Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan EBT Grup Salim, PT Tamaris Hidro berencana menghimpun dana hingga Rp1 triliun melalui Penawaran Umum Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tamaris Hydro Tahap I Tahun 2026.
Dana hasil penerbitan sukuk tersebut akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus melakukan refinancing sebagian pinjaman sindikasi perbankan pada aset pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang telah beroperasi komersial.
Perseroan menawarkan sukuk dengan nilai emisi maksimal Rp1 triliun yang terbagi menjadi dua seri, yakni Seri A bertenor 5 tahun dan Seri B bertenor 7 tahun. Pembayaran imbalan ijarah akan dilakukan setiap tiga bulan.
Instrumen syariah tersebut memperoleh peringkat idAA(sy)(sf) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) dan didukung fasilitas pembiayaan atau credit enhancement facility (CEF) dari PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dengan plafon standby maksimal Rp450 miliar.
Objek ijarah yang menjadi dasar penerbitan sukuk berupa hak manfaat atas kapasitas listrik pembangkit milik perseroan sebesar 1,83 miliar kilowatt hour (kWh). Pendapatan berasal dari kontrak jual beli listrik jangka panjang dengan PT PLN (Persero).
Presiden Direktur Tamaris Hidro M. Syahrial mengatakan penerbitan sukuk menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan untuk mendukung percepatan transisi energi.
Baca Juga
- Perusahaan EBT Grup Salim, Tamaris Hidro Cetak Lonjakan Laba 52,12% pada 2025
- Tamaris Hidro (TYRO) Akuisisi PLTA Batu Gajah di Sumut Senilai Rp72 Miliar
- Deretan Aksi Akuisisi Perusahaan Energi Hijau Grup Salim Tamaris Hidro
“Melalui instrumen syariah ini, kami menghadirkan alternatif investasi yang kompetitif sekaligus memberikan kesempatan bagi investor untuk berpartisipasi langsung dalam pembangunan infrastruktur energi bersih yang berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (19/6/2026).
Berdasarkan jadwal indikatif, masa penawaran awal (bookbuilding) berlangsung pada 18–24 Juni 2026. Perseroan menargetkan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 30 Juni 2026, dilanjutkan masa penawaran umum pada 2–6 Juli 2026 dan pencatatan sukuk di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Juli 2026.
Jadwal Penawaran Sukuk Tamaris Hidro sebagai berikut:- Masa Bookbuilding: tanggal 18 sd 24 Juni 2026;
- Pernyataan Efektif OJK: tanggal 30 Juni 2026;
- Masa Penawaran Umum: tanggal 2 sd 6 Juli 2026;
- Penjatahan: tanggal 7 Juli 2026;
- Distribusi Elektronik KSEI: tanggal 9 Juli 2026; dan
- Pencatatan di Bursa Efek Indonesia: tanggal 10 Juli 2026
Penerbitan sukuk didukung oleh PT BCA Sekuritas, PT Binaartha Sekuritas, PT INA Sekuritas Indonesia, dan PT BRI Danareksa Sekuritas sebagai joint lead underwriters.
Dari sisi kinerja, Tamaris Hidro membukukan pendapatan sebesar Rp563,7 miliar sepanjang 2025 dengan EBITDA mencapai Rp389,2 miliar. Total aset perseroan tercatat Rp5,18 triliun dan total ekuitas Rp2,53 triliun.
Perseroan juga mencatat pertumbuhan jangka panjang yang cukup kuat sejak 2014, dengan compound annual growth rate (CAGR) pendapatan sebesar 23,87%, EBITDA 28,45%, dan total aset 20,07%.
Pada tahun lalu, Tamaris Hidro telah melunasi Obligasi Tamaris Hydro I Tahun 2022 Seri A senilai Rp200 miliar menggunakan kas internal. Perseroan juga mengakuisisi PLTA Batu Gajah yang memiliki kapasitas kontrak jual beli listrik sebesar 16 megawatt (MW).
Hingga akhir 2025, Tamaris Hidro mengelola 20 pembangkit listrik tenaga air dengan total kapasitas terpasang 167,8 MW. Portofolio tersebut terdiri atas 18 pembangkit yang telah beroperasi secara komersial dengan kapasitas 142,8 MW, satu proyek konstruksi berkapasitas 5 MW, serta satu proyek dalam tahap pengembangan berkapasitas 20 MW.
Perseroan menilai pembangkit listrik tenaga air akan memainkan peran penting dalam mendukung target bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional sebesar 34,3% pada 2034 karena memiliki karakteristik energi bersih yang stabil dan dapat diandalkan sebagai sumber listrik baseload.
Selain itu, Tamaris Hidro mengklaim telah berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca sekitar 551.550 ton CO2 ekuivalen pada 2025.
Perseroan juga mencatat penanaman kumulatif 417.534 pohon hingga akhir tahun lalu sebagai bagian dari program rehabilitasi lingkungan dan konservasi daerah aliran sungai di sekitar wilayah operasional pembangkit.





