Bukan panggung besar atau jadwal manggung yang membuat Tantri menulis lagu "Ibu Pekerja". Namun lagu itu lahir dari satu kalimat sederhana yang menusuk hati seorang ibu: "Bunda kapan waktunya buat aku?"
Kalimat itu datang dari putra sulungnya yang kini berusia 10 tahun. Untuk ketiga kalinya, Tantri harus melewatkan pentas sekolah sang anak karena pekerjaan di luar kota. Awalnya ia mencoba menjelaskan bahwa adiknya baru saja mendapat giliran ditemani. Namun, anaknya sudah menghitung semuanya.
"Sudah tiga kali," kata sang anak.
Saat itulah Tantri merasa ada sesuatu yang tidak lagi bisa dipendam.
"Wow, gagal nih gue, jadi ibu," kenangnya pada kumparanMOM, Senin (8/6).
Sebagai vokalis yang kerap tampil di berbagai kota, Tantri terbiasa mengenakan "topeng" di depan banyak orang. Ia terlihat kuat, ceria, dan penuh energi. Namun dibalik itu, ada rasa bersalah yang terus mengendap sebagai seorang ibu.
"Aku bisa menghibur orang lain. Aku bisa bikin orang lain bahagia. Tapi anakku sendiri yang lahir dari rahimku, kok rasanya aku enggak bisa hadir sepenuhnya buat dia," ujarnya.
Ketika Anak-Anak Mulai Bisa ProtesSaat anak-anak masih kecil, Tantri merasa peran sebagai ibu dan musisi bisa dijalani bersamaan. Namun seiring waktu, anak-anak tumbuh dan mulai mampu mengungkapkan perasaannya. Mereka mulai bertanya, memprotes, bahkan menagih kehadiran yang selama ini hilang. Ada satu momen yang terus membekas di ingatan Tantri. Saat ia pulang dalam keadaan sangat lelah setelah bekerja, anaknya menolak membiarkannya beristirahat.
"Bunda harus temenin aku. Masa bunda bisa nyanyi-nyanyi, aku cuma di rumah nungguin bunda," kata sang anak.
Kalimat itu membuatnya hancur. Sebagai ibu pekerja, Tantri mengaku sering merasa anak-anak hanya mendapatkan "sisa energi" yang ia miliki setelah seharian bekerja. Sementara di luar rumah, ia harus memberikan versi terbaik dirinya kepada banyak orang. Rasa bersalah itu semakin besar ketika ia melihat anak-anak mulai menemukan dunianya sendiri tanpa dirinya.
"Akhirnya mereka mencari tempat nyaman yang lain. Dan aku merasa enggak bisa membersamai mereka secara utuh."
Lagu yang Berawal dari CurhatPerasaan-perasaan itulah yang akhirnya mendorong Tantri menulis lagu Ibu Pekerja bersama sang suami. Awalnya, lagu tersebut hanyalah ruang curhat pribadi. Tantri bahkan tidak berpikir lagu itu akan mewakili banyak perempuan lain.
"Aku benar-benar cuma pengin mengeluarkan perasaan yang aku rasain. Dengan nulis dan nyanyi, mungkin perasaannya bisa rilis," ungkapnya.
Namun sang suami melihat sesuatu yang lebih besar. Ia meminta Tantri tidak hanya menuliskan kegelisahan seorang ibu, tetapi juga menghadirkan suara anak-anak yang menguatkan. Dari situlah lahir bagian paling emosional dalam lagu tersebut. Di akhir lagu, suara anak-anak terdengar menyampaikan pesan sederhana namun menenangkan
"Dunia bisa keras pada bunda, tapi bunda adalah superwoman-ku,"
Bagi Tantri, bagian itu menjadi pengingat bahwa di balik rasa bersalah yang terus menghantui, anak-anak tetap melihat perjuangan ibunya.
Ternyata Banyak Ibu Merasakan Hal yang SamaTantri mengaku tidak memiliki strategi promosi khusus saat lagu itu dirilis. Ia hanya mengunggahnya di media sosial dan mengirimkan lagu tersebut kepada teman-teman sesama ibu pekerja. Ia menganggapnya sebagai hadiah kecil untuk mereka yang setiap hari berjuang menjalani peran ganda. Namun yang terjadi di luar dugaan.
Pesan demi pesan masuk. Cerita demi cerita berdatangan. Ada sudut pandang anak, ibu tunggal, hingga orang tua yang merawat anak berkebutuhan khusus.
"Aku pikir ini cuma kegelisahan pribadi. Ternyata banyak banget yang merasakan hal yang sama," kata Tantri.
Salah satu cerita yang paling membekas datang dari seorang ibu yang baru kehilangan suami tiga bulan sebelumnya. Kini ia harus membesarkan tiga anak seorang diri sambil bekerja. Ada pula seorang perempuan yang memeluk Tantri sambil menangis karena harus berangkat menjadi pekerja migran ke Singapura dan meninggalkan bayi berusia tujuh bulan selama tiga tahun.
Di hadapan cerita-cerita itu, Tantri merasa perjuangannya bukanlah yang paling berat.
“Aku masih bisa ketemu anak-anakku setiap hari. Masih bisa lihat mereka tidur, masih bisa nemenin sarapan. Sedangkan ada ibu-ibu yang harus berpisah bertahun-tahun dengan anaknya," ucap ibu 2 anak ini.
Lewat lagu Ibu Pekerja, Tantri ingin memberikan sesuatu yang selama ini jarang dimiliki banyak ibu: ruang untuk mengaku lelah. Menurutnya, banyak perempuan terbiasa menutupi kesedihan, rasa bersalah, dan kelelahan demi terlihat kuat di depan keluarga. Padahal, ibu juga manusia.
Ia percaya tidak ada ibu yang bekerja karena ego semata. Banyak yang harus membantu ekonomi keluarga, menjadi tulang punggung keluarga besar, atau berjuang demi masa depan anak-anaknya. Karena itu, Tantri berharap para ibu tidak terus-menerus menghakimi diri sendiri.
"Kalau memang harus bekerja, jalani. Karena ini juga untuk anak-anak."
Untuk Kara dan ArkaDi penghujung wawancara, ketika ditanya apa yang ingin ia sampaikan kepada kedua anaknya, suara Tantri mulai bergetar. Ia mengaku tidak selalu bisa hadir saat anak-anak membutuhkannya. Tidak selalu bisa menemani tidur, mengantar sekolah, atau menyiapkan sarapan setiap pagi. Namun ada satu hal yang ingin ia pastikan mereka pahami.
"Semua ini buat kalian," katanya sambil menahan air mata.
Mungkin itulah alasan lagu Ibu Pekerja begitu menyentuh banyak hati. Karena di balik setiap liriknya, tersimpan suara-suara yang jarang terdengar: suara ibu yang terus berjuang, terus merasa bersalah, tetapi tetap memilih bertahan demi orang-orang yang paling mereka cintai.




