Bisnis.com, JAKARTA — Perumahan terhadap sekitar 4.000 pekerja di PT Feng Tay Indonesia dinilai mencerminkan tekanan yang tengah dihadapi industri alas kaki nasional. Kondisi tersebut dipicu kombinasi penurunan pesanan ekspor dan melemahnya daya saing Indonesia dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam, India, dan Kamboja.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan industri alas kaki berorientasi ekspor saat ini menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global di tengah persaingan yang makin ketat untuk mendapatkan pesanan dari merek-merek internasional.
Menurut dia, merek global umumnya memiliki jaringan produksi di berbagai negara, termasuk Indonesia, Vietnam, Kamboja, dan India. Karena itu, alokasi pesanan sangat bergantung pada tingkat daya saing masing-masing negara.
"Semua sangat tergantung pada iklim industri dalam negeri. Jadi permintaan global tuh kalau Indonesia nggak bisa penuhin, ya dia akan ke negara lain,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Senin (22/6/2026).
Meski demikian, Billie menegaskan kondisi tersebut tidak berarti seluruh investor akan meninggalkan Indonesia. Dampak yang lebih mungkin terjadi adalah berkurangnya volume pesanan dan penurunan kapasitas produksi.
"Tetapi bukan hengkang. Artinya di sini akan mengurangi tenaga kerja, akan mengurangi pesanan,” sebut Billie.
Baca Juga
- Pengusaha Logistik Harap Permendag Impor Baru Tak Ganggu Rantai Pasok Industri
- Pemadaman Listrik, Industri Semen Dibayangi Penurunan Utilisasi & Kerusakan Alat
- KSPSI: Pabrik Keramik di Bekasi Terancam Tutup Imbas Gas Industri Mahal
Dia mengatakan Vietnam masih menjadi pesaing utama Indonesia di industri alas kaki. Namun, India dan Kamboja mulai muncul sebagai tujuan investasi baru karena dinilai menawarkan iklim usaha yang lebih menarik bagi industri padat karya.
“Selama kita nggak gak berusaha memberikan iklim industri yang kondusif, pasti dia akan ke negara lain. Bahkan kita khawatirnya India akan menyalip [posisi Indonesia],” tambah Billie.
Karena itu, Aprisindo mendorong pemerintah segera memperbaiki iklim investasi agar Indonesia tetap menjadi tujuan ekspansi industri alas kaki global. Menurutnya, kebijakan yang lebih mendukung industri padat karya menjadi kunci untuk mempertahankan investasi sekaligus membuka lapangan kerja.
Billie juga meminta pemerintah mempercepat proses perizinan, memberikan kepastian hukum, memperbaiki mekanisme restitusi pajak pertambahan nilai (PPN), menyediakan insentif fiskal, serta menjaga keandalan pasokan energi bagi industri.
“Kita sudah tertinggal sama Vietnam, jangan sampai tertinggal lagi sama yang baru-baru ini [India, Kamboja],” pungkasnya.





