Bank Indonesia (BI) memperkirakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan komoditas dalam negeri akan memberikan tambahan tekanan terhadap inflasi sekitar 0,25 persen tahun ini.
Aida S. Budiman Deputi Gubernur BI mengatakan tekanan inflasi berasal dari rambatan kenaikan harga minyak dan komoditas global ke dalam negeri atau imported inflation.
“Untuk sementara hitungan kami, dampak penyesuaian harga tersebut berkontribusi sekitar 0,25 persen terhadap inflasi,” kata Aida dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (18/6/2026).
Menurut Aida, dampak kenaikan harga global terlihat pada kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah. Hal itu tercermin dari penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dilakukan belakangan ini.
“Tentunya kalau yang rambatan global langsung kita lihat kepada administered prices atau harga-harga yang ditentukan oleh pemerintah. Seperti kemarin ini ada perubahan harga BBM non subsidi ada yang naik seperti Pertamax dan Pertamax Turbo, tetapi ada juga yang turun yaitu Dexlite dan Pertamina Dex. Tentunya ini akan akan berfluktuasi tergantung dari harga global tadi,” katanya.
Selain faktor global, BI juga mewaspadai potensi tekanan inflasi dari gangguan cuaca yang dapat memengaruhi produksi dan pasokan pangan. “Sementara nanti El Nino mungkin sekitar akhir Juni sampai Oktober atau November. Tetapi berbagai macam koordinasi juga sudah dilakukan, termasuk nanti persiapan di daerah,” ujarnya.
Meski terdapat sejumlah risiko, BI memastikan inflasi masih berada dalam jalur yang terkendali. Proyeksi inflasi 2026 diperkirakan tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus satu persen yang ditetapkan bersama pemerintah.
Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, BI terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi pangan melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
“Dan kemudian tentunya kita terus melakukan koordinasi seperti di volatile food ada gerakan pengendalian inflasi pangan sejahtera. berkoordinasi dengan TPID dan TPIP di seluruh daerah dan yang sudah pasti tentunya respon bauran kebijakan termasuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” pungkasnya.(lea/bil/ham)



