Bisnis.com, SEMARANG - ASUS melaporkan peningkatan pangsa pasar pada Kuartal I/2026. Aldi Ramadiansyah, Commercial Product Marketing Asus Indonesia, mengklaim bahwa sepanjang tahun 2025 perusahaan teknologi asal Taiwan itu mencatat pertumbuhan penjualan di Indonesia sebesar 117% (year-on-year/YoY).
Kondisi itu berbanding terbalik dengan iklim industri yang masih terguncang oleh kelangkaan cip dan kenaikan harga komponen komputer di tingkat global.
Aldi menyebut kehadiran ASUS Business sebagai lini penjualan produk business-to-business (B2B) dan komersial menjadi salah satu alasan kenaikan penjualan ASUS.
Lini penjualan itu pertama diperkenalkan pada 2019 dan terus mencatatkan peningkatan pangsa pasar. Dari peringkat 6 di tahun 2024, ke peringkat 4 di tahun 2025.
"Kami men-track performance-nya, pada Kuartal I/2026, kami mencatat peningkatan marketshare. Sekarang sudah di 17% dan secara ranking sudah menduduki peringkat 3. Semoga kita bisa mengamankan posisi nomor 1 di 2027 pada pasar laptop bisnis di Indonesia," tutur Aldi dalam acara yang digelar di Kota Semarang pada Rabu (24/6/2026).
Muhammad Firman, Head of Corporate Communications ASUS Indonesia, menjelaskan bahwa keberadaan ASUS Business merupakan strategi perusahaan untuk menjangkau lebih banyak konsumen di tengah disrupsi pada sektor teknologi informasi.
Baca Juga
- ASUS Perkenalkan Laptop Bisnis Anyar, Tanam Fitur Local AI
- Dua Bos Sritex Didakwa Rugikan Negara Lebih dari Rp1 Triliun di Kasus Korupsi Kredit
- Bukan Dioplos, Ini Awal Mula Kasus Pertamax Tercampur Air di SPBU Pertamina Solo
Perkembangan Akal Imitasi (AI) atau kecerdasan buatan telah mengubah peta rantai pasok di tingkat dunia.
"Di saat kita sedang gencar-gencarnya menerapkan teknologi AI di laptop dan juga PC, sementara di sisi produsen semikonduktor, semuanya lebih fokus untuk memasok kebutuhan data center. Jadi shortage untuk komponen itu berpengaruh terhadap ketersediaan produk," jelas Firman.
Imbasnya, Firman menyebut terjadi kenaikan harga produk sebesar 50% (yoy) akibat kelangkaan komponen, khususnya chip. Kondisi tersebut diprediksi masih akan berlanjut dan diproyeksikan bisa semakin mengerek harga produk hingga 170% dibanding harga normal.
Konsumen di entry level menjadi segmen yang paling berdampak dari kenaikan harga tersebut. Firman menyebut, sepanjang tahun 2025, ada penurunan penjualan sebesar 20-30% pada segmen entry level. Sebaliknya, pada segmen flagship dan B2B, dampak tersebut justru tidak banyak terasa.
Prospek pada segmen konsumen flagship dan B2B itulah yang coba digarap oleh ASUS Business. Firman menyampaikan bahwa meskipun terjadi kenaikan harga, namun segmen tersebut relatif resilien karena sudah memiliki anggaran yang ditetapkan sejak tahun sebelumnya.
"Kita tidak bisa melawan kondisi yang terjadi, jadi yang kami ubah adalah fokusnya. Kalau sebelumnya kita fokus ke entry yang sensitif tadi, maka sekarang kita lebih fokus ke B2B, segmen komersial, atau mereka yang punya kebutuhan untuk ekspansi bisnisnya. Kami coba perkenalkan dengan Asus Business Series," jelas Firman.
Firman mengaku optimistis ASUS ExpertBook Ultra yang menjadi produk flagship pada kelas B2B bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
Dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40% serta beragam fitur dan teknologi mutakhir yang dibenamkan, Firman menyebut ASUS Indonesia siap untuk mempertahankan kinerja positif yang berhasil diraih pada tahun sebelumnya.
"Kami ingin membuktikan apakah produk ini sesuai dengan tagline yang kami bawa, yaitu Flagship of the Industry. period," imbuhnya.




