Jakarta, tvOnenews.com - Kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu pertentangan dari Israel. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang harus menghentikan perang mendapat penolakan keras.
Berdasarkan pernyataan dilaporkan oleh DW, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menuliskan bahwa, kesepakatan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian tidak mengikat Israel.
Israel juga menolak penarikan pasukan dari Lebanon meski ada kesepakatan. Sebab, pasukannya telah merebut serta membersihkan dari infrastruktur dikuasai Hizbullah.
Pengamat Hubungan Internasional, Pizaro Gozali Idrus mengupas draft MoU yang ditandatangani kedua negara. Ia menyoroti poin pertama yang mengharuskan Amerika Serikat dan Iran beserta sekutunya menghentikan seluruh operasi militer secara permanen.
"Problematikanya dalam poin pertama kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat itu multitafsir," ujar Pizaro dalam program Apa Kabar Indonesia Pagi tvOne, Jumat (19/6/2026).
Apakah Israel Harus Mundur dari Lebanon Dampak Perdamaian Amerika Serikat-Iran?- Reuters/Zohra Bensemra
Kesepakatan tersebut, kata Pizaro, sangat mempengaruhi pada posisi Israel. Ia memahami keputusan dilakukan Trump tentu menuai penolakan keras dari Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu.
Penolakan tersebut membuat Trump frustasi. Presiden AS merasa upaya perundingan dengan Iran untuk mengakhiri perang selalu dipersulit akibat tingkah Benjamin Netanyahu.
Tak ayal, penolakan terjadi lantaran Iran sebagai ancaman nasional. Israel selalu mewanti-wanti dengan kekuatan militer Iran, terutama menyebutkan negara tersebut memiliki nuklir.
Ketakutan inilah menyebabkan Israel menyerang Iran pada Juni 2025 dan Februari 2026 yang disokong oleh AS. Terkini, Israel didesak menarik pasukan dari Lebanon.
Akan tetapi, Pizaro melihat tafsir dari poin pertama. Menurutnya, bagi Israel tidak ada tuntutan secara spesifik mengenai desakan mundur dari Lebanon.
"Kalau Israel harus mundur dari Lebanon, ini kemudian akan menjadi multitafsir antara Iran dengan Israel," terangnya.
Pengamat Hubungan Internasional itu mengambil tafsir isi poin pertama dari Iran. Tentu hal ini mengharuskan Israel mundur karena di dalamnya harus menghargai teritorial Lebanon.
"Bagi Netanyahu beda lagi. Di sini kami tidak merasa untuk harus mundur karena dalam kesepakatannya itu tidak ada, apalagi mereka tidak diajak tanda tangan," jelasnya.




