Jakarta menempati peringkat kota dengan kualitas udara terburuk kedua di dunia pagi tadi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengungkap sejumlah faktor yang memengaruhi kualitas udara di Ibu Kota.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi mengatakan kualitas udara bersifat dinamis dan dapat berubah dari waktu ke waktu. Dia menjelaskan kondisi pada satu hari tertentu perlu dilihat dalam konteks tren yang lebih panjang, bukan hanya berdasarkan peringkat harian.
"Kualitas udara bersifat dinamis dan dapat berubah dari waktu ke waktu, sehingga kondisi pada satu hari tertentu perlu dilihat dalam konteks tren yang lebih panjang, bukan semata-mata berdasarkan peringkat harian," kata Dudi saat dimintai konfirmasi detikcom, Rabu (17/6/2026).
Dudi menjelaskan Jakarta saat ini tengah memasuki musim kemarau yang berlangsung pada periode Juni hingga September. Secara historis, periode tersebut memang menjadi masa ketika kualitas udara di Ibu Kota cenderung mengalami penurunan.
Menurutnya, berkurangnya curah hujan dan rendahnya kecepatan angin saat musim kemarau membuat polutan di udara lebih sulit terdispersi. Akibatnya, polutan cenderung terakumulasi dan menyebabkan kualitas udara memburuk.
"Pada musim kemarau, curah hujan berkurang dan kecepatan angin relatif rendah sehingga polutan di udara lebih sulit terdispersi dan cenderung terakumulasi," ujarnya.
Dudi juga menyinggung kondisi kualitas udara Jakarta yang sempat membaik pada tahun 2020 saat pandemi COVID-19. Kala itu, aktivitas masyarakat dan mobilitas kendaraan menurun sehingga emisi yang dihasilkan ikut berkurang.
Namun, seiring pemulihan aktivitas ekonomi dan meningkatnya mobilitas masyarakat dalam beberapa tahun terakhir, konsentrasi polutan kembali meningkat. Kondisi tersebut, kata Dudi, diperkuat oleh fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering.
"Seiring pulihnya aktivitas ekonomi dan meningkatnya mobilitas pada tahun-tahun berikutnya, konsentrasi polutan kembali meningkat. Pada tahun ini, kondisi tersebut diperkuat oleh pengaruh fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan lebih kering, sehingga memperbesar potensi terjadinya penurunan kualitas udara," tuturnya.
(bel/ygs)





