Saham Big Caps TLKM hingga BBRI Tekan IHSG, Pasar Nantikan RDG BI

bisnis.com
8 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona merah pada pembukaan perdagangan hari ini, Kamis (18/6/2026). Pelemahan IHSG ditimpa oleh harga saham TLKM, EMTK, hingga BBRI yang anjlok.

Adapun, investor menunggu sejumlah agenda penting yang berpotensi menentukan arah pasar, mulai dari keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) hingga hasil tinjauan aksesibilitas pasar oleh MSCI.

Berdasarkan data IDX Mobile pada Pukul 09.05 WIB, IHSG dibuka melemah 1,20% atau turun 74,40 poin ke level 6.191,89. Terpantau sebanyak 329 saham melemah, 202 saham menguat, dan 428 saham stagnan.

Pelemahan IHSG terutama dipicu oleh tekanan pada saham-saham unggulan di Indeks LQ45 yakni saham PT Telkom Indonesia (persero) Tbk, (TLKM) turun 7,77% ke level Rp2.730, disusul saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) melemah 3,45% ke level Rp560, kemudian saham PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk. (BBRI) turun 2,92% ke level Rp2.990.

Baca Juga : IHSG Dibuka Melemah 1,01% ke Level 6.157,74, Kapitalisasi BEI Rp10.743,85 Triliun

Selanjutnya pelemahan terjadi pada saham PT Bank Mandiri (persero) Tbk. (BMRI) turun 2% ke level Rp4.400, dan saham PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk. (BBNI) turun 1,84% ke level Rp3.730.

Sebaliknya saham yang mengalami penguatan adalah  saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) naik  2,79% ke level Rp368, saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) naik 1,79% ke level Rp171, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) naik 1,34% ke level Rp3.770, saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) naik 0,9% ke level Rp1.700, saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) naik 0,78% ke level Rp22.725.

Tim riset Phintraco Sekuritas memperkirakan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih dibayangi volatilitas dalam beberapa hari ke depan seiring investor menunggu sejumlah agenda penting yang berpotensi menentukan arah pasar, mulai dari keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) hingga hasil tinjauan aksesibilitas pasar oleh MSCI.

Tim riset Phintraco Sekuritas menilai perhatian investor saat ini tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Kamis (18/6), MSCI Global Market Accessibility Review dan rebalancing indeks FTSE pada Jumat (19/6), serta MSCI Annual Market Classification Review yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026.

Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah juga masih berada dalam tekanan. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,21% ke level Rp17.762 per dolar AS di pasar spot pada Rabu (17/6).

"Sehingga diperkirakan IHSG bergerak sideways dengan kecenderungan melemah pada rentang 6.100 hingga 6.350," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Kamis (18/6).

Fokus utama pasar domestik hari ini adalah keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia. Berdasarkan konsensus pasar, BI diperkirakan kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.

Meski demikian, pandangan para ekonom masih terbelah. Sebagian menilai BI memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga mengingat tekanan inflasi mulai mereda sejalan dengan turunnya harga minyak dunia dan menurunnya tensi geopolitik global.

Namun, sebagian lainnya memperkirakan bank sentral masih akan melanjutkan pengetatan kebijakan moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang masih berada di bawah tekanan.

Menurut Phintraco, prioritas utama BI saat ini tetap menjaga stabilitas eksternal dan memperkuat rupiah. Karena itu, peluang kenaikan suku bunga masih terbuka meskipun siklus pengetatan agresif sebelumnya telah dilakukan.

Selain RDG BI, pelaku pasar juga menanti hasil evaluasi MSCI terkait aksesibilitas pasar modal Indonesia yang menjadi sorotan sejak beberapa tahun terakhir.

Phintraco memetakan tiga skenario yang berpotensi terjadi dari pengumuman MSCI.

Skenario pertama, MSCI tetap mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market (EM), namun masih membekukan masuknya saham baru ke indeks MSCI. Kondisi ini diperkirakan memberikan dampak netral hingga cenderung positif bagi pasar karena tidak memunculkan kejutan negatif.

Skenario kedua, MSCI menurunkan status Indonesia menjadi Frontier Market. Jika hal itu terjadi, pasar berpotensi menghadapi tekanan besar akibat meningkatnya risiko capital outflow dari investor global yang mengikuti indeks acuan MSCI.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ketua KPK Pastikan Penyelidikan Kasus MBG Dihentikan
• 18 jam laluokezone.com
thumb
PDIP Minta BPBD Sulteng Bergerak Cepat Pascagempa M6,7 di Palu
• 4 jam lalujpnn.com
thumb
Purbaya Bertemu Menkeu China, Perkuat Akses Pembiayaan
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Tak Keluar Sepeserpun, Real Madrid Resmi Boyong Ibrahima Konate dari Liverpool
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
Provident (PALM) Sebut Gejolak Global dan Regulasi Jadi Tantangan Investasi 2026
• 6 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.