REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dana Moneter Internasional (IMF) dan Biro Statistik Nasional China menandatangani nota kesepahaman (MoU) baru untuk menyusun metode pengukuran ekonomi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud computing), big data, hingga aset digital. Langkah ini dinilai penting seiring pesatnya perkembangan ekonomi digital China yang kini menjadi salah satu yang terbesar di dunia.
Kesepakatan tersebut membuka jalan bagi China untuk menyesuaikan sistem statistik nasionalnya dengan System of National Accounts 2025 (SNA 2025), standar akuntansi ekonomi terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Standar baru ini memungkinkan aset tak berwujud, seperti data, platform digital, dan teknologi AI, dihitung sebagai bagian dari kekuatan ekonomi suatu negara.
- NATO Genjot Anggaran Militer Rp9.300 T, Putin: Barat Bersiap Perang dengan Rusia
- Manuver Zohran Mamdani Jadi Gempa Politik AS, Retaknya Koalisi Mulai Terlihat
- Kapal Perang Belum Jadi, Jerman Sudah Boncos Rp46 Triliun
Bagi China, pembaruan tersebut menjadi langkah strategis untuk menggambarkan kontribusi sektor digital secara lebih akurat. Selama ini, sejumlah aktivitas ekonomi berbasis teknologi dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam perhitungan produk domestik bruto (PDB) maupun statistik ekonomi konvensional.
IMF menyatakan nota kesepahaman tersebut menjadi kerangka kerja kolaborasi dalam implementasi SNA 2025. Kerja sama itu mencakup pengembangan metodologi pengukuran ekonomi digital, kecerdasan buatan, komputasi awan, platform intermediasi digital, hingga data yang diperlakukan sebagai aset ekonomi.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Pengukuran yang lebih akurat terhadap ekonomi digital dinilai semakin penting karena China kini menjadi salah satu pemimpin global dalam berbagai sektor teknologi, mulai dari kecerdasan buatan, perdagangan elektronik (e-commerce), hingga layanan komputasi berbasis awan. Nilai ekonomi dari aset digital yang selama ini sulit dihitung diharapkan dapat tercermin dalam statistik resmi negara.
SNA 2025 sendiri merupakan revisi besar pertama terhadap sistem akuntansi nasional global dalam 17 tahun terakhir. Standar tersebut dirancang untuk menyesuaikan metode penghitungan ekonomi dengan perkembangan teknologi digital yang semakin mendominasi aktivitas ekonomi dunia.
Melalui pembaruan ini, China tidak hanya berupaya meningkatkan akurasi data ekonominya, tetapi juga memperkuat posisi dalam persaingan teknologi global. Bagi negara-negara lain, kemampuan mengukur ekonomi digital secara tepat menjadi faktor penting untuk memahami kekuatan ekonomi baru yang lahir dari AI, data, dan layanan digital.
"Nota Kesepahaman ini menyediakan kerangka kerja untuk kolaborasi dalam implementasi SNA 2025, termasuk pekerjaan pada pengukuran ekonomi digital, AI, komputasi awan, platform intermediasi digital, dan data sebagai aset," kata IMF dalam sebuah pernyataan pers, sebagaimana diberitakan Euronews pada Rabu (23/6/2026).




