P
iala Dunia FIFA 2026 menjadi turnamen termahal dalam sejarah, dengan biaya penyelenggaraan didorong oleh harga yang berubah-ubah, paket hospitality berskala besar, serta lonjakan biaya perjalanan yang mencetak rekor di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Urusan harga tiket resmi saja, paling murah dijual 200 dolar AS atau lebih kurang Rp 3,6 juta. Sementara tiket untuk putaran final dijual setidaknya 2.030 dolar AS atau setara dengan Rp 36 juta.
Di pasar sekunder, harganya melambung ugal-ugalan. Para penggemar tim Brasil misalnya, harus merogoh kocek hingga 3.800 dolar AS atau Rp 62,4 juta untuk bisa nonton langsung pertandingan tiga babak penyisihan grup. Sementara pendukung tim Tanjung Verde harus menyisihkan uang nyaris 1.000 dolar AS atau setara Rp 17,8 juta per pertandingan di fase penyisihan grup.
”Analisis kami memperkirakan bahwa Piala Dunia akan menjadi acara kebudayaan termahal yang pernah ada,” kata salah satu laporan The Economist.
Setelah menyesuaikan dengan inflasi pun, harga tiket Piala Dunia 2026 lebih besar dua kali lipat daripada Piala Dunia 2022 di Qatar. Harganya empat kali lipat dibandingkan kali terakhir Amerika menjadi tuan rumah turnamen pada 1994.
Sampai saat ini, banyak tiket belum terjual habis. Okupansi hotel-hotel di berbagai kota tuan rumah belum mencapai ekspektasi. Ditambah lagi, harga tiket pesawat dengan tujuan kota-kota tempat penyelengaraan Piala Dunia 2026 sudah jauh-jauh hari terbang tinggi.
Bagi masyarakat biasa, bahkan kelompok kaya sekalipun, mesti berpikir ulang untuk pergi ke Amerika Utara menonton Piala Dunia 2026. Namun, tidak bagi kaum ultratajir.
Bagi mereka, harga tiket mahal dan kenaikan berbagai tarif akomodasi pada Piala Dunia 2026 bukan isu sama sekali. Bahkan, mereka menikmati turnamen empat tahunan itu seperti piknik panjang dengan berbagai fasilitas eksklusif nan mewah.
Misalnya, alih-alih pusing mencari tiket pesawat komersial reguler, mereka menyewa jet pribadi untuk mobilitas. Sentient Jet, misalnya, penemu kartu jet (jet card) sekaligus pionir dalam industri aviasi sejak 1999, menawarkan fasilitas ini. Mengutip Forbes, mereka pun memiliki agenda pemasaran khusus dalam event besar, termasuk Piala Dunia 2026.
Presiden Sentient Jet, Alan Walsh, mengatakan, ”turunkan dan pergi” alias drop and go merupakan strategi yang digunakan pesawat jet ini ketika lahan parkir bandara terbatas dan tak tersedia. Situasi ini kerap terjadi selama acara-acara besar global.
Pesawat akan menurunkan penumpang langsung di tujuan. Selanjutnya, pesawat menuju bandara terdekat yang menyediakan lahan parkir. Pesawat akan kembali menjemput penumpang ke titik penjemputan saat para penumpang sudah siap berangkat.
”Cara ini merupakan salah satu metode paling efektif untuk bergerak di tengah kemacetan dan tetap beroperasi di tengah keterbatasan kapasitas bandara. Walau tampaknya kurang nyaman pada mulanya, hal ini membantu kami untuk mengelola keandalan jadwal dan memastikan pesawat benar-benar di tempat yang tepat dan pada waktu yang seharusnya,” tutur Walsh.
Jika titik penjemputan bukan opsi paling efisien, Sentient Jet tak segan menyediakan pesawat terpisah untuk mencari jalur masuk dan keluar yang efisien. Upaya ini merupakan komitmen untuk menciptakan perjalanan yang nyaman dan mulus bagi para kliennya.
Dinamika selama penyelenggaraan acara besar, termasuk Piala Dunia 2026, tentu lebih rumit dibandingkan hari-hari biasa. Oleh karena itu, menurut Walsh, konsumen perlu menyesuaikan ekspektasi dan bersikap lebih fleksibel agar mudah menghadapi perubahan rencana perjalanan yang terjadi mendadak.
Saat ditanya contoh estimasi biaya perjalanan, masih mengutip laporan Forbes, Walsh mengatakan, hitungan kasar seperti ini. Dari Barcelona, Spanyol, ke New York City, AS, biayanya sekitar 125.000 dolar AS atau Rp 2,23 miliar.
Fasilitas ini berupa pesawat berkabin luas yang beroperasi nonstop. Namun, sejumlah variabel dapat memengaruhi hitungan akhirnya, termasuk kebutuhan kru pesawat, avtur, rute, fee bandara, tipe pesawat, dan ketersediaan.
Selain sewa pesawat, kaum tajir juga memanfaatkan yacht atau kapal pesiar kecil untuk kepentingan menonton Piala Dunia 2026. Dalam skema ini, nonton sepak bola tidak melulu harus hadir langsung di stadion, tetapi bisa dinikmati melalui layar digital dari atas air dengan ragam fasilitas mewah.
Para tamu dapat bergabung untuk nonton pertandingan dalam sebuah pesta di atas yacht mewah selama 4 jam. Dengan harga mencapai 25.000 dolar AS atau Rp 445,7 juta, tamu dapat menikmati pertandingan sembari menyantap suguhan makanan dan minuman.
Dan yang lebih gila lagi, mereka bisa bertemu langsung (meet and greet) dengan legenda sepak bola. Seperti dilansir New York Post, pengalaman mewah ini antara lain menawarkan tamu bertemu Roberto Carlos dari Brasil.
Merujuk Laporan Kekayaan atau ”The Wealth Report” yang dirilis Knight Frank pada 2026, populasi individu dengan kekayaan sangat tinggi atau ultra high net worth individual (UHNWI, kekayaan lebih dari 30 juta dolar AS) meningkat secara global.
Jumlahnya meningkat dari 551.435 individu pada 2021 menjadi 713.626 individu pada 2026. Pada tahun ini, AS masih mendominasi dengan kontribusi 41 persen.
”Kami melihat adanya pergeseran signifikan dalam distribusi kekayaan global dalam sejarah modern. Meski AS masih dominan, India dan sekelompok negara dengan ekonomi yang tumbuh cepat turut membentuk lanskap global. Meski isu geopolitik dan inflasi, modal privat menunjukkan ketahanan yang luar biasa,” tutur Global Head of Research di Knight Frank, Liam Bailey, dikutip dari laman resminya.
Pada akhirnya, Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang siapa bermain di lapangan, tapi juga siapa mampu membeli akses ke dalamnya. Anda kaum ultra tajir? Jika iya, selamat menikmati. Jika tidak, ada banyak cara lain yang tidak kalah nikmat. Enjoy saja.





