Inflasi AS Masih Lampaui 2%, Ketua The Fed Janji Wujudkan Stabilitas Harga

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh menegaskan komitmen bank sentral Amerika Serikat (AS) untuk mengembalikan inflasi ke target 2%, menyusul tekanan harga yang masih bertahan di atas sasaran selama lebih dari lima tahun.

Dalam konferensi pers pertamanya usai rapat Federal Open Market Committee (FOMC), Warsh mengatakan tingginya harga masih menjadi beban bagi masyarakat AS. Meski demikian, dia menegaskan The Fed memiliki tekad bulat untuk memulihkan stabilitas harga.

"Harga yang terus tinggi menjadi beban bagi rakyat Amerika. Namun, masa lalu tidak harus menjadi penentu masa depan. Saya dengan senang hati melaporkan bahwa anggota FOMC memiliki pandangan yang jelas dan bulat. Komite ini akan mewujudkan stabilitas harga," kata Warsh, Kamis (18/6/2026).

Warsh mengakui inflasi masih berada jauh di atas target jangka panjang The Fed sebesar 2%. Kondisi tersebut telah berlangsung selama lebih dari lima tahun dan menjadi salah satu perhatian utama bank sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter.

"Kami menyadari bahwa inflasi telah berada jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2% selama lebih dari lima tahun," ujarnya.

Dalam rapat yang berlangsung pada Rabu (17/6/2026) waktu setempat atau Kamis (18/6/2026) dini hari WIB, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan federal funds rate pada kisaran 3,50%-3,75%. Keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan bank sentral AS akan kembali menahan biaya pinjaman.

Baca Juga

  • Kevin Warsh Mulai Reformasi The Fed, Bentuk 5 Gugus Tugas Kebijakan Moneter
  • Tok! The Fed Tahan Suku Bunga Acuan di Level 3,5%-3,75%
  • The Fed Diproyeksi Tahan Suku Bunga Acuan, Pidato Perdana Kevin Warsh Dinanti

Menurut Warsh, aktivitas ekonomi AS masih berkembang dengan laju yang solid meskipun ketidakpastian global meningkat akibat konflik di Timur Tengah. Dia mengatakan pertumbuhan produktivitas dan investasi modal tetap kuat, sementara penambahan lapangan kerja berjalan seiring dengan pertumbuhan angkatan kerja dan tingkat pengangguran relatif tidak berubah.

Dalam proyeksi ekonomi terbaru, The Fed memperkirakan produk domestik bruto (PDB) riil AS tumbuh 2,2% pada tahun ini dan 2,3% pada tahun depan. Sementara itu, inflasi personal consumption expenditures (PCE) secara keseluruhan diproyeksikan mencapai 3,6% pada tahun ini sebelum melandai menjadi 2,3% pada tahun depan.

Adapun tingkat pengangguran diperkirakan berada di sekitar 4,3%. Median peserta FOMC menilai tingkat suku bunga federal funds rate yang sesuai berada pada level 3,8% pada akhir tahun ini dan 3,6% pada akhir tahun depan.

Keputusan The Fed mempertahankan suku bunga tersebut sejatinya telah diperkirakan oleh pelaku pasar sebelumnya. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas bank sentral AS menahan suku bunga pada pertemuan kali ini mencapai 99%, sehingga perhatian investor lebih tertuju pada pernyataan perdana Warsh sebagai Ketua The Fed.

Ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter ke depan pun masih terpecah. Survei terbaru Bank of America menunjukkan 40% manajer investasi memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga dalam 12 bulan mendatang, meningkat tajam dari 16% pada Mei.

Sejumlah ekonom sebelumnya memperkirakan Warsh akan berupaya meminimalkan kejutan pada pertemuan perdananya sebagai pimpinan Federal Reserve. Kepala Ekonom AS Barclays Marc Giannoni mengatakan Warsh kemungkinan akan fokus membangun kredibilitasnya sebagai ketua baru FOMC.

"Kami memperkirakan Ketua Warsh akan berupaya meminimalkan kejutan dan gangguan pasar saat membangun kredibilitasnya sebagai ketua baru FOMC," tulis Giannoni seperti dikutip Investopedia, Rabu (17/6/2026).

Wakil Kepala Ekonom BMO Michael Gregory juga menilai pertemuan Juni menjadi awal dari upaya Warsh mendorong perubahan di The Fed, meski prosesnya diperkirakan berlangsung secara bertahap.

"Pertemuan Juni akan menjadi awal dari upaya Warsh untuk mendorong perubahan di The Fed. Namun proses tersebut akan lebih bersifat evolusioner daripada revolusioner," tulis Gregory.

Pelaku pasar juga menyoroti keberlanjutan publikasi proyeksi suku bunga atau dot plot mengingat Warsh selama ini dikenal sebagai salah satu pengkritik instrumen tersebut.

Pandangan tersebut sejalan dengan perkiraan Ekonom Senior Bank of America Aditya Bhave sebelumnya. Dia menilai Warsh kemungkinan akan mengambil jalan tengah dengan tidak menyampaikan proyeksi pribadinya, tetapi tetap mempertahankan publikasi Summary of Economic Projections (SEP).

"Ini bisa menjadi situasi yang menguntungkan bagi Warsh. Ia dapat melemahkan peran SEP tanpa harus membuat anggota komite lainnya kecewa dengan menghapusnya secara langsung," tulis Bhave.

Dalam konferensi pers perdananya, Warsh memang memilih tidak menyampaikan proyeksi ekonominya sendiri, meskipun tetap mempertahankan publikasi SEP yang menjadi acuan pasar untuk membaca arah kebijakan moneter The Fed.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Beri Tenggat Waktu Pekan Depan, Ketua Satgas PRR Minta Pemda Tuntaskan Penyaluran Hibah Bencana
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Belanja Pegawai Polri Naik Rp 4,5 Triliun, Dipicu Perpanjangan Batas Usia Pensiun
• 13 jam lalukompas.id
thumb
Cerita Lila Tuai Respons Emosional, Sara Wijayanto: Proyek yang Sangat Personal
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Tanda Seseorang Mudah Bergaul
• 11 jam lalubeautynesia.id
thumb
Kondisi Terkini Andrie Yunus Diungkap KontraS, Masih Jalani Rawat Jalan dan Bersiap Operasi Mata
• 6 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.