Ikan Kecil, Manfaat Besar: Wader Pari, Superfood Lokal Masa Depan Indonesia

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Di tengah isu tentang ketahanan pangan nasional, publik sering tertuju pada pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi pada komoditas umum seperti daging sapi, ayam, atau ikan laut populer. Padahal Indonesia memiliki kekayaan sumber daya ikan lokal yang beragam dan sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hubert et al., tahun 2016 menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 1200 spesies asli dan endemik, di mana 900 spesies di antaranya ditemukan di pulau Jawa, Sumatra dan Kalimantan. Salah satu dari spesies tersebut adalah ikan wader pari (Rasbora lateristriata) yang telah lama menjadi bagian dari budaya pangan masyarakat pedesaan.

Wader pari bukan sekadar ikan berukuran kecil yang digoreng renyah sebagai camilan atau lauk makan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ikan ini memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik. Dalam GAIN Working Paper n°61, Firdaus et al., 2026 melaporkan bahwa dalam setiap 100 gram ikan wader pari terkandung 19 gram protein, 13 gram lemak, 193 kkal energi, dan 48 mg kalsium. Kandungan nutrisi ini dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk pertumbuhan dan kesehatan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Damongilala pada tahun 2021, Kandungan nutrisi ikan wader pari ini dapat melampaui beberapa jenis ikan yang lebih populer seperti ikan bawal dan ikan mas.

Keunggulan utama ikan wader pari adalah terletak pada cara konsumsinya. Berbeda dengan ikan berukuran besar yang umumnya hanya dimanfaatkan pada bagian dagingnya, wader pari dikonsumsi secara utuh. Di mana daging, tulang hingga bagian organnya ikut termakan. Sehingga kandungan nutrisi dan mikronutrien lainnya dapat termanfaatkan secara optimal. Pola konsumsi seperti ini juga menghasilkan limbah pangan yang sangat minim bahkan zero waste.

Karakteristik tersebut membuat ikan wader pari layak dipandang sebagai salah satu superfood lokal dari Indonesia. Istilah superfood sering digunakan untuk pangan yang memiliki kepadatan nutrisi tinggi dibandingkan ukuran atau jumlah yang dikonsumsi. Ikan Wader pari menawarkan kombinasi protein, asam lemak omega-3, lemak, mineral, energi dan mikronutrien yang penting bagi pertumbuhan dan kesehatan yang relatif terjangkau dan mudah diterima oleh masyarakat.

Potensi ini menjadi penting ketika Indonesia sampai saat ini masih menghadapi tantangan pemenuhan ketahanan pangan. Meskipun Indonesia dianugerahi sumber daya perikanan yang melimpah, konsumsi ikan masyarakat Indonesia masih rendah. Berdasarkan Laporan Kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2025, Konsumsi ikan per kapita nasional tercatat sebesar 26,08 kg, kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga di kawasan Asean seperti Malaysia dan Singapura yang berkisar 70-80 kg/tahun.

Salah satu faktor penghambatnya adalah tidak semua masyarakat memiliki akses yang sama terhadap ikan segar yang berkualitas. Pemanfaatan ikan lokal seperti wader pari ini yang seharusnya menjadi salah satu solusi untuk memperluas akses pangan bergizi yang dapat meningkatkan konsumsi ikan per kapita.

Sayangnya keberadaan ikan wader pari di alam menghadapi tekanan yang semakin besar. Hilangnya vegetasi di sepanjang sungai, pencemaran perairan, penggunaan pestisida, serta perubahan tata guna lahan menyebabkan habitat ikan ini semakin menyempit. Jika Kondisi ini dibiarkan maka dapat mendorong terjadinya penurunan populasi di berbagai daerah. Pada tahun 2021, International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah memasukkan ikan wader pari (Rasbora lateristriata) ke dalam daftar merah dengan status rentan (Vulnerable).

Dengan kondisi seperti ini masyarakat berisiko kehilangan salah satu sumber pangan lokal yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya mengenal ikan wader pari melalui foto atau cerita, sementara manfaat gizinya sebagai sumber pangan lokal tidak dapat dinikmati kembali.

Oleh karena itu upaya pelestarian ikan wader pari perlu menjadi agenda nasional. Jika pemerintah serius ingin memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas gizi masyarakat, maka perhatian tidak boleh hanya tertuju pada komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi saja. Namun ikan-ikan lokal yang selama ini dianggap biasa, seperti ikan wader pari juga perlu mendapat perhatian pada agenda konservasi dan pembangunan pangan nasional. Salah satunya dapat melalui kegiatan budidaya dan restocking berbasis partisipasi masyarakat.

Di tengah pencarian berbagai solusi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, jawabannya tidak selalu harus datang dari teknologi yang mahal atau komoditas impor. Bisa jadi jawabannya justru sedang berenang di sungai-sungai kecil yang selama ini kita abaikan dan cemari lingkungannya. Ikan wader pari mengingatkan bahwa menjaga keanekaragaman hayati bukan hanya tentang menyelamatkan spesies, tetapi juga menjaga sumber nutrisi penting dan strategis untuk keberlanjutan masa depan Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bukti Cinta Dean Zandbergen ke Timnas Indonesia, Selalu Pantau Garuda dan Beri Pujian Buat John Herdman: Dia Pelatih Berkualitas
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Daftar Makin Panjang! 41 Nama Besar Disebut dalam Kasus MBG
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Davina Karamoy Kembalikan Uang Saku Umrah dari Hanania Travel
• 5 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Sosok Glory Harimas Sihombing Jadi Tersangka Baru Skandal Korupsi MBG, Ini Jabatan dan Perannya
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
MSCI Tetapkan Indonesia di Emerging Market, Soroti Problem Transparansi
• 12 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.