Menjaga Rupiah dari Lahan Sawah

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Stabilisasi harga pangan adalah kunci. Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan semata. Ini sudah menjadi ancaman nyata, tanpa terkecuali bagi dompet masyarakat kita.

Ketika pasokan pangan terganggu, inflasi pasti langsung melonjak tinggi. Di sinilah peran krusial bauran kebijakan Bank Indonesia diuji. Sentimen pasar harus tetap dijaga.

Gejolak geopolitik global semakin mempersulit keadaan kita saat ini. Rantai pasok pangan dunia sempat tersendat. Akibatnya, biaya logistik impor melonjak cukup signifikan. Tekanan terhadap mata uang Rupiah juga berisiko mengerek harga volatile food. Komoditas bahan pangan berpotensi terdampak. Jika dibiarkan, daya beli masyarakat bawah pasti jadi taruhan. Untungnya, otoritas moneter kita bergerak dengan sangat cepat dan tepat.

Bank Indonesia (BI) terus konsisten menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Juni 2026, inflasi indeks harga konsumen (IHK) Mei terjaga stabil di level 3,08% secara tahunan (year-on-year). Angka ini berada tepat di tengah sasaran target BI dan Pemerintah sebesar 1,5 persen sampai 3,5 persen.

Keberhasilan menjaga inflasi ini adalah fondasi utama bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Modernisasi pertanian bukan lagi sekadar pilihan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengambil langkah terobosan. BRIN sukses meluncurkan varietas padi unggulan baru dengan potensi produktivitas di atas 10 ton per hektare.

Angka ini jauh melampaui rata-rata produktivitas nasional saat ini yang hanya berkisar di angka 5,2 ton per hektare berdasarkan data sensus pertanian. Varietas baru ini dirancang khusus agar tahan banjir, kekeringan, ekstremisme cuaca, bahkan lahan dengan kadar salinitas (keasinan) tinggi.

Teknologi hulu seperti ini adalah tameng terbaik melawan inflasi pangan.

Namun, inovasi di sektor hulu saja jelas tidak cukup. Rantai distribusi pangan kita yang panjang sering kali memicu spekulasi harga yang merugikan. Oleh karena itu, sinergi antara BI, Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan pemerintah daerah melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) menjadi sangat penting. Program ini salah satunya bertujuan memangkas jalur distribusi yang belum efisien. Ujungnya, konsumen mendapatkan harga yang murah, sementara di sisi lain petani tetap menikmati keuntungan yang adil.

Sinergi ini pun terbukti. Bapanas mencatat bahwa hingga awal Juni 2026, Gerakan Pangan Murah (GPM) telah sukses digelar sebanyak 5.200 kali di 36 provinsi di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, sebanyak 2.890 Kios Pangan juga telah beroperasi penuh untuk menyediakan bahan pokok dengan harga terjangkau bagi masyarakat.

Integrasi data pasokan antardaerah kini berjalan jauh lebih rapi melalui platform digital. Efeknya, potensi kelangkaan pasokan di satu wilayah dapat langsung dimitigasi sejak dini sebelum harga sempat melonjak.

Dunia usaha tidak mau tinggal diam sebagai penonton saja. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berkomitmen penuh memperkuat investasi di sektor industri pengolahan pangan. Hilirisasi pangan di dalam negeri akan memberikan nilai tambah ekonomi yang sangat besar bagi kita.

Harmonisasi regulasi antara pusat dan daerah yang tumpang tindih perlu digalakkan demi kepastian iklim investasi. Ketika swasta masuk membawa modal dan teknologi, rantai pasok domestik serta-merta mengalami efisiensi.

Sektor manufaktur makanan dan minuman juga menunjukkan performa yang cukup menggembirakan. Kementerian Perindustrian melansir data bahwa sektor industri makanan dan minuman (mamin) mampu tumbuh sebesar 5,8% pada paruh pertama tahun ini. Sektor ini menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas kita.

Hilirisasi komoditas pertanian terbukti ampuh mengurangi ketergantungan kita terhadap produk pangan dari luar negeri. Kita harus berdaulat penuh di atas tanah sendiri.

Pertumbuhan ekonomi nasional yang positif membutuhkan prasyarat mutlak, yaitu stabilitas sosial dan politik. Stabilitas tersebut hanya bisa terwujud jika kebutuhan bahan pokok masyarakat sudah benar-benar aman dan terpenuhi. Dengan inflasi pangan yang terkendali dengan baik, suku bunga acuan BI dapat dijaga pada level yang ramah bagi ekspansi dunia usaha. Roda ekonomi pun akan berputar jauh lebih cepat dan bertenaga. Optimisme pasar modal dan sektor riil akan terus terjaga secara konsisten.

Keberhasilan mengendalikan inflasi di level 3,08% di tengah ketidakpastian global bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari orkestrasi kebijakan moneter dan fiskal yang terbilang tepat sasaran.

Dari sisi moneter, keputusan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas Rupiah. Imported Inflation sebisa mungkin diredam, utamanya pada komponen biaya logistik dan bahan baku pangan terikat dolar. Namun, efektivitas bauran kebijakan ini tidak akan optimal tanpa intervensi kebijakan pemerintah bagi dunia usaha.

Lompatan produktivitas dari varietas padi baru BRIN dan intervensi pasar Bapanas berfungsi sebagai shock absorber (peredam kejut) yang menjaga sisi penawaran (supply side) domestik. Perpaduan inilah yang membedakan penanganan inflasi dengan negara berkembang lainnya. Indonesia tidak hanya meredam daya beli melalui instrumen suku bunga, melainkan secara aktif membenahi efisiensi jalur logistik dan kapasitas produksi di sektor lapangan usaha.

Langkah ini semakin penting, demi memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi inklusif dan berdaya tahan terhadap gejolak eksternal.

Pada akhirnya, terjaganya stabilitas inflasi dan penguatan nilai tukar Rupiah sepanjang paruh pertama tahun 2026 ini memvalidasi satu hal penting. Ketahanan ekonomi nasional berakar pada kedaulatan pangan tanah air.

Sinergi solid yang ditunjukkan oleh BI, BRIN, Bapanas, Kementerian Perindustrian, hingga sektor swasta melalui Kadin. Ego sektoral dapat dikesampingkan demi kepentingan nasional.

Ke depan, konsistensi dalam mengeksekusi inovasi hulu-hilir harus tetap menjadi prioritas utama, seiring tantangan perubahan iklim ekstrem dan tensi geopolitik yang semakin sulit dibaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Anggaran Kurang Rp96 Triliun, Program 3 Juta Rumah Terancam Mandek?
• 16 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Pelaku Kasus Ade Sara Divonis Seumur Hidup, Apakah Taufik Hidayat Bisa Mendapat Hukuman Serupa?
• 16 menit laluviva.co.id
thumb
Ini 5 Desain Terbaik Logo HUT ke-81 RI, Publik Bisa Ikut Pilih
• 21 jam laludetik.com
thumb
Swiss Permalukan Kanada 2-1, Kedua Tim Sama-sama Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Pemerintah Tanggung PPN Demi Menjaga Harga Rusun Subsidi
• 51 menit lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.