Delegasi Iran meninggalkan meja perundingan di Swiss setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan kembali menyerang Teheran.
IDXChannel - Delegasi Iran meninggalkan meja perundingan di Swiss setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan kembali menyerang Teheran.
Dimediasi Qatar dan Pakistan, Iran dan AS memulai perundingan di Swiss pada Minggu kemarin.
“Qatar dan Pakistan mencoba untuk meneruskan pembicaraan, namun kami menyatakan bahwa pertemuan segi empat tidak dapat dilanjutkan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei kepada wartawan, dilansir dari Al Jazeera pada Senin (22/6/2026).
“Pandangan delegasi Iran adalah bahwa kita harus memaksa pihak lawan untuk melaksanakan komitmennya,” ujarnya.
Melalui unggahan di media sosial,Trump mengancam akan melancarkan serangan yan lebih keras dari sebelumnya.
"Iran harus segera menghentikan para proksi mereka di Lebanon," kata Trump di Truth Social.
"Jika tidak, kami akan kembali menyerang Iran dengan sangat keras, seperti yang kami lakukan minggu lalu, hanya saja serangan kali ini akan lebih keras," katanya.
Pembicaraan di Swiss berfokus pada implementasi Paragraf 13 dari nota kesepahaman (MoU) Iran-AS yang baru saja ditandatangani, yang menetapkan syarat untuk memulai negosiasi perjanjian akhir, termasuk mengakhiri perang di semua front termasuk Lebanon, mencabut blokade laut AS, membuka kembali Selat Hormuz, mengeluarkan pengecualian sanksi untuk ekspor minyak Iran, dan melepaskan aset Iran yang dibekukan.
Agresi Israel di Lebanon menjadi batu sandungan utama dalam perundingan antara AS dan Iran. Sebelum dimulainya pertemuan di Swiss, Teheran menyatakan Selat Hormuz kembali ditutup hingga Tel Aviv menghentikan serangannya di negara Arab itu. (Wahyu Dwi Anggoro)





