Membaca Langkah Budiman Sudjatmiko

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

GEMA kekecewaan kembali memecah keheningan diskursus publik ketika elemen mahasiswa dengan lantang menyoroti keputusan Budiman Sudjatmiko masuk ke dalam struktur pemerintahan.

Seruan tajam “Bung terlalu…”, bukan sekadar kritik spontan, tetapi mencerminkan retaknya harapan terhadap sosok yang selama ini dilekatkan pada idealisme perlawanan.

Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa manusia tidak pernah sepenuhnya bebas dari tekanan yang membentuk jalan hidupnya.

Perubahan dari figur perlawanan jalanan menjadi bagian dari birokrasi bukan sekadar manuver pragmatis, melainkan proses yang jauh lebih kompleks.

Di dalamnya berlangsung tarik-menarik antara kehendak pribadi dan tuntutan sistem yang kerap sulit ditawar.

Karena itu, membaca langkah Budiman tidak cukup berhenti pada penilaian politik semata.

Kita perlu menengok dimensi yang lebih dalam: bagaimana seorang aktor publik merespons tekanan, menata ulang ruang geraknya, dan merumuskan kembali dirinya di tengah ekspektasi yang berubah.

Struktur yang Mengikat, Peran yang Berubah

Dalam kehidupan sosial politik, setiap individu seperti berada di atas panggung dengan peran tertentu.

Peran itu tidak netral; ia membawa harapan, batasan, sekaligus penilaian dari publik.

Pada fase awalnya, Budiman hadir sebagai simbol perlawanan—figur yang diharapkan tetap konsisten berada di luar kekuasaan.

Namun ketika ia memutuskan masuk ke dalam struktur formal, lanskap itu berubah.

Ia tidak lagi sepenuhnya menjadi pengkritik, tetapi juga bagian dari sistem yang sebelumnya ia soroti.

Baca juga: Mencari Budiman Sudjatmiko

Di sinilah ketegangan muncul: publik tetap melihatnya dengan kacamata lama, sementara realitas baru menuntut peran yang berbeda.

Struktur kekuasaan pada dasarnya menghendaki keteraturan. Ia memerlukan keselarasan, bukan perlawanan yang terus-menerus.

Akibatnya, siapa pun yang masuk ke dalamnya akan berhadapan dengan tuntutan untuk menyesuaikan diri.

Bukan berarti kehilangan seluruh otonomi, tetapi ruang geraknya menjadi lebih terbatas dan terikat oleh aturan main.

Dalam situasi seperti ini, perubahan sikap sering kali tampak sebagai inkonsistensi.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Padahal yang terjadi bisa saja lebih sederhana: seorang individu sedang beradaptasi dengan peran baru yang menuntut pendekatan berbeda.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Update Gempa 6,7 M Palu: Kantor Bupati-Auditorium Universitas Tadulako Rusak
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Merasa Dibohongi, Elza Syarief Mundur dari Pengacara Sony Sonjaya
• 11 jam laluliputan6.com
thumb
BEM Bersatu Sebut Tiyo Ardianto Diduga Dekat dengan PDIP-Eks Timses Ganjar
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Pemprov Jabar Siapkan Skema Alternatif Bagi Calon Siswa yang Belum Terakomodasi di SPMB 2026
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Persebaya Surabaya Borong Pemain PSM Makassar! 3 Sudah Diperkenalkan, 1 Menyusul
• 8 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.