Sebagai salah satu kota yang menjadi barometer seni Tanah Air, Yogyakarta memiliki agenda tahunan yang selalu dinanti. Setiap pertengahan tahun, festival seni kontemporer Artjog menjadi ajang yang kerap dipandang sebagai momen ”lebaran” seni bagi para perupa.
Tahun ini Artjog kembali digelar di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta, dan berusaha mengusung sejumlah penyegaran dari sisi tema maupun karya yang ditampilkan. Artjog tahun ini mengangkat tema ”Ars Longa: Generatio” yang merupakan babak pertama dari tema besar Ars Longa Trilogia yang berarti ”Trilogi seni itu panjang”.
Menurut kurator pameran Farah Wardani, tema besar itu dapat diartikan sebagai kepercayaan yang mendalam bahwa seni adalah jalan hidup dan sesuatu yang selalu relevan dalam keberlangsungan manusia. Lebih lanjut, seni dan para senimannya menemukan relevansinya sesuai dengan perkembangan zaman dan tujuan apa pun sepanjang sejarah peradaban manusia.
Pengunjung menyusuri ruangan di JNM yang ditata secara apik. (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)
Pengunjung Artjog yang didominasi kaum muda. (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)
Pengunjung memotret karya yang dipajang pada pameran Artjog. (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)
Sebagai pembuka dari rangkaian trilogi Artjog 2026-2028, Ars Longa: Generatio memiliki misi membahas makna seni bagi generasi baru. Ajang ini juga menjadi sarana untuk mendorong dialog antargenerasi di antara para perupa.
Bermacam isu yang diangkat mencakup relevansi seni rupa dalam konteks sosial dan kehidupan masyarakat, baik di Indonesia maupun di tingkat global. Pendekatan ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana para perupa dari berbagai generasi merespons tantangan dan dinamika sosial-politik yang sedang berlangsung. Kemampuan para perupa dalam hal pembacaan sejarah dan menanggapi berbagai perubahan yang ada juga menjadi sorotan dalam ajang kali ini.
Sebanyak 96 perupa dilibatkan dalam ajang Artjog kali ini dan 19 di antaranya merupakan seniman muda yang berusia di bawah 35 tahun. Artjog Kids turut digelar dengan menampilkan 52 perupa anak dan remaja untuk menghadirkan semangat generasi muda.
Sebagai salah satu festival seni tersohor di kawasan Asia Tenggara, Artjog pun kembali menyedot perhatian khalayak. Penyelenggaraannya yang bertepatan dengan masa libur sekolah membuat acara ini turut menjadi salah satu magnet wisata. Sejumlah pameran seni lainnya pun turut digelar selama rentang penyelenggaraan Artjog sehingga membuat nuansa seni di Yogyakarta kian semarak.
Pengunjung yang didominasi kaum muda yang gemar berswafoto di depan karya seni rupa tampak ramai mendatangi lokasi pameran Artjog pada Sabtu (20/6/2026). Selain diajak memaknai karya para perupa dengan interpretasi masing-masing, pengunjung juga diajak untuk sejenak menengok sejumlah karya yang bertema sejarah dan kritik terhadap pemerintah.
Meski penyelenggaraan Artjog tahun ini diwarnai aksi protes oleh sejumlah kalangan terkait keberadaan lembaga sponsor yang dinilai kurang tepat, ajang ini terus berlangsung dengan mengusung tema yang telah digaungkan sejak beberapa waktu lalu. Artjog berlangsung hingga 30 Agustus 2026.
Salah satu karya yang menggambarkan ruang perkantoran yang mengalami kerusakan akibat peristiwa kerusuhan 1998. (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)
Karya bertema HAM dari Dolorosa Sinaga dan Kelas Aktivisme Seni. (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)
Karya perupa Eko Nugroho ditampilkan di JNM, Yogyakarta, Sabtu (20/6/2026). (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)
Pengunjung berkreasi dengan wewangian saat mendatangi festival seni rupa kontemporer Artjog yang kembali digelar di Jogja National Museum, Yogyakarta, Sabtu (20/6/2026). (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)
Festival seni rupa kontemporer Artjog berlangsung hingga 30 Agustus 2026. (KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO)
Panitia Artjog pun mulai menghitung mundur pelaksanaan ajang serupa pada 2027 dengan tema Ars Longa: Legatum. Artjog juga bersiap mengusung tema Ars Longa: Mundus pada 2028 untuk menutup trilogi yang telah dimulai.





