jpnn.com, JAKARTA - Pengusaha dan Aktivis sekaligus Pegiat Kebangsaan David Herson mengingatkan bangsa Indonesia tidak boleh kehilangan ingatan sejarah.
Reformasi 1998 adalah salah satu titik balik terpenting dalam perjalanan bangsa, lahir dari penderitaan rakyat akibat krisis ekonomi, ketidakpastian politik, dan tuntutan besar akan perubahan.
BACA JUGA: LMND Luncurkan Kepengurusan Baru, Lawan Kaum Serakahnomics
"Reformasi seharusnya menjadi jalan menuju demokrasi yang lebih sehat, pemerintahan yang lebih akuntabel, serta kehidupan berbangsa yang lebih adil dan sejahtera," ujar David Herson dalam keterangan tertulis pada Selasa (23/6).
Namun, menurut David Herson, sejarah juga mengajarkan bahwa di setiap perubahan besar selalu ada kelompok-kelompok yang berusaha menunggangi gelombang ketidakpuasan demi kepentingannya sendiri.
BACA JUGA: David Herson Apresiasi Langkah Dasco Menerima dan Berdialog dengan Mahasiswa di Kompleks DPR
Dia menyebut fenomena ini sebagai “serakahnomic”, yaitu perilaku segelintir pihak yang menjadikan kegaduhan politik, kemarahan publik, bahkan krisis nasional sebagai instrumen untuk memperoleh keuntungan ekonomi maupun kekuasaan.
Dalam pandangannya, gejala yang ia sebut sebagai “1998 Redux” bukanlah semangat reformasi yang murni, melainkan kecenderungan untuk memproduksi ulang suasana krisis dan polarisasi dengan narasi yang berbeda tetapi dengan tujuan yang sama: menciptakan ketidakstabilan yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu.
BACA JUGA: David Herson: Seskab Teddy Figur Peduli dan Inspiratif Bagi Anak Muda
Mereka berbicara atas nama rakyat, tetapi yang diperjuangkan belum tentu kepentingan rakyat. Mereka mengaku sebagai pejuang demokrasi, tetapi sering kali lebih tertarik pada perebutan pengaruh dan kekuasaan.
David Herson menilai bahwa sejarah Indonesia telah membuktikan bahwa kekacauan selalu menjadi lahan subur bagi tumbuhnya oportunisme.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, selalu ada kaum yang melihat penderitaan masyarakat sebagai peluang.
Mereka menjual kemarahan, memelihara kebencian, memperbesar perpecahan, dan menjadikan keresahan sosial sebagai komoditas politik.
Dalam situasi seperti itu, rakyat kecil yang seharusnya dilindungi justru menjadi pihak yang paling banyak menanggung akibat.
Menurutnya, demokrasi tidak boleh berubah menjadi industri kemarahan. Kritik terhadap pemerintah merupakan hak konstitusional setiap warga negara dan merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi.
Akan tetapi, kritik yang sehat seharusnya melahirkan gagasan, solusi, dan perbaikan.
Ketika kritik berubah menjadi kebencian yang terus dipelihara, ketika setiap kebijakan dipandang sebagai musuh, dan ketika kegaduhan dianggap lebih penting daripada solusi, maka demokrasi sedang kehilangan substansinya.
David Herson juga mengingatkan bahwa reformasi sejati tidak dibangun di atas dendam, melainkan di atas visi besar untuk masa depan bangsa. Indonesia membutuhkan persatuan yang kuat, institusi yang kokoh, ekonomi yang inklusif, serta budaya politik yang lebih dewasa.
Bangsa ini tidak boleh terus-menerus disandera oleh kelompok-kelompok yang memperoleh keuntungan dari perpecahan dan ketidakstabilan.
Ia menegaskan bahwa generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar sejarah 1998 tidak dipelintir menjadi sekadar alat propaganda. Reformasi adalah warisan bangsa yang harus dijaga, bukan dimanipulasi.
Semangat perubahan tidak boleh diperalat untuk memuaskan ambisi segelintir orang yang berlindung di balik slogan-slogan populis, sementara tujuan sesungguhnya adalah mempertahankan privilese dan kepentingan mereka sendiri.
“Indonesia tidak membutuhkan pengulangan luka sejarah. Bangsa ini membutuhkan kebijaksanaan, kedewasaan, dan keberanian untuk membangun masa depan. Jangan biarkan reformasi dibajak oleh kaum serakahnomic yang menjadikan kegaduhan sebagai investasi dan perpecahan sebagai sumber keuntungan. Demokrasi yang sehat lahir dari akal sehat, bukan dari kebencian yang dipelihara tanpa akhir,” demikian pandangan David Herson.
Bagi David Herson, pelajaran terbesar dari 1998 bukanlah bagaimana menciptakan kekacauan, melainkan bagaimana bangsa ini mampu bangkit dari krisis, menjaga persatuan, dan membuktikan bahwa Indonesia selalu lebih besar daripada kepentingan kelompok mana pun.
Sebab pada akhirnya, sejarah akan selalu berpihak kepada mereka yang membangun, bukan kepada mereka yang hidup dari kegaduhan.(fri/jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




