Ketua KPK Sebut Sempat Bertemu Kepala BGN, Tetap Butuh Bahas Kajian

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Setyo Budiyanto mengatakan, sempat bertemu dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang di Sentul, Bogor, beberapa waktu lalu.

Setyo mengatakan, saat bertemu Nanik, Kepala BGN itu menyatakan bahwa lembaganya tetap membutuhkan koordinasi dengan KPK untuk membahas kajian-kajian tata kelola Makan Gizi Gratis (MBG).

“Saya sempat bertemu dan berbicara dengan Kepala BGN pada saat kegiatan di Sentul 2 minggu lalu ya, gitu. Jadi, beliau menyampaikan bahwa tetap membutuhkan dan akan bersinergi dengan KPK khususnya Kedeputian Pencegahan untuk melakukan atau membahas kajian-kajian,” kata Setyo, di kantor LAN, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Baca juga: KPK Periksa Nuruzzaman Eks Stafsus Yaqut sebagai Saksi Kasus Kuota Haji

Setyo mengatakan, Kepala BGN yang baru tentu akan membuat beberapa kebijakan yang harus disesuaikan.

Selain itu, KPK sudah menyampaikan hasil kajian tata kelola MBG ke BGN.

“Setidaknya kajian ini kan sudah diketahui oleh Kepala BGN seperti apa yang sudah disampaikan pada laporan tahunan. Tetapi, sebenarnya secara tiktokan itu mereka sudah komunikasi,” ujar dia.

Baca juga: Di Hadapan Jajaran Pemda, Ketua KPK: Makelar Kasus Enggak Sakti-sakti Amat...

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Setyo mengatakan, yang paling utama yang harus dilakukan BGN saat ini adalah perubahan sistem dan pelibatan masyarakat agar program MBG transparan dan bisa diawasi masyarakat.

“Kalau perlu di daerah yang jangkauannya luas pun BGN harus juga mau melibatkan mungkin dari pihak-pihak pengawas di sana, ya bahkan kalau perlu melibatkan masyarakat lah, sehingga masyarakat itu tercerahkan apa sih programnya, apa sih kegiatannya, apa sih menunya, berapa sih uangnya, dan seterusnya,” ucap dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Intip Uniknya Tradisi Tahun Baru Islam di Jateng, Kenduri Tumpeng Magelang hingga Kupatan Semarang
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Progres Kesepakatan Damai AS-Iran Jadi Sentimen Tertekannya Harga Karet dan CPO
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Diskusi di UGM Dibubarkan Mahasiswa, Qodari: Demokrasi Wajib Ada Dialog
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
CDC: Wabah Ebola di RD Kongo Bisa Menjadi yang Terburuk dalam Sejarah
• 10 jam laluokezone.com
thumb
Menakar Dampak Lonjakan Deposito Valas Terhadap Likuiditas Rupiah Perbankan
• 8 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.