“Listrik sering mati sekarang,” kata istri saya suatu petang.
Kalimat itu terdengar biasa saja, nyaris seperti keluhan domestik sehari-hari yang akan hilang setelah beberapa menit. Tetapi belakangan, kalimat semacam itu justru terasa seperti penanda zaman—sebuah gejala kecil yang diam-diam menyimpan persoalan besar.
Beberapa hari terakhir, pemadaman listrik terasa semakin sering. Ironisnya, sebagian besar terjadi pada saat petang, tepat ketika kehidupan rumah tangga sedang mencapai puncak aktivitasnya. Lampu dinyalakan. Kipas angin mulai bekerja. Anak-anak belajar. Televisi bersuara. Ponsel diisi daya. Dapur menyalakan peralatan elektronik. Pada jam-jam itulah listrik tidak lagi sekadar aliran energi, melainkan syarat dasar agar ritme hidup tetap berjalan.
Saat membuka Facebook, saya menemukan sebuah unggahan yang mengeluhkan keadaan ini. Ada satu kalimat satir yang membuat saya tersenyum pahit: sekarang bukan giliran pemadaman listrik, melainkan giliran listrik menyala.
Lucu, tetapi menampar.
Humor semacam itu hampir selalu lahir dari kejengkelan kolektif. Ketika orang tak lagi punya saluran untuk menyalurkan frustrasi, satire menjadi mekanisme pertahanan. Kita menertawakan sesuatu agar bisa menanggungnya. Kita membuat lelucon tentang keadaan yang sebenarnya melelahkan.
Tak lama setelah membaca unggahan itu, saya melihat berita di Kumparan bahwa PLN meminta maaf atas pemadaman bergilir di Pulau Jawa. Penyebabnya disebut karena kendala pasokan batu bara untuk pembangkit.
Bagi sebagian orang, penjelasan itu mungkin cukup. Tetapi bagi saya, yang pernah tinggal di pedalaman Kalimantan—wilayah yang akrab dengan tambang batu bara—penjelasan itu justru memunculkan pertanyaan yang sulit diabaikan.
Bagaimana mungkin negeri yang menggali batu bara dari perut buminya sendiri justru mengalami krisis pasokan untuk menghasilkan listrik?
Pertanyaan ini tentu bukan sekadar soal logistik. Ada sesuatu yang terasa janggal ketika negara yang kaya sumber daya justru berkali-kali mengalami kelangkaan pada sektor yang sangat mendasar.
Negeri Kaya, Sistem Rapuh?Indonesia kerap disebut negeri kaya. Kaya hutan, kaya mineral, kaya energi, kaya laut. Tetapi sejarah juga berulang kali menunjukkan satu ironi: kekayaan sumber daya tidak otomatis melahirkan ketahanan sistem.
Ekonom Richard Auty pernah memperkenalkan istilah resource curse—kutukan sumber daya—untuk menjelaskan paradoks ketika negara kaya sumber daya justru tertinggal dalam pembangunan institusi, tata kelola, dan diversifikasi ekonomi. Sumber daya yang melimpah bisa menciptakan rasa aman semu. Ketika semuanya tersedia, dorongan untuk membangun sistem yang tahan guncangan sering melemah.
Dalam konteks energi, ketergantungan berlebihan pada satu sumber menciptakan kerentanan struktural. Batu bara selama ini menjadi tulang punggung pasokan listrik nasional. Menurut data Kementerian ESDM, lebih dari separuh pembangkitan listrik Indonesia masih bergantung pada batu bara. Artinya, ketika satu mata rantai pasokan terganggu—entah produksi, distribusi, harga global, atau kebijakan ekspor—dampaknya bisa merambat luas.
Masalahnya bukan semata-mata karena batu bara. Masalahnya adalah ketergantungan.
Sistem yang sehat tidak dibangun di atas satu kaki.
Ia membutuhkan diversifikasi, redundansi, dan kemampuan beradaptasi.
Karena itu, ketika listrik padam bergilir, yang sesungguhnya kita saksikan bukan hanya gangguan teknis. Kita sedang melihat gejala dari sistem energi yang masih rentan.
Listrik sebagai Kebutuhan Primer BaruDulu, kita diajarkan bahwa kebutuhan primer manusia terdiri atas tiga hal: pangan, sandang, dan papan.
Hari ini, definisi itu terasa tak lagi memadai.
Listrik barangkali belum masuk buku pelajaran sebagai kebutuhan primer, tetapi dalam praktik kehidupan modern, ia sudah menempati posisi yang setara—bahkan mungkin lebih fundamental daripada yang kita sadari.
Coba bayangkan rumah tanpa listrik.
Secara fisik, rumah itu tetap berdiri. Dindingnya ada. Atapnya ada. Pintu dan jendelanya ada. Tetapi begitu aliran listrik berhenti, rumah modern mendadak kehilangan sebagian besar fungsinya.
Rumah tanpa listrik hari ini hampir seperti tubuh tanpa aliran darah: bentuknya tetap utuh, tetapi daya hidupnya menurun drastis.
Sosiolog Manuel Castells menyebut masyarakat modern sebagai network society—masyarakat jaringan, di mana hampir seluruh relasi sosial, ekonomi, dan informasi bergantung pada infrastruktur konektivitas. Listrik menjadi fondasi sunyi dari seluruh jaringan itu. Ia jarang disadari justru karena keberadaannya dianggap pasti.
Kita baru sadar betapa pentingnya listrik ketika ia menghilang.
Seperti udara.
Kita tidak memikirkannya saat tersedia, tetapi panik ketika kekurangan.
Yang Padam Bukan Hanya LampuPemadaman listrik sering dipahami sebagai padamnya lampu.
Padahal yang padam jauh lebih banyak.
Yang padam adalah produktivitas.
Yang padam adalah penghasilan.
Yang padam adalah kenyamanan.
Kadang bahkan ketenangan psikologis.
Saya membaca keluhan seorang penjual jus di media sosial. Ia tidak bisa menyalakan blender karena listrik mati. Ia tidak dapat berjualan. Sederhana, tetapi brutal dalam dampaknya. Satu pemadaman bisa berarti satu hari tanpa pendapatan.
Bagi pekerja informal, gangguan kecil bisa berujung pada konsekuensi besar.
Kita hidup di era ketika banyak sektor ekonomi bertumpu pada perangkat elektronik. UMKM menggunakan freezer, mixer, oven listrik, mesin kasir digital, hingga layanan pembayaran berbasis internet. Ketika listrik padam, rantai aktivitas ekonomi terputus.
Kerugian tidak selalu tampak dalam angka besar. Kadang ia hadir sebagai akumulasi gangguan kecil yang menggerus kehidupan pelan-pelan.
Lebih jauh, pemadaman juga menyentuh dimensi psikologis manusia modern.
Di kota-kota besar, rumah penduduk semakin rapat. Ventilasi alami semakin terbatas. Banyak keluarga mengandalkan AC atau kipas angin agar rumah tetap layak dihuni.
Saat listrik padam, udara mendadak terasa berat.
Panas berubah menjadi tekanan.
Sumuk berubah menjadi stres.
Tubuh manusia ternyata tidak hanya membutuhkan energi dalam bentuk makanan, tetapi juga kenyamanan termal untuk menjaga stabilitas emosional.
Kita jarang membicarakan hubungan antara infrastruktur dan kesehatan mental. Padahal keduanya sering saling berkaitan.
Membayangkan Dunia Tanpa SakelarKadang saya membayangkan satu hal yang sederhana tetapi mengganggu: bagaimana jika listrik benar-benar tidak ada?
Secara historis, manusia pernah hidup tanpa listrik. Peradaban tetap tumbuh. Orang menulis, berdagang, membangun kota, bahkan menciptakan filsafat tanpa bantuan stopkontak.
Tetapi membandingkan masa lalu dengan masa kini tidak sesederhana itu.
Generasi yang hidup sebelum listrik tumbuh bersama kondisi yang menyesuaikan diri dengan ketiadaan listrik. Mereka membangun ritme hidup berdasarkan matahari, musim, dan siklus alam.
Generasi sekarang berbeda.
Mereka lahir di dunia yang denyut nadinya digerakkan oleh energi listrik.
Alarm pagi berbunyi dari ponsel.
Air dipompa listrik.
Komunikasi berjalan lewat jaringan digital.
Transportasi, logistik, kesehatan, pendidikan, hiburan—semuanya bersandar pada energi.
Karena itu, hidup tanpa listrik bagi generasi modern bukan sekadar “kembali ke masa lalu.”
Itu lebih menyerupai pemutusan mendadak dari ekosistem kehidupan yang membentuk identitas kita.
Meminta generasi digital hidup tanpa listrik hampir seperti meminta ikan membayangkan hidup tanpa air.
Bukan mustahil, tetapi mengubah seluruh cara eksistensinya.
Energi dan Imajinasi Masa DepanDi titik ini, pembicaraan tentang listrik tidak lagi cukup berhenti pada keluhan.
Kita perlu berbicara tentang masa depan.
Indonesia sesungguhnya memiliki banyak alternatif energi: matahari, angin, panas bumi, biomassa, gelombang laut, bahkan sampah. Potensi energi surya Indonesia termasuk salah satu yang terbesar di kawasan tropis karena intensitas penyinaran matahari relatif stabil sepanjang tahun.
Persoalannya bukan pada ketiadaan sumber.
Persoalannya terletak pada imajinasi pembangunan.
Kita sering terlalu sibuk mengelola kebutuhan hari ini sampai lupa menyiapkan ketahanan esok hari.
Transisi energi bukan hanya proyek teknologi.
Ia adalah proyek peradaban.
Ia menuntut keberanian politik, investasi jangka panjang, tata kelola yang konsisten, dan kesediaan berpikir melampaui siklus kebijakan lima tahunan.
Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan sekadar bagaimana menyalakan listrik hari ini.
Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: sistem energi seperti apa yang ingin kita wariskan?
Apakah kita ingin terus membangun masa depan dengan fondasi yang rapuh—bergantung pada sumber daya yang terbatas dan rentan terhadap gangguan?
Ataukah kita berani membangun sistem yang lebih tangguh, lebih beragam, dan lebih berkelanjutan?
Barangkali pemadaman listrik ini memberi kita pelajaran yang lebih besar daripada sekadar rasa gerah di malam hari.
Ia memaksa kita menyadari sesuatu yang selama ini luput: peradaban modern berdiri di atas infrastruktur yang tampak sepele justru karena ia bekerja dalam diam.
Listrik adalah salah satunya.
Ia tidak bersuara.
Ia tidak menuntut perhatian.
Tetapi ketika ia hilang, kita segera tahu betapa besar perannya.
Mungkin itulah ironi terbesar dari kehidupan modern: hal-hal yang paling menopang hidup justru sering paling sedikit kita renungkan.
Karena itu, pemadaman listrik seharusnya tidak hanya membuat kita bertanya mengapa lampu padam.
Ia semestinya mendorong pertanyaan yang lebih mendasar.
Tentang ketahanan.
Tentang ketergantungan.
Tentang arah pembangunan.
Dan tentang masa depan seperti apa yang sedang kita bangun.
Sebab pada akhirnya, isu listrik bukan semata urusan energi.
Ia adalah cermin cara sebuah bangsa membayangkan peradabannya sendiri.
Jika cahaya adalah simbol kemajuan, maka tugas kita bukan sekadar menyalakannya kembali ketika padam, melainkan memastikan sumber cahayanya cukup kuat untuk menerangi generasi yang belum lahir.





