Tokoh NU dan Bung Karno: Warisan Islam Kebangsaan di Museum Multatuli

jpnn.com
11 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - Sejumlah tokoh nasional membahas hubungan antara Bung Karno, Nahdlatul Ulama (NU), dan Islam kebangsaan dalam diskusi bertema “Bung Karno, NU dan Islam Kebangsaan” yang digelar melalui program Aspirasi Bonnie Triyana di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Banten, Kamis (18/6).

Acara itu menghadirkan mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, aktivis dan putri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid, Inayah Wahid, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN Muhammad Najib Azca, serta Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Savic Ali.

BACA JUGA: Argentina Bungkam Aljazair, Messi Cetak Rekor di Piala Dunia

Lukman Hakim Saifuddin mengungkapkan bahwa kedekatan Bung Karno dengan NU tidak lahir karena kesamaan organisasi, sebab Soekarno sejak muda dikenal memiliki kedekatan dengan Muhammadiyah. Namun, keduanya memiliki titik temu dalam pandangan mengenai Islam kebangsaan.

"Yang mempertemukan keduanya, Bung Karno dan NU, adalah paham Islam kebangsaan sebagaimana tema diskusi kita hari ini. Pemahaman dan pengamalan Islam kebangsaan itulah yang menjadi daya rekat di antara keduanya,” kata Lukman.

BACA JUGA: Berhasil Ungkap Kasus Pencurian Hiolo, Polres Rokan Hilir Terima Puluhan Karangan Bunga

Menurutnya, Bung Karno sejak usia muda telah banyak bersentuhan dengan pemikiran Islam melalui lingkungan HOS Tjokroaminoto dan sejumlah tokoh pembaharu Islam. Pemikiran itu kemudian berkembang hingga melahirkan gagasan tentang hubungan antara agama dan negara dalam konteks Indonesia. Lukman menilai Islam dan negara memiliki hubungan yang saling membutuhkan sekaligus saling mengontrol.

"Negara membutuhkan agama karena negara bisa bertindak berlebihan, melewati batas, dan nilai-nilai agama dapat menjadi kontrol. Sebaliknya, agamawan juga bisa menjadi ekstrem dalam memahami ajaran agama, sehingga negara memiliki peran melakukan pengawasan agar tetap berada pada jalan yang seimbang,” ujarnya.

BACA JUGA: Dituding Bungkam Saksi Kasus Dana Desa, Kades Ancam Tempuh Jalur Hukum

Sementara itu, Inayah Wahid mengungkit hubungan Bung Karno dan NU sejak masa sebelum kemerdekaan. Dia mengutip berbagai catatan sejarah mengenai peran tokoh NU dalam proses perumusan dasar negara. Menurut Inayah, para tokoh Islam saat itu menunjukkan sikap kebangsaan dengan menempatkan persatuan Indonesia di atas kepentingan golongan.

“Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Esensi agama tetap keluar meskipun tidak tertulis secara formal dalam bentuk tertentu. Yang terpenting adalah adanya rasa ikatan bersama,” ujar Inayah.

Dia menilai pelajaran penting bagi generasi muda saat ini adalah kemampuan untuk menjaga persatuan, menerima perbedaan, serta memiliki kebesaran hati untuk mengoreksi kesalahan. “Kalau ada sesuatu yang tidak bekerja, kita harus berbesar hati untuk menerima bahwa itu perlu diperbaiki. Hari ini mungkin lebih sulit menemukan pemimpin yang berani mengatakan, ‘Oh ya, mungkin saya salah, saya minta maaf’,” katanya.

Muhammad Najib Azca mengatakan relasi antara Bung Karno dan NU tidak sekadar hubungan komunikasi, tetapi sebuah proses sintesis antara gagasan nasionalisme dan tradisi Islam Indonesia. Dia menjelaskan bahwa titik penting hubungan tersebut terlihat pada masa perjuangan kemerdekaan, mulai dari perumusan Pancasila hingga dukungan ulama NU terhadap Republik Indonesia melalui Resolusi Jihad yang dikeluarkan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. “Tanpa legitimasi yang kuat dari para ulama, tidak mudah bagi negara baru Indonesia mempertahankan kemerdekaannya. Resolusi Jihad menjadi salah satu bagian penting yang menjaga Indonesia tetap berdiri hingga hari ini,” tutur Najib.

Ketua PBNU Savic Ali menambahkan hubungan Bung Karno dan NU memiliki akar sejarah yang panjang, bahkan sebelum organisasi NU berdiri. Ia menyinggung keterkaitan sejumlah tokoh NU awal dengan lingkungan pergerakan nasional yang juga melibatkan Soekarno. “NU dan Bung Karno berasal dari tradisi yang berbeda. Bung Karno mungkin lebih kuat dari sisi nasionalisme, sementara NU memiliki basis keislaman yang kuat. Namun, keduanya bertemu dalam komitmen yang sama terhadap kebangsaan Indonesia,” kata Savic.

Diskusi tersebut menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bung Karno 2026 yang diselenggarakan di Museum Multatuli. Para pembicara menekankan pentingnya generasi muda mempelajari sejarah hubungan antara nasionalisme dan Islam agar tetap mampu menjaga Indonesia sebagai bangsa yang beragam, inklusif, dan bersatu. (tan/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dekati Gen Z, PDIP Surabaya Kenalkan Banteng Kalcer di Bulan Bung Karno  


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BI Rate Naik Jadi 5,75% untuk Perkuat Rupiah dan Tekan Risiko Inflasi Impor
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Sempat Hijau Tadi Pagi, IHSG Sesi 1 Ditutup Turun 0,73%
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
145 Ribu ASN Jadi Target BKN, Prof Zudan: PNS & PPPK Harus Kuasai AI
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Harga Minyak Menguat, Pasar Cermati Perkembangan di Selat Hormuz
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
BGN Berbenah, Pengusaha MBG Protes: Siapa yang Sebenarnya Kelaparan?
• 7 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.