Keluh Kesah Petani di Serang yang Terdampak Sungai Ciujung Menghitam dan Bau

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Para petani di wilayah Kabupaten Serang bagian Utara atau tepatnya di Kecamatan Tanara dan Kecamatan Tirtayasa mengeluh dengan kondisi Sungai Ciujung yang tercemar diduga limbah.

Keluhan mereka bukan tanpa sebab. Lahan garapan yang berdampingan dengan aliran Sungai Ciujung adalah alasannya. Pasalnya, kondisi aliran sungai sepanjang 142 kilometer tersebut saat ini berwarna hitam dan mengeluarkan bau tak sedap.

Salah seorang petani asal Desa Laban, Kecamatan Tirtayasa, Roni (58), mengaku sawah garapan seluas 1 hektare miliknya tergantung pada air yang berasal dari Sungai Ciujung sejak berpuluh-puluh tahun silam.

Namun, sudah lebih 2 Minggu ini, kondisi Sungai Ciujung kembali mengalami perubahan warna menjadi hitam dan berbau tak sedap. Meski menurutnya, situasi tersebut sudah kerap dirasakan olehnya semenjak banyak berdiri pabrik-pabrik di Kabupaten Serang bagian Timur.

"Udah lama kondisinya suka begitu (Sungai Ciujung berwarna hitam dan berbau tak sedap). Udah puluhan tahun. Jadi kayak tahunan aja, apalagi kalau kemarau, jadi item," kata Roni ditemui disela-sela aktivitasnya di sawah di Desa Laban, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Kamis (18/6).

Terdampak Hasil Panen

Diakui Roni, kondisi air Sungai Ciujung yang berwarna hitam dan berbau tak sedap membuat hasil panen padi di lahan miliknya mengalami penurunan drastis. Tak hanya itu, ia pun terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli obat untuk tanaman padi miliknya agar lebih tahan terhadap penyakit, terutama yang diakibatkan oleh air yang diduga tercemar limbah tersebut.

"Emang bau, tapi kalau bau sih enggak terlalu masalah sebetulnya buat padi. Biasanya kalau airnya bagus itu panen bisa sampai 7 ton, tapi kalau kondisi air begini paling 4 ton, paling tinggi 5 ton. Jauh emang hasilnya," ungkap Roni.

"Ini saya aja harus beli obat buat padi bisa sampai Rp 3 juta. Kalau air bagus sih ya paling Rp 1, 5 juta abisnya, imbuhnya.

Tak hanya itu, tercemarnya Sungai Ciujung turut mempengaruhi terhadap perekonomian kehidupannya. Sebab, sawah garapan seluas 1 hektare merupakan sumber penghidupan bagi Roni dan keluarganya sejak puluhan tahun silam.

Kata Roni, kondisi Sungai Ciujung yang menghitam dan berbau tak sedap membuat dirinya tak bisa mencari uang tambahan dengan menanam sayur-sayuran di lahan garapannya untuk kebutuhan belanja sehari-hari.

"Aturan kita bisa nanam sayuran buat belanja sehari-hari jadi ga bisa nanam. Sementara padi kan panennya lama, bisa 4 bulan. Kalau kita nanam kacang atau timun paling 40 hari udah bisa panen, kita masih bisa terus metik tuh selama 3 bulan sebelum pohonnya mati. Jadi lumayan buat belanja sehari-hari, sambil nunggu padi panen," terang Roni.

"Tapi sekarang udah enggak bisa (nanam sayuran) karena air kalinya tercemar," keluh Roni.

Disampaikan Roni, kondisi air Sungai Ciujung yang berubah menjadi hitam dan berbau tak sedap bukan hanya menyulitkan dirinya sebagai petani, namun turut berdampak pada kehidupan sehari-hari yang ingin mendapatkan hidup dengan nyaman karena bau yang ditimbulkan mengganggu saat siang dan malam hari.

"Kita udah dirugikan dari tanaman, terus baunya menyengat ke mana-mana," kata dia.

Respons DLHK Banten

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Banten mulai menelusuri penyebab perubahan warna Sungai Ciujung di Kabupaten Serang yang menghitam dan mengeluarkan bau tak sedap.

Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas DLHK Banten Wawan Wahyudi mengaku, telah menerima informasi mengenai kondisi Sungai Ciujung tersebut. Namun, pihaknya masih menunggu pengaduan resmi dari masyarakat untuk menindaklanjuti laporan tersebut.

"Kami kemarin dapat informasi dari Pak Kadis seperti itu (Sungai Ciujung menghitam). Karena konteksnya ini pengaduan, kami juga butuh informasi pengadunya siapa," ucap Wawan, Jumat (19/6).

Wawan mengatakan, pihaknya saat ini masih menganalisis data pemantauan kualitas air Sungai Ciujung dalam beberapa tahun terakhir sebelum memutuskan melakukan pengecekan lapangan.

Menurut dia, identifikasi sumber pencemaran di aliran sungai membutuhkan kajian lebih lanjut karena berbagai jenis limbah dapat bercampur dalam satu aliran.

"Karena konteksnya di sungai, kami harus mengidentifikasi kembali sumbernya karena kan sudah kumulatif kalau di sungai. Mau (limbah) domestik atau dari industri itu sudah kumulatif kalau di sungai," ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Ogah Negosiasi Nuklir dengan AS Selama Israel Masih Serang Lebanon
• 20 jam laluidxchannel.com
thumb
Mudah! Begini Cara Cek Penerima PIP Juni 2026
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bos PLN Jelaskan Alasan Pemadaman Bergilir, Kapan Berakhir?
• 23 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Richard Lee Jalani Sidang Perdana Kasus Dugaan Pelanggaran Perlindungan Konsumen, Doktif Beri Pesan pada Seterunya
• 6 jam lalugrid.id
thumb
Jelang MSCI Market Review 23 Juni, BEI Harap Bursa RI Tetap di Emerging Market
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.