Warga Kuala Kampar Minta Sekat Kanal Pencegah Karhutla Dirawat Berkelanjutan

detik.com
13 jam lalu
Cover Berita
Kuala Kampar -

Menteri Lingkungan Hidup (LH) Mohammad Jumhur Hidayat meninjau pembangunan sekat kanal di Pulau Mendol, Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau. Kehadiran pemerintah pusat melalui pembangunan infrastruktur pengendali air tersebut disambut positif oleh masyarakat setempat.

Salah seorang warga Desa Sungai Perak, Erwan (49), mengaku senang karena wilayah Kuala Kampar akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah. Menurutnya, kawasan tersebut selama ini kerap tertinggal dibandingkan daerah lain di Riau.

"Kalau kami itu sebenarnya ada pembangunan ini diperhatikan oleh pemerintah ini kami bertambah senang, karena tempat kami ini tertinggal. Coba kecamatan yang tertua, mulai dari Pulau Lawan buka, sini dulu buka, baru ada sana (Pangkalan Kerinci), baru ada Kerinci. Kalau nggak ada sini, nggak ada sana tuh. Tapi di sini yang paling tertinggal," kata Erwan saat ditemui, Kamis (18/6/2026).

Erwan menuturkan pembangunan sekat kanal sangat penting bagi masyarakat yang tinggal di kawasan gambut. Ia mengaku kebun miliknya beberapa kali hangus akibat kebakaran lahan.

Warga di Desa Sungai Perak, Erwan Foto: Rumondang/detikcom

"Saya bikin kebun saya itu, empat kali nanamnya tuh. Nanam tahun ini, hangus. Tahun depan nanam lagi. Tahun depan hangus lagi, tahun depannya lagi nanam. Karena awak ini kuat, semangat itu kuat, nanam terus, akhirnya dapat juga berbuah," ujarnya.

Meski menyambut baik pembangunan sekat kanal, Erwan berharap proyek tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial. Ia meminta agar pemerintah memastikan adanya perawatan dan pengawasan setelah pembangunan selesai.

Dia menilai keberadaan petugas yang menjaga serta merawat pintu air sangat penting agar fungsi sekat kanal tetap optimal dalam jangka panjang.

"Bagus juga ada bangunan pintu air gini, tapi dilaksanakan bangunannya. Nanti setiap ada pula yang penjaganya kan, perawatan," tuturnya.

"Ini kadang-kadang sudah dibangun, biarin. Nggak ada perawatan, sama dengan tidak. Sama cuma menyemangatkan kasih angin segar saja dengan masyarakat, kan gitu," lanjut Erwan.

Baca juga: Cegah Karhutla Sumatera-Kalimantan, Menteri LH Siapkan Hujan Buatan

Menurut Erwan, masyarakat Kuala Kampar siap mendukung program pemerintah. Hal itu dibuktikan dengan gotong royong warga yang membantu pembangunan sekat kanal sehari sebelumnya.

"Kami paling suka kalau ada bangunan, kami support. Tengok kami, tahan kami satu hari semalam tuh tak bekerja kegiatan kami, kami satu masyarakat sini bantu semua. Tolong, bantu semua, tak ada biaya, kami mengeluarkan," katanya.

Ia menjelaskan, sekat kanal berfungsi sebagai sistem pengatur tata air yang sangat penting bagi produktivitas kebun kelapa dan karet milik warga. Selama ini kanal-kanal yang terbuka tanpa sekat membuat air di kubah gambut mengalir deras ke laut. Akibatnya, lahan menjadi kering saat musim kemarau dan tergenang ketika musim hujan.

Dengan adanya sekat kanal, tinggi muka air tanah dapat dipertahankan sehingga kelembapan lahan tetap terjaga dan risiko kebakaran dapat ditekan.

"Di sini kalau musim hujan tergenang tuh, terendam, banjir. Jadi kalau ada kanal itu kan nanti kan dibersihkan pemerintah, jadi baguslah daerah kami ini, kelapa-kelapa jadi bagus," ucapnya.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan warga lainnya, Kasogi. Ia berharap pembangunan sekat kanal tidak berhenti setelah kunjungan pejabat berakhir.

Baca juga: Didampingi Kapolda Riau, Menteri LH Cek Kanal Cegah Karhutla di Pelalawan

"Tolonglah ke depan, macam kanal ini Pak, kalau bapak-bapak tidak hadir, Pak Menteri tidak hadir, mungkin kegiatan ini akan stop (berhenti). Ketika bapak pulang, hari ini akan stop. Inilah kenyataan yang ada," ujar Kasogi.

Ia berharap pembangunan sekat kanal diperluas karena masih banyak parit di Kuala Kampar yang membutuhkan penanganan serupa agar lahan gambut tidak mengalami kekeringan.

Selain itu, Kasogi juga menyoroti keberlanjutan Masyarakat Peduli Api (MPA). Menurutnya, kelompok tersebut selama ini belum mendapatkan dukungan yang memadai, baik dari sisi anggaran maupun peralatan pemadam kebakaran.

"Karena satu, kita alat tidak ada, Pak. Terutama alat pemadam kebakaran. Ketika ada kebakaran lahan, yang kita gunakan hanya tangki racun (semprotan hama), Pak. Kita menggunakan tangki racun untuk memadamkan api. Nah ini cukup tidak layak," katanya.

Kasogi menjelaskan kondisi gambut di Kuala Kampar sangat rentan terbakar. Jika hujan tidak turun selama satu bulan, permukaan air akan surut drastis dan lahan menjadi sangat kering.

"Harapan kami, Pak, kalau dapat Masyarakat Peduli Api ini tolonglah dibantu. Karena ketika MPA ini mendapat sarana dan prasarana serta anggaran yang cukup, saya rasa masalah kebakaran tidak menjadi permasalahan yang besar, Pak," pungkasnya.




(ond/aik)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kasus MBG: Sony Sonjaya Ungkap 41 Nama & Dugaan Pengadaan Fiktif CCTV
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
18 Tahun Hanya Diberi Harapan, Warga Kampung Dok Kota Probolinggo Kembali Tagih Janji Relokasi
• 4 jam laluberitajatim.com
thumb
Rapidin Simbolon: Melestarikan Bumi Geopark Kaldera Toba dengan Pancasila
• 19 jam lalurealita.co
thumb
Bos Danantara Optimis Kesepakatan Damai Iran-AS Berdampak Positif ke Ekonomi RI
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Tak Ada MBG Saat Libur Sekolah, Negara Diperkirakan Hemat Rp3 Triliun
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.