AS dan Iran Gelar KTT Perdamaian di Danau Lucerne, Swiss, Wapres JD Vance Berharap Mengakhiri Konflik di Timur Tengah

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Amerika Serikat dan Iran pada Minggu (21/6/2026) menggelar pembicaraan damai di Swiss. Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, yang memimpin delegasi AS dalam perundingan tersebut, menyatakan bahwa Washington berharap dapat membuka lembaran baru dan mendorong perdamaian di Timur Tengah. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga secara terbuka menyampaikan terima kasih kepada Presiden AS Donald Trump atas upayanya memfasilitasi pertemuan bersejarah ini.

Pertemuan damai antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung di kawasan Danau Lucerne, Swiss, dengan delegasi AS dipimpin oleh Wakil Presiden Vance serta dimediasi bersama oleh perwakilan dari Pakistan dan Qatar.

Kedua pihak melakukan perundingan berdasarkan nota kesepahaman yang ditandatangani pekan lalu. Agenda pembahasan meliputi pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian menyeluruh seluruh aksi permusuhan.

Vance mengatakan bahwa Amerika Serikat ingin “membuka lembaran baru” dan mengulurkan tangan persahabatan kepada rakyat Iran demi mengubah secara mendasar pola konfrontasi yang telah berlangsung di Timur Tengah selama satu dekade terakhir.

“Kami ingin menunjukkan kepada rakyat Iran bahwa apabila para pemimpin Iran bersedia menghentikan tindakan yang memicu ketidakstabilan di kawasan dan bersedia meninggalkan pengembangan senjata nuklir secara permanen, maka Amerika Serikat juga siap mengubah secara menyeluruh hubungannya dengan Iran,” katanya. 

Ia menambahkan bahwa pembahasan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan upaya mendorong Iran menghentikan pengembangan senjata nuklir telah mencapai kemajuan awal.

“Pertanyaan yang kita hadapi sekarang adalah, seberapa jauh lagi kita dapat mencapai kemajuan bersama? Bisakah kita benar-benar membuka lembaran baru dan mengubah situasi di Timur Tengah secara permanen? Atau justru kembali ke pola lama? Itu bukan yang kami inginkan, tetapi kemungkinan tersebut tetap ada,” katanya. 

Menurutnya, tujuan pertemuan kali ini bukan untuk menyelesaikan seluruh perselisihan sekaligus, melainkan membangun mekanisme negosiasi teknis agar semua pihak dapat membahas perbedaan secara sistematis dan meletakkan dasar bagi pembicaraan lanjutan.

Di saat yang sama, Vance menyebut bahwa kemajuan signifikan juga telah dicapai dalam upaya gencatan senjata di Lebanon dalam beberapa hari terakhir. Amerika Serikat sedang bekerja sama dengan Qatar, Pakistan, dan Israel untuk mendorong tercapainya gencatan senjata regional secara menyeluruh, meskipun masih ada sejumlah hal yang perlu diselesaikan.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif turut menyampaikan apresiasi kepada Presiden Trump atas perannya dalam mewujudkan perundingan tersebut.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden Trump atas kepemimpinannya yang visioner dan penuh keberanian sehingga pertemuan hari ini dapat terlaksana,” ujarnya. 

“Saya berharap ketika semua pihak kembali ke negaranya masing-masing, mereka membawa pulang sebuah kesepakatan yang akan mendorong perdamaian, kemajuan, dan kemakmuran dunia.”

Sementara itu, Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menegaskan bahwa Qatar akan terus menjalankan peran mediasi dengan harapan tercapainya perjanjian damai yang membawa stabilitas dan kemakmuran bagi Timur Tengah maupun dunia.

“Kesepakatan ini sangat penting, bukan hanya untuk keamanan kawasan, tetapi juga demi menjaga keamanan dunia dan stabilitas ekonomi global,” katanya. 

Pertemuan ini merupakan salah satu kontak langsung tingkat tinggi yang jarang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran dan dipandang memiliki arti historis.

Menariknya, ketika perwakilan Amerika Serikat bersama para pemimpin Pakistan dan Qatar memberikan keterangan kepada media, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, meskipun hadir di lokasi, tidak berfoto bersama Vance maupun ikut menyampaikan pernyataan bersama.

Mengenai tidak adanya sesi foto bersama tersebut, kedua pihak memberikan penjelasan yang berbeda. Menurut laporan media Axios yang mengutip seorang pejabat Amerika Serikat, Iran sebelumnya telah menyetujui sesi pengambilan gambar sebelum konferensi pers dan bahkan telah menempatkan media pemerintahnya di lokasi. Namun setelah melihat banyaknya wartawan yang hadir, delegasi Iran meninggalkan ruang pertemuan dan kemudian melalui media pemerintahnya menerbitkan laporan yang menyatakan bahwa pihak Amerika menolak permintaan foto bersama, yang menurut pejabat AS merupakan informasi yang tidak benar.

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
33,24 Juta Warga Dapat Bantuan Beras 2026, Kapan dan Siapa Saja Penerimanya?
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Pesawat Jet NASA Cetak Rekor Melaju Tembus Kecepatan Suara dengan Senyap
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Rekomendasi Laptop Tahan Banting yang Cocok untuk Penggunaan Jangka Panjang
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Insiden Mendadak di Jalur 6–7 Stasiun Bekasi, Eskalator Jadi Sumber Kepanikan
• 44 menit lalukompas.com
thumb
Sebelum Hoaks Menyebar, Otak Sudah Percaya Duluan
• 17 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.