Program Kompor Listrik dan CNG Berpotensi Hemat 30% Penggunaan LPG

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Praktisi Migas sekaligus Mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo mengatakan program kompor listrik dan penyediaan gas dari CNG 3kg dapat menghemat 30% penggunaan liquified petroleum gas (LPG). Tak hanya penggunaan, program ini juga turut mengurangi jumlah subsidi yang dikeluarkan pemerintah untuk LPG.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengusulkan anggaran Rp 815,56 miliar untuk program kompor listrik pada 2027. Kompor listrik masuk dalam program strategis infrastruktur untuk mendukung ketahanan energi di tahun depan. Adapun gas CNG 3 kg juga diprogramkan untuk menjadi alternatif penggunaan gas selain LPG.

Seperti yang diketahui, mayoritas pasokan LPG Indonesia dipenuhi melalui impor dari berbagai negara. Jumlah produksi LPG dari domestik hanya mencapai 1,9 juta ton pada 2024. Padahal angka kebutuhan LPG secara keseluruhan lebih dari 8 juta ton.

“Hitungan saya, (jika kedua program dijalankan) akan menghemat 30% penggunaan LPG. Saat ini nilai subsidi LPG di Indonesia mencapai Rp 87 triliun, dengan hitungan ini maka ada (potensi) penghematan Rp 26,1 triliun,” kata Hadi kepada Katadata, Rabu (17/6).

Menurut Hadi, untuk mendukung efektivitas mengurangi penggunaan LPG maka pemerintah harus mewujudkan kedua program ini secara masif, disertai dengan dukungan seluruh pihak baik dari hulu hingga hilir.

Dia menyebut baik program kompor listrik maupun tabung CNG bisa dilakukan berbarengan melalui penugasan kepada PLN dan Pertamina. Namun hal ini harus dilakukan secara bertahap, sebab pengadaan tabung CNG membutuhkan waktu 3-4 bulan.

Meski keduanya sama-sama bisa mengurangi penggunaan LPG, namun menurut Hadi program yang paling efektif adalah konversi LPG ke CNG. Hal serupa juga diungkapkan oleh Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi.

Dia mengatakan peran CNG secara teori dapat langsung menggantikan LPG sebab sama-sama memakai tabung dan pola distribusi energi rumah tangga. Program ini disebut bisa menjadi proyek percontohan.

“Pemerintah sudah membicarakan rencana impor 100.000 tabung CNG 3 kg untuk pilot project. CNG 3 kg juga lebih mudah dikomunikasikan sebagai pengganti tabung karena bentuk pemakaiannya dekat dengan LPG,” kata Syafruddin kepada Katadata.

Kendati demikian, dia menyebut program ini juga memiliki risiko sebab CNG merupakan gas  bertekanan tinggi yang membutuhkan tabung, regulator, standar keselamatan, dan rantai pengisian yang jauh lebih kompleks.

Tak hanya itu, Syafruddin mengatakan program CNG 3 kg memiliki kelemahan fiskal besar karena tabungnya mahal. Harga tabung CNG berbahan serat karbon dapat 10–20 kali lebih mahal daripada tabung LPG berbahan pelat baja biasa. Pemerintah juga menargetkan bahan polimer berlapis komposit serat karbon dan fiberglass karena tekanan CNG menuntut material serta regulator khusus.   

“Jika negara harus membiayai seluruhnya maka penghematan subsidi LPG bisa tertunda sangat lama,” ujarnya.

Di sisi lain meski tak seefektif CNG, namun kompor listrik juga dinilai efisien jika listrik tersedia, daya rumah tangga memadai, dan subsidi perangkat dibuat sangat selektif.

Dia menyampaikan kompor listrik tidak membutuhkan tabung dan rantai distribusi gas, sehingga biaya sistemnya bisa lebih rendah pada wilayah yang jaringan listriknya siap. 

Kendati demikian, kompor listrik tidak selalu efektif bagi UMKM kuliner, rumah tangga berdaya listrik rendah, dan daerah dengan pasokan listrik tidak stabil. 

“Jadi, dari sisi anggaran nasional, kompor listrik lebih menjanjikan untuk segmen siap listrik. Tapi dari sisi pengurangan LPG langsung pada pola konsumsi tabung, CNG lebih mudah diuji, tetapi lebih mahal dan lebih berisiko secara fiskal,” katanya.

Menurutnya, untuk mengatasi seluruh risiko dari kedua program, pemerintah bisa menggunakan strategi campuran. Melaksanakan dan menguji program CNG 3kg pada wilayah dengan akses gas dan distribusi terkendali. Adapun kompor listrik diarahkan ke rumah tangga perkotaan, apartemen, kawasan dengan listrik andal, dan pengguna yang tidak terlalu sensitif terhadap biaya awal.

“Kedua wacana ini dapat mengurangi penggunaan LPG, tetapi efektivitasnya sangat berbeda menurut kesiapan infrastruktur, biaya awal, dan perilaku rumah tangga,” ucapnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Tak Lanjutkan Penyelidikan MBG Usai Kejagung Tetapkan Dadan Cs Jadi Tersangka
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Jakarta Fair 2026 Banjir Promo Motor: Yamaha, Honda, dan Suzuki Tebar Diskon hingga Hadiah Menarik
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Pemkab Takalar Launching Inovasi “Assamaturu” Bupati Daeng Manye Ajak Warga Bersatu Perangi TBC
• 15 jam laluharianfajar
thumb
idEA: Algoritma Bantu Konsumen Temukan Produk Relevan di Marketplace
• 7 jam lalukatadata.co.id
thumb
Dekan FISIP Unas Buru Oknum Pencatut Nama dan Atribut Kampus yang Ikutan BEM Bersatu
• 8 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.