Rekor! Ebola di Kongo Tembus 1.000 Kasus dalam Sebulan

detik.com
9 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Pejabat senior Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan dalam pengarahan di Jenewa pada Selasa (23/6) bahwa wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RDK) mencatat jumlah kasus terkonfirmasi tertinggi pada bulan pertama dibandingkan dengan wabah Ebola mana pun yang pernah terjadi di Afrika.

Hingga Senin (22/6), para pejabat telah mengonfirmasi lebih dari 1.000 kasus dan 267 kematian akibat wabah ebolavirus Bundibugyo, jenis Ebola yang relatif langka.

"Ini adalah jumlah kasus terkonfirmasi terbesar pada bulan pertama dari sebuah wabah penyakit Ebola di Afrika," kata Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Abdirahman Mahamud, dalam sebuah siaran pers.

WHO secara resmi mengonfirmasi wabah tersebut pada 15 Mei, namun para ahli meyakini virus itu kemungkinan telah beredar selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan sebelumnya.

Puluhan kasus dikonfirmasi di kamp pengungsian di Kongo timur

"Tanggapan harus diperluas agar mampu mengikuti laju penyebaran wabah yang terus berkembang, dan hal itu mulai dilakukan," kata Mahamud setelah kembali dari kunjungan pekan lalu ke pusat perawatan di Bunia, yang menjadi episentrum wabah.

Kasus kini juga telah dikonfirmasi di sedikitnya tiga kamp pengungsian yang padat penduduknya di wilayah timur Kongo yang dilanda konflik.

Abdoulaye Wone dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengatakan dalam pengarahan yang sama di Jenewa pada Selasa bahwa 25 kasus telah dikonfirmasi di kamp-kamp tersebut, termasuk 14 kematian.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), telah terjadi lebih dari 20 wabah Ebola di Afrika sejak 1970-an.

Dua wabah yang paling mematikan terjadi di Guinea, Sierra Leone, dan Liberia di Afrika Barat yang menewaskan 11.000 orang antara 2014 dan 2016, serta wabah lain di Kongo yang dimulai pada 2018 dengan 2.229 kematian yang tercatat.

Kenya hentikan pembangunan fasilitas karantina Ebola

Sementara itu, Menteri Kesehatan Kenya, Aden Duale, meyakinkan pengadilan Kenya pada Selasa bahwa ia telah memerintahkan penghentian segera pembangunan fasilitas karantina Ebola yang didukung Amerika Serikat (AS) di sebuah pangkalan udara.

Duale pada Senin (22/6) dinyatakan melakukan penghinaan terhadap pengadilan karena gagal mematuhi perintah sebelumnya untuk menghentikan pembangunan sambil menunggu evaluasi dari lembaga peradilan.

Fasilitas berupa tenda di kota Nanyuki, Kenya bagian tengah, direncanakan menjadi pusat perawatan bagi warga negara AS apabila mereka tertular Ebola selama wabah di Republik Demokratik Kongo.

Rencana pembangunan yang pertama kali diumumkan pada Mei tersebut memicu aksi protes yang dalam beberapa kesempatan berujung pada kekerasan, dengan total tiga orang tewas di sekitar lokasi.

Fakta di balik penghentian proyek karantina Ebola di Kenya

Hakim Patricia Nyaundi Mande membebaskan Duale tanpa hukuman lebih lanjut setelah menerima jaminan dari sang menteri, tetapi memperingatkannya agar tidak lagi mengabaikan perintah pengadilan.

"Saya telah menginstruksikan penghentian segera dan sepenuhnya terhadap setiap rencana pembangunan, persiapan lokasi, atau kegiatan terkait yang berhubungan dengan fasilitas di Pangkalan Udara Laikipia hingga sidang dan keputusan atas gugatan utama selesai atau sampai ada perintah lebih lanjut dari pengadilan ini," kata Duale dalam sidang penjatuhan putusan pada Selasa (23/6).

Fasilitas tersebut sedang dibangun di Pangkalan Udara Laikipia, sekitar 200 kilometer dari ibu kota Nairobi, dengan kapasitas sekitar 50 tempat tidur untuk isolasi. Tenaga medis dari AS diperkirakan akan mengelola fasilitas tersebut.

Rencana tersebut memicu penolakan luas di dalam negeri serta aksi protes. Kenya belum pernah mencatat satu pun kasus Ebola, sehingga muncul kekhawatiran publik mengenai kemungkinan membawa pasien ke wilayahnya, bahkan jika mereka langsung diterbangkan ke fasilitas medis yang aman.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia juga berhasil mengajukan gugatan ke pengadilan dengan alasan bahwa fasilitas tersebut dibangun secara diam-diam tanpa konsultasi dengan masyarakat. Pemerintah pada awalnya mengabaikan perintah untuk menghentikan pembangunan sambil menunggu pemeriksaan lebih lanjut.

Data pelacakan penerbangan, citra satelit, serta keterangan pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim menunjukkan bahwa persiapan di lokasi tetap berlangsung meskipun sudah ada perintah awal dari pengadilan.

Satu-satunya warga negara AS yang sejauh ini tertular Ebola dalam wabah saat ini, seorang dokter yang bekerja sebagai misionaris medis di pusat wabah di wilayah timur Republik Demokratik Kongo, telah diterbangkan ke Jerman untuk menjalani perawatan di fasilitas spesialis di Berlin.

Kenya memang tidak berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Kongo, tetapi negara tersebut berada tepat di sebelah timur Uganda, yang berbatasan dengan episentrum wabah di Provinsi Ituri, wilayah timur Republik Demokratik Kongo.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid

width="1" height="1" />




(ita/ita)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
‎Kehadiran Nikita Mirzani di Sidang PK Jadi Polemik, Hakim dan Kuasa Hukum Beda Pendapat
• 13 jam lalugrid.id
thumb
Libur Sekolah-Cuaca Buruk, Antrean di Pelabuhan Ketapang Mengular hingga 10 Km
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
BRI Jatinegara Meriahkan CFD Lewat Booth Rekening dan Kartu Debit FC Barcelona
• 17 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Tiba-tiba Klaim Negaranya Nomor Satu di ASEAN, Media Vietnam: Timnas Indonesia Harus Waspada
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Kuasa Hukum Ungkap Respons Keluarga Korban Penyekapan di Bandung usai Tersangka Ditangkap Polisi
• 15 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.