China, VIVA - Mobil listrik selama ini dipandang sebagai solusi transportasi masa depan yang lebih ramah lingkungan dan mampu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Namun di balik pesatnya pertumbuhan kendaraan listrik, muncul tantangan baru yang mulai dirasakan sejumlah negara, termasuk China.
Sebagai pasar mobil listrik terbesar di dunia, China kini menghadapi persoalan yang tidak banyak dibahas. Semakin banyaknya kendaraan listrik yang beredar di jalan raya ternyata berdampak pada meningkatnya biaya perawatan infrastruktur jalan.
Dikutip VIVA dari South China Morning Post, Senin 22 Juni 2026, kendaraan energi baru atau new energy vehicle (NEV) telah menyumbang lebih dari 60 persen penjualan mobil baru di China pada Mei 2026. Angka tersebut menunjukkan betapa cepatnya peralihan masyarakat dari kendaraan berbahan bakar bensin ke mobil listrik dan hybrid.
Di satu sisi, pencapaian itu dianggap sebagai keberhasilan besar dalam transformasi industri otomotif nasional. Namun di sisi lain, pemerintah daerah mulai menghadapi tekanan anggaran yang semakin besar.
Salah satu penyebabnya adalah karakteristik mobil listrik yang umumnya memiliki bobot lebih berat dibandingkan mobil bermesin konvensional. Kehadiran paket baterai berkapasitas besar membuat berat kendaraan meningkat ratusan kilogram.
Bobot tambahan tersebut menyebabkan permukaan jalan menerima tekanan lebih besar, terutama pada ruas dengan lalu lintas padat. Akibatnya, kebutuhan perbaikan dan pemeliharaan jalan meningkat lebih cepat dibanding sebelumnya.
Masalah tidak berhenti di situ. Selama puluhan tahun, sebagian besar biaya pemeliharaan jalan di China ditopang oleh pajak konsumsi bensin. Skema ini dinilai efektif karena semakin banyak kendaraan yang menggunakan bahan bakar, semakin besar pula pemasukan negara untuk mendukung pembangunan dan perawatan infrastruktur.
Penelitian dari Transport Planning and Research Institute China menunjukkan bahwa pada 2021, lebih dari 80 persen biaya pemeliharaan jalan biasa ditutupi oleh penerimaan pajak bensin. Dana tersebut kemudian disalurkan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk membiayai berbagai pekerjaan perbaikan jalan.
Namun, transisi menuju kendaraan listrik mulai menggerus sumber pendapatan tersebut. Ketika konsumsi bensin menurun karena masyarakat beralih ke kendaraan listrik, pemasukan dari pajak bahan bakar ikut menyusut.





