Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menyatakan hingga saat ini belum ada pengajuan spesifik dari pemerintah Indonesia terkait pembelian minyak mentah dan kerja sama pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan Rusia.
“Pada saat ini saya tidak memiliki informasi apakah sudah ada pengiriman (minyak) atau belum,” kata Tolchenov saat konferensi pers di kediamannya, Jakarta, Rabu (24/6).
Kendati demikian, ia menginformasikan bahwa beberapa pekan lalu Indonesia telah menetapkan pihak yang akan menjadi mediator atau focal point dalam kontrak kerja sama tersebut, yakni Lemigas.
“Karena bukan Pertamina yang akan menjadi pihak tersebut, melainkan Lemigas,” sebut Tolchenov.
Tolchenov pun kembali menekankan kini pihaknya belum menjalin komunikasi dengan Lemigas dan lembaga tersebut juga belum menghubunginya.
“Jadi saya berharap mungkin hal itu akan terjadi di masa depan, dalam proyek-proyek mendatang. Namun kami tetap terbuka,” sebutnya.
Katanya, Rusia merupakan pemasok minyak dan gas yang andal serta berkelanjutan, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara Asia Tenggara dan dunia. “Jadi jika ada perkembangan atau informasi yang lebih spesifik, kami siap untuk mendiskusikannya,” tutur Tolchenov.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan minyak mentah atau crude dari Rusia segera masuk ke Indonesia, sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Langkah tersebut juga menjadi bagian dari realisasi komitmen impor minyak sebesar 150 juta barel dari Rusia yang akan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026.
“Bagi saya yang paling penting adalah semua stok kita ada. Dan untuk (minyak mentah) Rusia sebentar lagi masuk ya,” ujar Bahlil saat ditemui selepas menghadiri acara Himpunan Alumni IPB di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu (24/6).





