HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR –Ada fase dalam karier seorang pesepak bola ketika usia mulai menjadi bahan pembicaraan.
Bukan lagi soal potensi, melainkan tentang berapa lama ia masih mampu bersaing di level tertinggi.
Di usia 37 tahun, Muhammad Rahmat sebenarnya sudah memiliki alasan yang cukup untuk pulang.
Pulang ke Makassar, kota yang membesarkan namanya. Pulang ke lingkungan yang mengenalnya sebagai salah satu pemain sayap tercepat yang pernah dimiliki PSM Makassar. Pulang menikmati masa-masa akhir karier di kampung halaman.
Namun Rahmat memilih jalan yang berbeda.
Alih-alih kembali ke Sulawesi Selatan, mantan pemain PSM Makassar dan Bali United itu justru menerima tantangan baru bersama Semen Padang FC, klub yang baru saja terdegradasi dari kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Keputusan tersebut menunjukkan satu hal: Rahmat merasa pekerjaannya di lapangan hijau belum selesai.
Masih ada target yang ingin dikejar. Masih ada pembuktian yang ingin diberikan.
Dan kali ini, tantangan itu datang dari Ranah Minang.
Musim lalu menjadi periode yang berat bagi Semen Padang. Setelah berjuang sepanjang kompetisi, Kabau Sirah akhirnya harus menerima kenyataan pahit turun ke Championship musim 2026/2027.
Bagi klub yang memiliki sejarah panjang di sepak bola Indonesia, degradasi bukan sekadar kehilangan status.
Itu adalah pukulan terhadap harga diri.
Karena itulah manajemen tidak ingin berlama-lama larut dalam kekecewaan.
Begitu musim berakhir, langkah pembenahan langsung dilakukan. Nil Maizar dipercaya memimpin proyek kebangkitan tim. Pelatih asal Sumatera Barat itu diberi tugas yang tidak ringan: membawa Semen Padang kembali ke Super League dalam waktu sesingkat mungkin.
Target tersebut membuat klub bergerak agresif di bursa transfer.
Nama-nama berpengalaman mulai berdatangan. Muhammad Hargianto, Otto Kapisa, Ariyanto Maring, Irvan Mofu, hingga Esteban Vizcarra menjadi bagian dari proyek baru tersebut.
Namun di antara semua nama itu, sosok Muhammad Rahmat menghadirkan cerita yang berbeda.
Ia datang bukan sebagai pemain muda yang sedang mencari pengalaman.
Bukan pula pemain yang ingin membangun reputasi.
Rahmat datang dengan membawa segudang pengalaman yang telah ditempa selama bertahun-tahun di level tertinggi.
Kariernya tidak bisa dilepaskan dari PSM Makassar.
Bersama Pasukan Ramang, Rahmat tumbuh menjadi salah satu winger paling berbahaya di Indonesia. Kecepatan, kemampuan menusuk dari sisi lapangan, dan keberaniannya menghadapi lawan membuatnya menjadi pemain yang ditakuti banyak bek.
Ia menjadi bagian dari generasi yang menghidupkan kembali kebanggaan sepak bola Makassar.
Kemudian perjalanan karier membawanya ke Bali United.
Di sana, Rahmat kembali membuktikan kualitasnya. Meski usia terus bertambah, profesionalismenya membuat ia tetap mampu bersaing dengan pemain-pemain yang jauh lebih muda.
Kini, lembaran baru dibuka di Semen Padang.
Bagi sebagian pemain seusianya, bermain di Championship mungkin dianggap sebagai langkah mundur.
Namun bagi Rahmat, kompetisi kasta kedua justru menghadirkan tantangan yang tidak kalah besar.
Sebab target yang dibebankan kepadanya sangat jelas: promosi.
Tidak ada ruang untuk sekadar menjalani musim.
Tidak ada target selain membawa Kabau Sirah kembali ke Super League.
Di sinilah pengalaman Rahmat menjadi sangat berharga.
Kompetisi Championship dikenal keras dan penuh tekanan. Klub-klub yang baru terdegradasi sering kali mengalami kesulitan karena harus menghadapi tim-tim yang bermain dengan motivasi tinggi.
Dalam situasi seperti itu, kehadiran pemain senior menjadi penting.
Bukan hanya karena kualitas teknis, tetapi juga karena kemampuannya menjaga mental tim sepanjang musim.
Rahmat pernah berada dalam berbagai situasi sepanjang kariernya.
Ia pernah merasakan tekanan perebutan gelar juara, persaingan papan atas, hingga pertandingan-pertandingan penting yang menentukan nasib sebuah klub.
Pengalaman seperti itulah yang kini dibutuhkan Semen Padang.
Menariknya, proyek yang dibangun Kabau Sirah tidak hanya mengandalkan pemain senior.
Manajemen juga mendatangkan sejumlah pemain muda potensial, termasuk mantan pemain Timnas Indonesia U-17, Andre Pangestu.
Kombinasi pemain berpengalaman dan talenta muda menjadi strategi yang ingin diterapkan klub musim ini.
Rahmat kemungkinan akan menjadi salah satu figur penting dalam proses tersebut.
Di ruang ganti, ia bisa menjadi mentor bagi pemain-pemain muda yang baru memulai perjalanan profesional mereka.
Di lapangan, ia tetap diharapkan menjadi pembeda melalui pengalaman dan kecerdasannya membaca permainan.
Sementara itu, Semen Padang belum berhenti bergerak.
Presiden klub Andre Rosiade memastikan bahwa aktivitas transfer masih terus berjalan. Beberapa pemain asing baru sedang dipersiapkan untuk melengkapi komposisi skuad.
Ambisinya jelas.
Klub ingin segera kembali ke tempat yang mereka yakini sebagai habitat sebenarnya: kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Di tengah semua perubahan itu, kehadiran Muhammad Rahmat memiliki makna simbolis tersendiri.
Ia adalah gambaran bahwa usia bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Bahwa seorang pemain tidak selalu harus pulang ketika karier mulai memasuki senja.
Kadang, justru di penghujung perjalanan itulah tantangan terbesar datang.
Bagi Rahmat, tantangan itu kini bernama Semen Padang.
Dan sebelum suatu hari nanti benar-benar pulang ke Makassar, masih ada satu pekerjaan yang harus diselesaikannya terlebih dahulu.
Membantu Kabau Sirah bangkit dari keterpurukan.
Membawa mereka kembali ke Super League.
Sebab bagi Muhammad Rahmat, ternyata belum waktunya pulang kampung.





