Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, mineral kritis akan menjadi penentu daya saing ekonomi global, sehingga Indonesia perlu mengelola sumber daya mineral dan batu bara secara optimal, berkelanjutan, serta bernilai tambah.
"Mineral kritis akan menjadi salah satu penentu utama daya saing ekonomi global di masa depan," kata Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba), Kementerian ESDM Cecep Mochammad Yasin di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, saat ini sedang berada pada periode perubahan yang sangat dinamis, di mana ketegangan geopolitik, disrupsi rantai pasok global, perubahan iklim, serta percepatan transisi energi telah mengubah landscape energi dan mineral dunia secara fundamental.
Ia mengatakan bahwa dalam situasi seperti saat ini, ketahanan energi tidak lagi hanya mengenai ketersediaan energi, tetapi juga kemampuan suatu negara mengendalikan sumber daya strategis yang menjadi fondasi teknologi masa depan.
Baca juga: Presiden Prabowo undang Jerman garap mineral kritis dan tanah jarang
Indonesia, kata Cecep, memiliki modal yang kuat untuk menghadapi perubahan tersebut, di mana Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia dan mampu bertahan 31 tahun dengan asumsi produksi per tahun 190 juta ton.
Selain itu ada juga cadangan timah yang setara 22 tahun dengan produksi per tahun 65 ribu ton dan menjadikan Indonesia sebagai pemilik cadangan timah terbesar kedua di dunia.
"Selanjutnya cadangan bauksit terbesar keempat dunia, serta tembaga, emas, perak, dan besi yang cukup," ujar Cecep saat memberikan sambutan pada acara Dialog Mineral Kritis yang diselenggarakan oleh Indef.
Menurut dia, Indonesia juga memiliki cadangan batu bara terbesar di dunia dan masih berperan penting dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Baca juga: Kementerian ESDM: RKAB instrumen penting pengendalian mineral kritis
Cecep mengatakan, isu kedaulatan energi saat ini tidak dapat dipisahkan dari kemampuan mengelola sumber daya mineral dan batu bara secara optimal, berkelanjutan, dan bernilai tambah.
"Tren global menunjukkan adanya perubahan struktur kebutuhan energi, permintaan terhadap mineral kritis seperti litium, kobalt, grafit, tembaga, dan rare earth elements terus meningkat hingga tahun 2040 untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik, baterai, energi terbarukan, dan jaringan listrik modern," katanya menambahkan.
"Mineral kritis akan menjadi salah satu penentu utama daya saing ekonomi global di masa depan," kata Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba), Kementerian ESDM Cecep Mochammad Yasin di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, saat ini sedang berada pada periode perubahan yang sangat dinamis, di mana ketegangan geopolitik, disrupsi rantai pasok global, perubahan iklim, serta percepatan transisi energi telah mengubah landscape energi dan mineral dunia secara fundamental.
Ia mengatakan bahwa dalam situasi seperti saat ini, ketahanan energi tidak lagi hanya mengenai ketersediaan energi, tetapi juga kemampuan suatu negara mengendalikan sumber daya strategis yang menjadi fondasi teknologi masa depan.
Baca juga: Presiden Prabowo undang Jerman garap mineral kritis dan tanah jarang
Indonesia, kata Cecep, memiliki modal yang kuat untuk menghadapi perubahan tersebut, di mana Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia dan mampu bertahan 31 tahun dengan asumsi produksi per tahun 190 juta ton.
Selain itu ada juga cadangan timah yang setara 22 tahun dengan produksi per tahun 65 ribu ton dan menjadikan Indonesia sebagai pemilik cadangan timah terbesar kedua di dunia.
"Selanjutnya cadangan bauksit terbesar keempat dunia, serta tembaga, emas, perak, dan besi yang cukup," ujar Cecep saat memberikan sambutan pada acara Dialog Mineral Kritis yang diselenggarakan oleh Indef.
Menurut dia, Indonesia juga memiliki cadangan batu bara terbesar di dunia dan masih berperan penting dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Baca juga: Kementerian ESDM: RKAB instrumen penting pengendalian mineral kritis
Cecep mengatakan, isu kedaulatan energi saat ini tidak dapat dipisahkan dari kemampuan mengelola sumber daya mineral dan batu bara secara optimal, berkelanjutan, dan bernilai tambah.
"Tren global menunjukkan adanya perubahan struktur kebutuhan energi, permintaan terhadap mineral kritis seperti litium, kobalt, grafit, tembaga, dan rare earth elements terus meningkat hingga tahun 2040 untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik, baterai, energi terbarukan, dan jaringan listrik modern," katanya menambahkan.





