga mengatakan bahwa saat ini Benua Biru tengah dihadapkan pada masalah kelebihan kapasitas produksi baja, di mana mereka berencana memotong kuota produksi baja dari 80 juta ton menjadi 40 juta ton.

Indonesia memastikan tidak akan menambah beban kelebihan pasokan tersebut dan lebih memilih untuk mengarahkan investasi Jerman ke sektor-sektor produktif baru yang masih sangat terbuka luas.

Baca Juga:
Lewat BRICS, Indonesia Bidik Tajikistan untuk Perluas Pasar Manufaktur di Kawasan Eurasia

Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan karakteristik para pemodal Jerman yang cenderung memikirkan stabilitas masa depan. Para pelaku industri tersebut menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia sangat tangguh untuk dijadikan pangkalan produksi dalam jangka waktu lama.

"Mereka kan semua investor long time. Jadi view-nya tidak harian. Tidak memonitor saham tiap hari. Jadi mereka semuanya long-term. Jadi tentu kalau kita bicara long-term, fundamental ekonomi Indonesia masih bagus, bahkan Indonesia itu mereka katakan menjadi middle power, negara kekuatan menengah yang semakin lama semakin penting," kata Airlangga.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lebih dari Sekadar Anniversary, KUTA KITA Jadi Simbol Kebersamaan dan Keberlanjutan Bali
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Bank Neo Commerce (BBYB) Cermati Dampak BI Rate terhadap Cost of Fund
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Korban Umrah Hanania Group Membengkak Jadi 1.286 Jemaah, Kerugian Tembus Rp35,3 M
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Pantas Jepang Disebut Tim Kuda Hitam Piala Dunia 2026, Media Amerika Bongkar Perubahan Taktik Hajime Moriyasu
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Profil Nana Kencanawati, Wakil Ketua DPRD Cirebon yang Minta Maaf Usai Komentari Video Pengkritik MBG
• 6 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.