JAKARTA, KOMPAS.V - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah tidak bisa serta-merta menurunkan harga BBM non-subsidi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi berdamai.
Dia menyebut pemerintah akan memantau implementasi perjanjian AS-Iran sebelum memutuskan menurunkan harga BBM non-subsidi.
Nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang ditandatangani AS dan Iran pada Rabu (17/6/2026) dilaporkan memicu penurunan harga minyak dunia.
Kesepakatan ini diharapkan memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
Baca Juga: Isi Lengkap MoU AS-Iran: Selat Hormuz Dibuka, Sanksi Dicabut, Teheran Janji Tak Buat Senjata Nuklir
Airlangga menyatakan penurunan harga BBM non-subsidi tidak bisa secara otomatis usai konflik mereda. Pasalnya, realisasi perjanjian perdamaian harus dipantau terlebih dahulu.
"Ya, pertama kan penandatanganan (MoU) harapannya besok betul-betul bisa dilaksanakan," kata Airlangga, Kamis (18/6/2026), dilaporkan jurnalis KompasTV, Alfania Risky dan Ferizka.
"Dengan kembali terbukanya Selat Hormuz kan kita baru lihat penyesuaian terhadap harga lagi. Ini kan tidak otomatis, kita lihat juga implementasi daripada perjanjian perdamaian."
Meskipun meredanya konflik diharapkan memulihkan stabilitas pasokan energi, Airlangga menyebut laju penurunan harga BBM masih membutuhkan waktu.
Dia mengatakan pemerintah belum dapat mengungkapkan kapan bisa menurunkan harga BBM non-subsidi yang melambung sejak awal Juni 2026.
Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- harga minyak dunia
- airlangga hartarto
- penurunan harga minyak
- mou as iran
- iran
- harga BBM




