Baru-baru ini, wilayah di tepi Gurun Taklamakan di Xinjiang diguyur hujan deras secara tiba-tiba yang memicu banjir. Akibatnya, beberapa ruas jalan tol terendam air dan banyak pelancong mengalami hambatan dalam perjalanan.
EtIndonesia.com Pada 20 Juni 2026, sejumlah warganet di Tiongkok mengunggah video di media sosial yang memperlihatkan banjir di Gurun Taklamakan. Mereka mengungkapkan keheranannya karena banjir tersebut bahkan menenggelamkan jalan tol.
Video-video yang beredar menunjukkan bahwa kawasan gurun yang biasanya kering berubah menjadi lautan air berlumpur. Jalan tol tampak seperti sungai, dengan banyak kendaraan berhenti di pinggir jalan karena terhalang banjir, sementara beberapa kendaraan lain nekat menerobos genangan air.
Seorang pengguna media sosial bermarga Yang, yang mengunggah video tersebut, mengatakan kepada media Jimu News bahwa pada hari itu ia dan rombongannya sedang berwisata di Padang Rumput Yunxi, Desa Halajun. Pada sore hari mulai turun hujan ringan disertai kilat. Sekitar pukul 19.00, hujan semakin deras sehingga mereka memutuskan berkemas dan meninggalkan lokasi menuju Desa Gedaliang.
6月20日,塔克拉瑪乾沙漠驚現洪水,多段高速公路被洪水淹沒。 pic.twitter.com/0rWtxhasmo
— ying tang (@yingtan04410735) June 22, 2026Dalam perjalanan, hujan terus bertambah deras. Setelah menempuh sekitar 40 kilometer di Jalan Nasional 219, mereka mencapai puncak gunung dan bersiap turun ketika melihat air berlumpur mengalir deras ke bawah.
Semakin turun dari pegunungan, debit air semakin besar hingga akhirnya menyatu membentuk pemandangan yang menurutnya “spektakuler seperti Air Terjun Hukou”. Mereka kemudian berhasil menerobos banjir dengan mobil.
Setelah itu, mereka memasuki Jalan Tol G3012 Turpan–Hotan dengan tujuan menuju Kashgar. Namun, baru sekitar 500 meter memasuki jalan tol, mereka terjebak kemacetan karena air banjir telah meluap ke permukaan jalan. Mereka menunggu sekitar 40 menit hingga debit air berkurang sebelum akhirnya melintasi genangan tersebut.
Seorang wisatawan lain, Nona Wei, yang sedang melakukan perjalanan dengan sepeda motor, mengatakan bahwa sekitar pukul 19.00 ia melihat sejumlah kendaraan berbalik arah dan melaju melawan arus di jalan tol tersebut. Tak lama kemudian, ia menemui kemacetan dan mendapati banjir setinggi betis melintasi permukaan jalan. Setelah menunggu sekitar satu jam dan air mulai surut, ia berhasil melintas dengan bantuan sebuah truk besar yang menghalangi arus air. Meski demikian, sepatu botnya tetap basah kuyup.
Video lain juga memperlihatkan banjir yang melintasi jalan tol di dekat Area Istirahat Kunyu di Jalan Tol Turpan–Hotan. Air bah membawa lumpur dalam jumlah besar sehingga setelah banjir surut, permukaan jalan tertutup lapisan lumpur yang tebal.
Seorang pensiunan pegawai di area istirahat tersebut mengatakan bahwa hujan mulai turun sejak siang hari dan pada sore harinya air banjir sudah meluap ke jalan tol. Setelah itu, para pekerja bersama alat berat dikerahkan untuk membersihkan lumpur, dan jalan akhirnya dapat dibuka kembali pada hari yang sama.
Menurut informasi yang dirilis oleh Ping’an Jiashi, pada 20 Juni sore, akibat hujan yang berlangsung selama beberapa hari, banjir bandang tiba-tiba terjadi di kilometer 1.164 Jalan Tol Turpan–Hotan di wilayah Kabupaten Jiashi. Lumpur dan material yang terbawa banjir menutupi permukaan jalan sehingga lalu lintas sempat terhambat. Setelah dilakukan pengaturan lalu lintas dan pembersihan jalan, arus kendaraan kembali normal.
Berdasarkan data publik, Gurun Taklamakan terletak di tengah Cekungan Tarim, Xinjiang selatan, dan merupakan gurun terbesar di Tiongkok. Wilayah ini memiliki iklim yang sangat kering, dengan curah hujan tahunan rata-rata kurang dari 100 milimeter, bahkan di beberapa daerah hanya sekitar 4–5 milimeter per tahun.
Kabar banjir mendadak di Gurun Taklamakan memicu berbagai reaksi di media sosial. Sebagian warganet berkomentar, “Semoga gurun ini suatu hari bisa berubah menjadi oasis hijau.”
Namun, ada pula yang berpendapat bahwa manusia seharusnya menghormati alam dan tidak sembarangan mengubah atau menantangnya, karena hal tersebut dapat memicu cuaca ekstrem maupun bencana yang tidak terduga.
Dilaporkan oleh Luo Tingting/Wen Hui – NTDTV.com





