Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah akan menggembleng 30.000 calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan (KopDes/Kel) Merah Putih melalui Pelatihan Dasar Kemiliteran Komponen Cadangan (Komcad) sebelum ditempatkan di desa-desa.
Pengumuman hasil akhir seleksi yang semula direncanakan pada 7 Juni 2026 diundur dan akan diumumkan paling lambat pada 10 Juni 2026. Peserta yang dinyatakan lolos tidak langsung bertugas mengelola koperasi, melainkan terlebih dahulu akan mengikuti Pelatihan Dasar Kemiliteran Komcad pada 17 Juni—16 Juli 2026.
Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Darmadi Durianto meragukan kualitas hasil seleksi yang dilakukan dalam waktu singkat untuk memenuhi kebutuhan puluhan ribu manajer koperasi desa.
Menurut Darmadi, target pemenuhan puluhan ribu manajer dalam waktu singkat berpotensi memunculkan persoalan baru dalam pengelolaan KopDes Merah Putih.
"Proses rekrutmen mendadak 30.000 itu nonsens, berkualitas itu nonsens. Betul, nggak? 30.000 berkualitas manajer dalam sekejap, itu kan saya lihat, saya ikuti lho Pak [Menteri Koperasi Ferry Juliantono]. Itu tidak masuk akal, Pak, sebetulnya. Nah, inilah proses waktu yang mepet-mepet seperti ini akan melahirkan banyak masalah biasanya," kata Darmadi dalam rapat kerja Komisi VI DPR bersama Kementerian Koperasi beberapa waktu lalu.
Kritik itu muncul di tengah proses rekrutmen nasional calon manajer KopDes Merah Putih yang telah memasuki tahap akhir. Setelah dinyatakan lolos, para peserta tidak langsung ditempatkan di koperasi desa, melainkan akan menjalani pendidikan dan pelatihan di fasilitas Kementerian Pertahanan.
Baca Juga
- PR KopDes Kelola PLTS
- Kemenkop Pangkas 50% Target Operasional KopDes di Tahun Ini, Jadi 40.000
- Anggota DPR RI Ragukan Target 40.000 KopDes Merah Putih Beroperasi di 2026
Menteri Koperasi Ferry Juliantono membenarkan para calon manajer akan mengikuti pelatihan Komcad sebelum bertugas. Menurutnya, program tersebut bertujuan membentuk kedisiplinan, kepemimpinan, dan semangat bela negara.
“Latihan fisik, kepemimpinan, bela negara itu kan wajib juga. Tidak apa-apa, kok, baik-baik saja,” kata Ferry saat ditemui usai rapat.
Saat ditanya mengenai korelasi pelatihan kemiliteran dengan tugas mengelola koperasi, Ferry menegaskan bahwa kemampuan kepemimpinan dan pembentukan karakter merupakan bekal penting bagi para manajer.
“Oh iya, ada dong. Sebenarnya pengetahuan tentang kepemimpinan, fisik, itu kan perlu. Di mana-mana juga harusnya begitu,” ujarnya.
Ferry juga optimistis para peserta mampu menjalankan tugas meski sebagian berasal dari kalangan lulusan baru atau fresh graduate. Menurut dia, program rekrutmen tersebut merupakan amanat Presiden Prabowo Subianto untuk menyiapkan pengelola KopDes Merah Putih di Indonesia.
“Kementerian Koperasi mendapatkan amanat dari Bapak Presiden untuk merekrut, melatih, dan menempatkan manajer-manajer koperasi desa itu di Koperasi Desa Merah Putih yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Saat ini, program KopDes Merah Putih masih berada pada tahap pembangunan fisik setelah proses pembentukan badan hukum terhadap sekitar 83.000 koperasi rampung dilakukan.
Kemenkop mencatat hingga saat ini sebanyak 12.533 unit telah menyelesaikan pembangunan fisik secara penuh, sementara 22.737 unit lainnya masih dalam proses pembangunan. Adapun jumlah lahan yang telah terverifikasi mencapai sekitar 35.000 titik.
Ferry juga mengakui pemerintah menghadapi tantangan dalam penyediaan lahan, terutama di wilayah perkotaan. Karena itu, Kemenkop telah menyampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa pengembangan KopDes Merah Putih akan difokuskan terlebih dahulu pada sekitar 40.000 titik dan dilakukan secara bertahap.
Menurutnya, target 40.000 unit tersebut merupakan bentuk penyesuaian dari rencana awal pembangunan 80.000 KopDes Merah Putih.
“Sebenarnya kami memandang untuk tahun ini 40.000 [KopDes Merah Putih beroperasi]. Jadi pembangunan fisik dan insyaallah operasionalisasinya bisa berjalan 40.000,” ujarnya.
Pemerintah kini memilih pendekatan yang lebih realistis dengan menyeimbangkan percepatan pembangunan fisik dan kesiapan operasional.
Dia menekankan operasionalisasi koperasi membutuhkan perhatian lebih terhadap tata kelola, pengembangan model bisnis, serta studi kelayakan usaha dibandingkan sekadar mengejar penyelesaian bangunan fisik.
Selain itu, pemerintah juga tengah mempertimbangkan skema pembangunan koperasi yang dapat mencakup beberapa desa atau kelurahan sekaligus, khususnya di wilayah dengan jumlah penduduk yang relatif kecil.
Ferry menambahkan, pemerintah tidak lagi berupaya memaksakan target pembangunan hingga 80.000 unit dalam waktu singkat. Sebaliknya, pendekatan yang digunakan akan lebih bertahap dengan menitikberatkan pada kualitas operasional koperasi.
Dia menilai aspek studi kelayakan (feasibility study) akan menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan keberlanjutan usaha KopDes Merah Putih.
Sementara itu, Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah menjelaskan proses seleksi dilakukan secara terbuka melalui Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) yang melibatkan sejumlah kementerian dan lembaga.
Menurutnya, lebih dari 600.000 orang mendaftar dalam program tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 400.000 peserta mengikuti tes tahap pertama dan sebanyak 101.000 orang dinyatakan lolos. Setelah menjalani tes kesehatan dan mental ideologi, jumlah peserta yang tersisa mencapai sekitar 62.000 orang.
“Kemudian dari 62.000 itu tahap pertama kita akan melakukan rekrutmen 35.000 ini, 30.000 adalah koperasi desa Merah Putih, 5.000 manajer dan pegawai di Kampung Nelayan [Merah Putih],” kata Farida.
Nantinya, sebanyak 35.000 peserta yang lolos akan mengikuti pendidikan di 67 titik pelatihan milik Kementerian Pertahanan selama sekitar 1,5 bulan. Materi yang diberikan mencakup kedisiplinan, bela negara, wawasan kebangsaan, hingga pelatihan manajerial yang disusun Kementerian Koperasi.
Kompetensi Bisnis Lebih PentingDirektur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal menilai pelatihan dasar kemiliteran dapat menjadi pelengkap, tetapi bukan kompetensi utama yang dibutuhkan untuk mengelola koperasi.
“Kalau ingin membuat pelatihan dasar kemiliteran untuk manajer ini, ya itu sebagai tambahan bisa. Tetapi jangan lupa bahwa pelatihan yang lebih penting adalah yang terkait langsung dengan manajemen dan pengelolaan koperasi,” kata Faisal kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kemampuan manajemen, pemahaman bisnis koperasi, pengalaman mengelola usaha, serta pemahaman terhadap karakter masyarakat lokal jauh lebih menentukan keberhasilan koperasi.
“Sementara latihan dasar kemiliteran kalau ingin membangun, misalkan, rasa nasionalisme itu sebetulnya sifatnya mendukung,” imbuhnya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman. Menurutnya, pelatihan dasar kemiliteran bagi calon manajer KopDes/Kel Merah Putih tidak otomatis menjamin keberhasilan program tersebut.
Dia menilai keberhasilan koperasi lebih ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM), tata kelola, dan kemampuan menjalankan bisnis secara berkelanjutan. Meski demikian, pelatihan dasar kemiliteran dapat memberikan manfaat dalam membentuk karakter calon manajer koperasi, terutama dari sisi disiplin, integritas, kepemimpinan, dan kemampuan bekerja secara kolektif.
“Karakter tersebut penting sebagai pondasi etos kerja, namun sifatnya lebih sebagai pendukung (soft skills) dibandingkan kompetensi utama yang dibutuhkan untuk mengelola sebuah lembaga ekonomi,” kata Rizal kepada Bisnis.





