Bupati Cianjur Bergelimang Harta, Rakyat Jadi Korban Tanam Paksa

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita
Foto: Sawah di Cianjur. (CNBC Indonesia/Suhendra)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wilayah Cianjur dikenal sebagai daerah yang sangat makmur di Pulau Jawa. Terutama karena hasil komoditas perkebunan yang melimpah.

Kemakmuran tersebut ditopang oleh produksi kopi yang sangat besar. Dalam catatan sejarah, Cianjur menjadi salah satu pusat produksi kopi utama di wilayah Priangan, bahkan mencapai angka produksi yang sangat tinggi pada masanya. Kondisi ini turut mengangkat status sosial para elite lokal, termasuk bupati, yang menikmati limpahan kekayaan dari sistem ekonomi yang berlaku saat itu.


Baca: Candi Borobudur Ternyata Ditemukan Warga Tionghoa, Ini Sosoknya

Sejarawan Belanda Jan Breman dalam bukunya Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Perdagangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870 (2014) mencatat, pada masa tanam paksa (1830-1870), Cianjur menjadi penghasil kopi terbesar di wilayah Priangan. Pada 1806, produksinya bahkan mencapai sekitar 1,5 juta kopi.

Kekayaan ini kemudian mengangkat posisi elite lokal, termasuk bupati. Menurut sejarawan Nina Herlina Lubis dalam Kehidupan Kaum Menak Priangan, 1800-1942 (1998), para bupati merupakan kelompok paling kaya di wilayahnya. Mereka memperoleh pemasukan dari gaji, pajak, hingga praktik feodalisme yang tidak tertulis.

Namun, kemakmuran itu tidak dirasakan oleh rakyat. Rakyat justru menanggung beban berat dari sistem tanam paksa kopi. Kerja keras para petani menjadi fondasi kekayaan daerah, tetapi hasilnya lebih banyak mengalir ke kas kolonial dan dinikmati oleh elite lokal, termasuk bupati.

Terlebih, Bupati Cianjur justru dikenal dengan gaya hidup mewah. Jan Breman mencatat, sang bupati kerap berkeliling menggunakan kereta berlapis emas, layaknya bangsawan besar.

Baca: Playboy Betawi Hobi Flexing, Cebok Pun Pakai Uang Kertas

"Layaknya tuan besar konsumtif, mereka berbelanja barang mewah dengan harga tinggi. Di saat pulangnya mereka membawa candu, tembakau, dan katun, barang-barang yang akan dijual kepada kepala bawahannya," tulis Breman.

Kemewahan ini bahkan berdampak langsung ke daerah lain. Pegawai kolonial asal Belanda, Multatuli, dalam novelnya Max Havelaar (1860), menyoroti bagaimana kunjungan Bupati Cianjur ke Lebak justru membebani wilayah yang disinggahi.

Menurutnya, bupati datang dengan rombongan besar yang harus ditanggung oleh daerah setempat.

"Ratusan orang itu yang semuanya harus ditampung dan diberi makan, begitu juga kuda-kudanya," tulis Multatuli.

Baca: Gagal Penuhi Target, Seluruh Anggota Kabinet Mengundurkan Diri

Menurut Nina Herlina Lubis, kondisi ini tidak lepas dari cara pandang kekuasaan saat itu. Kabupaten diposisikan sebagai panggung, dengan bupati sebagai aktor utama yang harus menampilkan kemegahan.

"Kabupaten adalah ibarat panggung pertunjukan dengan bupati sebagai pemeran utama yang harus berakting hebat," ungkap Nina.

Pada akhirnya, sejarah menunjukkan pola yang terus berulang. Kekuasaan kerap berjalan beriringan dengan kemewahan elite, sementara rakyatnya tetap menanggung penderitaan.


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Elektrifkasi Tambang, Produsen China Siap Pasok Alat Berat EV

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Brigadir Rizka yang Bunuh Suami Divonis 10 Tahun Penjara, Jaksa Tak Terima
• 20 jam lalujpnn.com
thumb
Polisi Tangkap Remaja 14 Tahun Pelaku Duel Maut Berdarah di Cilincing
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Bapanas Sebut 7,7 Juta Ton Cadangan Beras Pemerintah Disalurkan ke Masyarakat dalam Tiga Tahun
• 10 jam lalupantau.com
thumb
Bupati Cianjur Bergelimang Harta, Rakyat Jadi Korban Tanam Paksa
• 4 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Roy Suryo-dr Tifa Dirawat Usai Jalani Tes Kesehatan di RS Polri
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.