JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Prabowo Subianto menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang dinilainya mengalami anomali.
Data pertumbuhan ekonomi tujuh tahun terakhir yang tumbuh rata-rata 5% per tahun tidak dirasakan langsung masyarakat. Hal ini disampaikan Presiden Prabowo dalam penutupan Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU.
Prabowo bilang secara logika pertumbuhan tersebut seharusnya membuat Indonesia menjadi lebih kaya. Namun, data yang diterimanya setelah menjadi presiden menunjukkan jumlah penduduk miskin justru bertambah.
Pemerintah kembali mengguyur paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun di semester II 2026. Tujuannya menjaga daya beli masyarakat dan menopang pertumbuhan ekonomi domestik. Stimulus pangan menjadi salah satu fokus utama, yakni penyaluran bantuan beras 10 kilogram bagi 33,24 juta penerima serta insentif harga bahan baku bagi produsen tahu dan tempe.
Selain stimulus pangan, pemerintah juga mengalokasikan Rp2 triliun untuk berbagai insentif transportasi guna mendorong mobilitas masyarakat pada dua momentum besar, yaitu libur sekolah dan periode Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.
Apa penyebab anomali yang dimaksud presiden terjadi? Apa solusi atas masalah ini?
Kita bahas di Kompas Bisnis bersama Dzikri Firmansyah Hakam, ekonom dan akademisi Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (ITB).
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Rp6,26 Triliun untuk Magang Nasional 2026, Target 150 Ribu Peserta
#prabowo #ekonomi #miskin #paketstimulus
Penulis : Shinta-Milenia
Sumber : Kompas TV
- ekonomi
- presiden prabowo
- pertumbuhan ekonomi
- miskin
- paket stimulus
- kompastv





