Analis Ungkap Biang Kerok IHSG Turun 3,65% Usai Pengumuman MSCI

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles sebesar 3,56% atau merosot ke 5.883,88 pada akhir perdagangan Rabu (24/6/2026).

Koreksi tajam pada sesi kedua ini tercatat jauh lebih dalam dibandingkan dengan penutupan sesi pertama yang hanya mengalami pelemahan sebesar 1,62%.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyampaikan bahwa rilis MSCI Annual Market Classification Review menjadi sentimen utama penekan indeks. Dalam tinjauan ini, MSCI menyoroti kekhawatiran investor global terkait aspek investabilitas di Indonesia.

MSCI bahkan membuka opsi untuk mereklasifikasi status Indonesia dari pasar berkembang atau emerging market menjadi pasar perintis (frontier market) pada November 2026 apabila tidak ada kemajuan.

Nafan menilai penurunan tajam itu mencerminkan respons langsung dari para pelaku pasar luar negeri yang kecewa terhadap hasil evaluasi berkala tersebut.

“Anjloknya IHSG pasca-pengumuman menunjukkan bahwa ekspektasi pasar, terutama investor asing belum sepenuhnya terpenuhi. Pasalnya, asing kerap mengantisipasi adanya perbaikan bobot atau kejelasan regulasi yang lebih akomodatif,” ucap Nafan kepada Bisnis Rabu (24/6/2026).

Baca Juga

  • IHSG Ditutup Turun 3,56% ke 5.883 Usai Pengumuman MSCI, Saham BUMI hingga CUAN Ambrol
  • MSCI Pertahankan Status Emerging Market, Risiko Turun ke Frontier Market Mereda
  • MSCI Soroti Bursa RI, Daftar Saham HSC Bengkak Jadi 13 Emiten

Dia menambahkan ketika hasil review tidak membawa katalis positif baru atau justru menyoroti isu struktural, aliran dana keluar jangka pendek menjadi respons alami akibat aksi ambil untung atau rebalancing portofolio.

Di sisi lain, pergeseran narasi global yang kembali bersiap menghadapi era suku bunga tinggi untuk jangka waktu lebih lama turut memperberat langkah indeks.

Penundaan ekspektasi pemangkasan Fed Rate serta aksi jual besar-besaran pada sektor teknologi di Wall Street disebut kian memperkeruh sentimen eksternal.

“Di sisi lain, tekanan eksternal dari dinamika geopolitik Timur Tengah agak mereda seiring perkembangan diplomasi AS–Iran. Namun, tekanan masih belum hilang sebab Iran masih mengembangkan program nuklir,” ucapnya.

 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kekerasan Seksual Diduga Terjadi di Ponpes Samarinda, Modus Nikah Batin
• 4 menit lalukumparan.com
thumb
Mulai 1 Juli 2026, Gojek dan Grab Kompak Terapkan Komisi 8 Persen untuk Ojol
• 23 jam lalumedcom.id
thumb
12 Jam Usai Besi 30 Ton Terjatuh, Arus Tomang-Grogol Masih Tersendat
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Dorong Transformasi Digital Ketenagakerjaan, Wali Kota Resmikan Job Fair Online dan Pelatihan Vokasi
• 22 jam laludisway.id
thumb
Peristiwa 24 Juni: Tentara Sekutu Mendarat di Halmahera hingga Lahirnya Lionel Messi
• 14 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.