REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pemerintah China mengomentari rencana negara-negara dalam kelompok G7 untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemasok mineral penting dan logam tanah jarang. Bahkan, China juga menyoroti manuver Jepang di acara yang berlangsung di Perancis itu.
"Mengenai menjaga keamanan dan stabilitas rantai industri dan pasokan global mineral penting, posisi China tidak berubah. Standardisasi dan penyempurnaan sistem pengendalian ekspor China konsisten dengan praktik internasional dan dilakukan untuk lebih melindungi perdamaian dunia dan stabilitas regional," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (18/6/2026).
Baca Juga
Partai Inovasi Dorong Angkatan Laut Jepang Miliki Kapal Selam Nuklir
Tiba di Indonesia Disambut Sjafrie, Menhan Jepang Pakai Batik
Menhan Jepang ke Jakarta Bahas Kapal Destroyer Kelas Asagiri
Secara khusus, Lin Jian juga mengomentari Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi yang dalam KTT G7 berupaya untuk menggalang sekutu dan memicu konfrontasi. Dia pun mengingatkan upaya Jepang kepada China tak akan berhasil.
"Hal itu tidak akan mendapatkan dukungan dan pasti akan gagal. Sanae Takaichi menyebut soal dialog tapi secara aktif terlibat dalam konfrontasi, suatu kontradiksi yang mencolok yang telah memperlihatkan kemunafikan Jepang kepada dunia," ungkap Lin Jian.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Selain itu, Lin Jian menegaskan, China telah melarang ekspor semua barang dwiguna kepada pengguna militer Jepang maupun penggunaan militer Jepang. Dia menegaskan, negaranya akan mencegah Jepang memiliki nuklir.
"Tujuannya adalah untuk membendung remiliterisasi Jepang dan upayanya untuk memiliki senjata nuklir. Posisi China dalam menjaga keamanan dan stabilitas rantai industri dan pasokan global mineral penting tidak berubah sehingga semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memainkan peran konstruktif untuk tujuan ini," jelas Lin Jian.
Sebelumnya, Aliansi Ketahanan dan Produksi Mineral Kritis buatan G7 itu menargetkan pengurangan ketergantungan pada satu pemasok di luar blok untuk unsur tanah jarang dan magnet permanen menjadi kurang dari 60 persen pada 2030. Mereka menyampaikan ambisi akhir mencapai 50 persen sesegera mungkin.