HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Andi Iwan Darmawan Aras (AIA) resmi terpilih memimpin DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sulsel periode 2026-2031.
AIA secara aklamasi terpilih menjadi Ketua DPD HNSI Sulsel di Musyawarah Daerah (Musda) III HNSI Sulsel di Hotel Claro pada Sabtu, 20 Juni 2026.
Musda HNSI Sulsel ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat peran nelayan dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan di Sulsel.
Andi Iwan Darmawan Aras menyampaikan apresiasi kepada seluruh DPC HNSI kabupaten/kota yang telah memberikan kepercayaan untuk memimpin organisasi nelayan tersebut selama lima tahun ke depan.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada DPC HNSI se-Sulsel yang telah memberikan amanah kepada kami untuk memimpin HNSI Sulsel,” ujar Ketua Kadin Sulsel ini.
Andi Iwan berharap seluruh jajaran pengurus dapat berkolaborasi dan bekerja sama dalam memperjuangkan peningkatan kesejahteraan nelayan di Sulsel.
Menurut AIA, Sulsel memiliki potensi kelautan yang sangat besar. Dari 24 kabupaten/kota di provinsi tersebut, sebanyak 20 daerah memiliki wilayah pesisir yang beririsan langsung dengan laut.
“Leluhur kami adalah pelaut. Tradisi maritim masyarakat Bugis telah dikenal hingga berbagai daerah di Indonesia. Ini menjadi modal besar dalam mengembangkan sektor kelautan dan perikanan,” katanya.
AIA mengungkapkan bahwa jumlah nelayan di Sulsel mencapai lebih dari 500 ribu orang atau sekitar 5,3 persen dari total populasi penduduk. Dari jumlah tersebut, sekitar 280 ribu merupakan nelayan tangkap dan 220 ribu lainnya adalah pembudidaya perikanan.
Namun demikian, ia menyebut masih terdapat sekitar 28 ribu nelayan yang hidup dalam kondisi miskin, bahkan sebagian masuk kategori miskin ekstrem.
“Karena itu, peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup nelayan harus menjadi prioritas bersama,” ujar Ketua DPD Gerindra Sulsel ini.
AIA menegaskan HNSI Sulsel dibawah kepemimpinannya akan hadir sebagai wadah perjuangan yang mampu memberikan manfaat nyata bagi nelayan, mulai dari perlindungan hukum, pendampingan usaha, hingga kemudahan mengakses berbagai program pemerintah.
Selain persoalan kesejahteraan, AIA juga menekankan pentingnya aspek keselamatan kerja nelayan.
Menurutnya, aktivitas melaut memiliki risiko tinggi sehingga diperlukan dukungan informasi cuaca dan iklim yang lebih optimal.
Untuk itu, HNSI Sulsel akan memperkuat koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui program Sekolah Lapang Iklim dan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan.
“Keselamatan nelayan harus menjadi prioritas. Hasil laut yang kita nikmati hari ini berasal dari kerja keras para nelayan yang setiap hari mempertaruhkan nyawa di tengah lautan,” kata AIA.
Wakil Ketua Komisi V DPR RI itu berkomitmen menjadikan HNSI sebagai jembatan antara nelayan, pembudidaya, petambak, pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
AIA juga menilai dukungan pemerintah terhadap sektor perikanan perlu terus diperkuat melalui bantuan alat tangkap, pemanfaatan teknologi modern, serta perluasan akses pasar guna meningkatkan nilai tambah dan daya saing ekspor produk perikanan Sulsel.
Tidak hanya nelayan tangkap, perhatian juga akan diberikan kepada pembudidaya dan petambak yang dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan
pangan dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Pembangunan sektor kelautan dan perikanan tidak hanya menyangkut nelayan tangkap, tetapi juga para pembudidaya dan petambak yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan dan perekonomian daerah,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua DPP HNSI Herman Herry yang diwakili Sekretaris Jenderal DPP HNSI, Lidya Assegaf, menyampaikan bahwa tema Musdah III HNSI tahun ini adalah “Solid Bergerak dan Berdampak.”
Lidya mengajak seluruh jajaran organisasi menjadikan HNSI sebagai rumah besar bagi para nelayan sekaligus penggerak ekonomi maritim yang berkelanjutan.
“Mari jadikan HNSI sebagai rumah nelayan dan ekonomi maritim yang berkesinambungan,” katanya.(ams)





