HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Komunitas seni inklusif di Makassar menghadirkan pertunjukan paduan suara teman tuli bertajuk GEMPATA (Gema Tanpa Kata), sebuah karya yang mengangkat perjalanan dari rasa ketidaksetaraan menuju harmonisasi dan kebersamaan. Pertunjukan ini digelar pada 13 Juni 2026 sebagai wujud ekspresi seni yang menegaskan bahwa musik dapat dirasakan melampaui batas pendengaran.
Kegiatan tersebut merupakan hasil pelaksanaan program fasilitasi Dana Hibah Dana Indonesiana 2025 dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Dana Indonesiana merupakan bentuk dukungan pemerintah bagi para pelaku budaya melalui pemanfaatan Dana Abadi Kebudayaan yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan.
Program ini digagas oleh Alifullah sebagai pengusul kegiatan dan didukung tim kreatif yang terdiri atas Yurdika sebagai komposer serta Ariyanti Sultan sebagai koreografer. Kolaborasi tersebut menghasilkan sebuah pertunjukan paduan suara yang unik dan inspiratif.
Pelaksanaan GEMPATA turut mendapat dukungan dari Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia, Studio Ranarira, Institut Kesenian Makassar, serta Institut Seni Budaya Indonesia Sulawesi Selatan.
Selama kurang lebih 35 kali pertemuan latihan, para peserta tidak hanya mempelajari teknik vokal. Mereka juga menjalani berbagai proses pengembangan diri, mulai dari olah tubuh, olah napas, olah rasa, relaksasi, coaching vokal, hingga penyusunan komposisi suara. Metode ini dirancang secara khusus agar teman tuli dapat merasakan musik melalui getaran, gerak tubuh, serta interaksi sosial yang terbangun selama proses kreatif.
Pertunjukan GEMPATA dibagi ke dalam lima babak yang menggambarkan perjalanan emosional para peserta.
Pada babak pertama, para peserta memasuki panggung satu per satu sebagai representasi pengalaman hidup yang kerap dipandang tidak setara dengan orang lain. Babak kedua menampilkan proses saling mengenal dan membangun komunikasi melalui bahasa isyarat.
Memasuki babak ketiga, suasana menjadi lebih dramatik ketika salah seorang peserta mencoba bernyanyi dan mengajak teman-temannya untuk ikut serta. Mereka kemudian bernyanyi bersama hingga akhirnya kelelahan dan terjatuh, menggambarkan tantangan yang dihadapi dalam mengekspresikan diri melalui musik.
Pada babak keempat, seorang konduktor hadir membangunkan mereka dan mengajak untuk bernyanyi dalam format paduan suara. Kehadiran konduktor menjadi simbol pendampingan, penguatan, dan harapan.
Puncak pertunjukan hadir pada babak kelima, ketika seluruh peserta berhasil menyatukan suara dalam sebuah harmonisasi yang unik. Momen tersebut menjadi simbol keberhasilan melampaui keterbatasan dan membangun kebersamaan melalui seni.
“Gema Tanpa Kata ingin menyampaikan bahwa musik bukan hanya tentang suara yang terdengar, tetapi juga getaran rasa dan kebersamaan yang dirasakan,” ujar Alifullah, penerima Dana Hibah Dana Indonesiana.
Melalui pertunjukan ini, GEMPATA diharapkan menjadi ruang edukasi publik mengenai pentingnya inklusivitas dan aksesibilitas dalam dunia seni. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat memperkuat ekosistem kebudayaan nasional yang lebih setara, terbuka, dan menghargai keberagaman kemampuan setiap individu. (*/)





