Produsen Beras Topi Koki, Buyung Poetra (HOKI) Beberkan Penyebab Kerugian 2025

bisnis.com
15 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten produsen beras, PT Buyung Poetra Sembada Tbk. (HOKI) mengungkapkan lonjakan harga gabah dan biaya transportasi menjadi faktor yang menyebabkan perseroan mencatatkan kerugian pada 2025.

Direktur Buyung Poetra Sembada Budiman Susilo mengatakan bahwa kerugian terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan baku untuk produk beras premium yang berada di atas asumsi normal perseroan.

“Sebetulnya yang biasanya menyebabkan kerugian itu adalah beras premium itu dibuat dengan harga tertentu. Itu dengan kondisi riil pada waktu yang normal. Kalau umpamanya harga gabahnya berkisar antara Rp6.500—Rp7.000 per kilogram, tapi kebanyakan di 2025 itu, harga gabahnya itu berada di atas kondisi riilnya,” ujar Budiman.

Selain harga bahan baku, Budiman mengungkapkan bahwa kenaikan biaya pendukung, terutama transportasi, juga memberikan kontribusi besar terhadap kerugian perseroan. Dia menjelaskan HOKI memperoleh bahan baku dari berbagai daerah sehingga tidak dapat bergantung hanya pada satu sumber pasokan.

“Ditambah lagi tentu kontribusi dari biaya pendukung yang lain, itu juga ada transportasi. Karena kan yang namanya bahan baku itu tentunya kita dapatkan dari berbagai sumber, tidak bisa hanya dari satu sumber saja,” katanya.

Menurut dia, selama ini perseroan mendapatkan pasokan bahan baku dari lima provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatra Selatan. “Untuk itu kami kan juga ada transportasi yang naik. Kalau dilihat di 2025 itu transportation cost dan segala macam naiknya juga cukup banyak. Itu juga kontribusi terbesarnya,” ujarnya.

Baca Juga : Sukarto Bujung Serok Jutaan Lembar Saham HOKI, Produsen Beras Topi Koki

Memasuki 2026, Budiman memperkirakan kenaikan biaya pendukung masih akan berlanjut, terutama yang dipengaruhi pergerakan nilai tukar dan kondisi geopolitik.

Budiman menyoroti risiko kenaikan harga packaging yang diprediksi mampu mengalami kenaikan 70—80% dari harga normal. Belum lagi, tekanan datang dari harga BBM yang dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di Iran.

“Ya, tentu kalau di 2026 kenaikkan harga bahan pendukung itu pasti akan naik kalau kursnya naik. Itu tentunya, apalagi karena faktor geopolitik. Itu berpengaruh kepada harga packaging yang naik. Bisa bahkan 70—80% daripada yang seharusnya. Harga BBM pasti akan mempengaruhi daripada transportasi. Itu yang paling bisa kita bicarakan. Kalau suku bunga kita belum terlalu [terdampak],” katanya.

Adapun, sepanjang 2025 HOKI membukukan pendapatan total senilai Rp1,21 triliun, turun dari Rp1,29 triliun pada periode Januari—Desember 2024.

Sejalan dengan turunnya penjualan, beban pokok penjualan perseroan sebetulnya turut mengalami penurunan, dengan mencapai Rp1,12 triliun pada 2025, dari Rp1,19 triliun pada 2024.

Hanya saja, setelah dikurangi berbagai beban dan pajak, HOKI justru membukukan rugi tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau rugi bersih yang membengkak menjadi Rp34,24 miliar, dari kerugian Rp3 miliar pada periode yang sama 2024.

--

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lantik 369 Kepsek, Munafri: Jangan Ada Praktik Titip Siswa
• 23 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Lestari Summit 2026 Soroti Peran Penggerak Lokal dalam Mendorong Ekonomi Daerah Berkelanjutan
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Trump Tetap Mengancam Meski AS-Iran Capai Kesepakatan
• 16 jam laludetik.com
thumb
Jawaban Santai Pelaku Penyekapan Wanita Rancaekek saat Digiring Jadi Sorotan, Hanya Ucap Dua Kata kepada Polisi
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Ekspor Lobster Sumbar Turun Drastis, Budidaya Jadi Harapan Baru
• 53 menit lalubisnis.com
Berhasil disimpan.