Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang perdagangan Jumat (19/6/2026) bergerak fluktuatif dan sempat berada di zona merah di sesi I, sebelum kemudian ditutup menguat di akhir sesi perdagangan.
Melansir IDX Mobile, IHSG ditutup menguat 0,08% atau 4,80 poin ke 6.177,14. Indeks komposit bergerak di rentang 6.117,31 hingga 6.215,06.
Sejumlah saham big caps penopang IHSG hari ini antara lain adalah BBCA yang menguat 3,70% ke Rp6.300, MORA naik 20% ke Rp7.800, BYAN naik 13,40% ke Rp11.000, ASII naik 0,84% ke Rp4.810, serta DSSA yang ditutup naik 8,97% ke Rp850
Pada perdagangan sesi I hari ini, IHSG sempat melemah 0,73% ke level 6.127. Tim riset Sinarmas Sekuritas menjelaskan bahwa sentimen pasar terhadap hasil MSCI Market Accessibility Review cenderung netral. Pelaku pasar menilai hasil ini sebagai jalan tengah yang sudah diantisipasi (priced-in) sejak Januari lalu.
IHSG telah diprediksi bergerak sideways dengan rentang kenaikan dan penurunan indeks yang akan menjadi jauh lebih terukur tanpa adanya gejolak ekstrem.
"Market mungkin juga akan bergerak volatile range-bound, menunjukkan pergerakan yang sangat dinamis (naik turun cepat) tetapi tertahan di dalam channel harga tertentu," tulis sekuritas, Jumat (19/6/2026).
Dalam pengumuman tinjauan MSCI ini, sekuritas membedah sejumlah faktor yang menjadi sentimen positif, yakni Indonesia bertahan di kelas emerging market dan lolos dari risiko penurunan kelas (downgrade) ke frontier market.
Kedua, MSCI tidak memasukkan Indonesia ke dalam Review Watch List. Potensi aksi jual paksa (forced selling) oleh investor asing berhasil terhindar.
Ketiga, OJK dan BEI mendapatkan grace period dari MSCI untuk membenahi transparansi pasar.
Di sisi lain, faktor yang menjadi catatan MSCI sekaligus tantangan bagi pasar modal Indonesia antara lain adalah rasio saham publik (free float) yang perlu ditingkatkan dan indikasi perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga wajar (fair price discovery).
"Arah IHSG akan bergerak dalam konsolidasi mendatar (sideways) dalam rentang harian terbatas dan terukur. Sementara itu, volume berpotensi agak menurun karena pasar bersikap wait and see menanti pengumuman final Annual Market Classification pada 23 Juni 2026," tandasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





