Pantau - Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo berziarah ke makam Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (20/6), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 sekaligus mengenang semangat reformasi yang diwariskan tokoh bangsa tersebut.
Kadivhumas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir mengatakan ziarah tersebut merupakan bentuk penghormatan Polri terhadap kontribusi Gus Dur dalam perjalanan demokrasi dan reformasi nasional.
"Ziarah ini merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan Polri kepada para tokoh bangsa yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan demokrasi dan reformasi di Indonesia. Gus Dur memiliki peran penting dalam sejarah bangsa, termasuk dalam proses penguatan institusi Polri sebagai lembaga yang profesional dan mandiri," kata Johnny.
Pengingat Semangat Reformasi bagi PolriJohnny menuturkan momentum ziarah menjelang Hari Bhayangkara ke-80 menjadi pengingat bagi seluruh anggota Polri untuk terus menjaga semangat reformasi, profesionalisme, dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Menurut dia, warisan pemikiran Gus Dur memiliki peran penting dalam proses pembentukan Polri sebagai institusi yang profesional, modern, dan mandiri.
Dalam kegiatan tersebut, Kapolri mengenakan peci, memanjatkan doa, dan menaburkan bunga di pusara Presiden ke-4 RI itu.
Kedatangan Kapolri disambut Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Machfudz atau Gus Kikin yang mengalungkan surban sebagai simbol penghormatan.
Warisan Gus Dur bagi Institusi PolriGus Dur menjabat sebagai Presiden RI pada periode 20 Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001.
Pada masa kepemimpinannya, agenda reformasi diperkuat melalui dorongan profesionalisme militer dan supremasi sipil dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Salah satu tonggak penting pada era tersebut adalah pemisahan TNI dan Polri melalui TAP MPR Nomor VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dan Polri serta TAP MPR Nomor VII Tahun 2000 tentang Peran TNI dan Polri.
Selain dikenal sebagai tokoh reformasi, Gus Dur juga dikenang sebagai Bapak Pluralisme karena konsistensinya memperjuangkan toleransi, keberagaman, dan penghormatan terhadap hak-hak warga negara.
Ziarah tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Polri menjelang peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang jatuh pada 1 Juli 2026.




