Lemahnya People to People Connection dan Hambatan Integrasi ASEAN

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Salah satu masalah utama dalam perkembangan ASEAN adalah kesenjangan antara integrasi di tingkat elite dengan keterhubungan masyarakat di tingkat akar rumput. Secara formal, ASEAN memang berkembang menjadi organisasi regional yang cukup mapan dengan berbagai kesepakatan ekonomi, keamanan, dan sosial-budaya.

Namun, di balik keberhasilan institusional tersebut, integrasi sosial di antara masyarakat Asia Tenggara masih sangat lemah. Keterbatasan people to people connection menjadi salah satu faktor utama mengapa ASEAN sulit berkembang menjadi komunitas regional yang benar-benar menyatu.

Sejak berdirinya ASEAN pada 1967, pendekatan yang digunakan cenderung bersifat top-down. Kerja sama lebih banyak didorong oleh pemerintah, kementerian, dan birokrasi negara. Hasilnya adalah terbentuknya berbagai kesepakatan seperti ASEAN Economic Community (AEC), ASEAN Political-Security Community (APSC), dan ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC).

Namun, semua ini lebih banyak beroperasi di level institusi, bukan di level masyarakat. Kondisi ini menunjukkan apa yang disebut sebagai “elite-driven integration without societal embedding”. Integrasi terjadi di atas kertas dan dalam forum diplomatik, tetapi tidak terinternalisasi dalam kehidupan sosial masyarakat ASEAN.

Minimnya Interaksi Antar Masyarakat

Salah satu indikator paling jelas dari lemahnya people to people connection adalah rendahnya mobilitas sosial lintas negara ASEAN. Dibandingkan dengan Uni Eropa, masyarakat ASEAN masih menghadapi berbagai hambatan seperti perbedaan standar pendidikan, bahasa, dan juga tingkat pemerataan ekonomi masing-masing negara.

Misalnya, seorang mahasiswa Indonesia lebih mungkin mengenal budaya Amerika Serikat atau Korea Selatan dibandingkan budaya Thailand atau Vietnam. Hal ini menunjukkan bahwa globalisasi justru lebih kuat daripada regionalisme ASEAN itu sendiri.sendiri. Akibatnya, identitas regional ASEAN tidak pernah benar-benar terbentuk di tingkat masyarakat. ASEAN terdiri dari negara-negara dengan keragaman bahasa dan budaya yang sangat tinggi.

Tidak seperti Uni Eropa yang memiliki beberapa bahasa dominan yang relatif saling terhubung, ASEAN memiliki fragmentasi linguistik yang sangat tajam Bahasa Indonesia, Thai, Viet, Khmer, Lao, Burmese, hingga berbagai dialek Filipina dan Melayu. Ketiadaan bahasa penghubung yang efektif membuat interaksi masyarakat menjadi terbatas.

Bahasa Inggris memang digunakan sebagai bahasa kerja ASEAN, tetapi tidak cukup kuat untuk menjadi bahasa sosial yang membentuk kedekatan emosional antar masyarakat. Selain itu, identitas budaya di Asia Tenggara lebih kuat pada level nasional daripada regional. Nasionalisme di negara-negara ASEAN masih menjadi identitas utama, sementara identitas “orang ASEAN” belum terbentuk secara signifikan.

Ketimpangan Ekonomi dan Mobilitas Terbatas

Faktor lain yang memperlemah people to people connection adalah ketimpangan ekonomi antar negara ASEAN. Negara seperti Singapura dan Malaysia memiliki tingkat pendapatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan Laos, Kamboja, atau Myanmar.

Ketimpangan ini menciptakan hambatan mobilitas tenaga kerja dan juga persepsi sosial yang tidak setara. Meskipun ada skema seperti Mutual Recognition Arrangements (MRA) untuk profesi tertentu, implementasinya masih terbatas. Banyak tenaga kerja ASEAN yang justru bergerak dalam sektor informal dan tidak memiliki mobilitas resmi yang terstruktur. Ketimpangan ini juga menciptakan social distance antar masyarakat ASEAN. Alih-alih merasa sebagai satu komunitas regional, masyarakat lebih sering melihat negara tetangga sebagai “asing” yang memiliki tingkat kemajuan berbeda.

Kurangnya Ruang Interaksi Sosial Regional

ASEAN masih tertinggal dalam menciptakan ruang interaksi sosial lintas negara. Program pertukaran pelajar, kerja sama budaya, dan turisme regional memang ada, tetapi belum masif dan belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Tidak adanya sistem pendidikan regional yang terintegrasi juga memperparah kondisi ini. Mahasiswa ASEAN jarang memiliki pengalaman belajar lintas negara dalam skala besar. Akibatnya, generasi muda ASEAN tidak tumbuh dengan perspektif regional, melainkan tetap berorientasi nasional atau bahkan global (ke Barat atau Asia Timur).

ASEAN menjadi suatu organisasi kerja sama antar negara daripada komunitas sosial yang terintegrasi. Menurut pendekatan konstruktivis, identitas regional tidak hanya dibentuk oleh institusi, tetapi juga oleh interaksi sosial yang berulang dan intensif antar masyarakat. Tanpa interaksi tersebut, sulit untuk membangun collective identity. ASEAN gagal membentuk apa yang disebut sebagai “imagined community” regional karena masyarakatnya tidak memiliki pengalaman sosial yang cukup satu sama lain.

Dampak dari ini akan memiliki implikasi panjang terhadap masa depan ASEAN. Pertama, integrasi ekonomi akan tetap terbatas karena tidak didukung oleh jaringan sosial yang kuat. Kedua, solidaritas politik antar masyarakat juga lemah sehingga ASEAN rentan terhadap perpecahan dalam isu-isu sensitif seperti Laut China Selatan atau krisis Myanmar. Ketiga, tanpa kedekatan sosial, ASEAN akan sulit bersaing dengan pengaruh budaya global dari Amerika Serikat, Tiongkok, atau Korea Selatan yang jauh lebih dominan dalam membentuk preferensi generasi muda.

Maka, ASEAN perlu mendorong mobilitas sosial yang lebih besar, memperkuat pendidikan lintas negara, dan membangun ruang interaksi budaya yang lebih intensif. Tanpa itu, visi ASEAN sebagai komunitas regional yang solid akan tetap menjadi cita-cita yang belum sepenuhnya terwujud.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Update Korban Meninggal Akibat Gempa di Sigi Bertambah Jadi Tiga Orang
• 22 jam lalueranasional.com
thumb
Judi Online Masih Merajalela di Indonesia, Padahal Dilarang Keras? Ini Penyebab Utama dan Solusi yang Perlu Dilakukan
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
DKI kemarin, optimalisasi AI hingga haul akbar ulama Betawi
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Trump Kembali Tegaskan Iran Tak Boleh Memiliki Senjata Nuklir
• 8 jam laluerabaru.net
thumb
Viral Rasisme di Piala Dunia 2026, FIFA Beri Undangan untuk Korban
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.