Fenomena Baru di Prancis, Ramai-Ramai Warga Kini Pasang AC

cnbcindonesia.com
15 jam lalu
Cover Berita
Foto: Seorang wanita menggunakan payung merah untuk berteduh dari matahari saat berjalan di jalanan Nantes ketika suhu meningkat selama gelombang panas yang melanda sebagian besar Prancis, 22 Juni 2026. (REUTERS/Stephane Mahe)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa mulai mengubah kebiasaan masyarakat Prancis yang selama ini dikenal enggan menggunakan pendingin ruangan (AC). Di tengah suhu yang terus meningkat, semakin banyak warga memilih memasang AC demi menjaga kenyamanan dan kesehatan keluarga mereka.

Prancis, telah mencatat hari terpanas sejak pencatatan suhu modern dimulai pada 1947. Kondisi tersebut membuat jutaan orang harus bertahan menghadapi panas di apartemen, sekolah, hingga panti jompo yang dinilai belum dirancang untuk menghadapi cuaca ekstrem.

"Saya tidak dibesarkan dengan AC," kata Matthieu Ruquet, warga berusia 35 tahun asal Nice, dikutip CNA, Kamis (25/6/2026).


Namun setelah suhu di apartemennya di pinggiran Paris mencapai 36 derajat Celcius, ia akhirnya memutuskan membeli AC portabel. Ini juga terjadi karena dorongan istrinya yang berkebangsaan Amerika.

"Saya pikir ini sedang berubah. Tetapi masalah utama bagi saya adalah membeli AC akan membuat planet ini semakin panas," ujarnya.

Kekhawatiran tersebut mencerminkan pandangan mayoritas masyarakat Prancis. Survei terbaru menunjukkan delapan dari 10 warga menganggap AC tidak ramah lingkungan karena membutuhkan konsumsi energi yang besar.

Namun sejumlah ahli menilai dampak lingkungan AC di Prancis tidak sesederhana itu. Ahli Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), Francois Gemenne, mengatakan penggunaan AC belum menjadi masalah besar bagi lingkungan Prancis karena negara itu tidak terlalu bergantung pada bahan bakar fosil, di mana 70% listrik Prancis tahun lalu berasal dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Meski demikian, para pakar menegaskan AC bukan solusi tunggal menghadapi perubahan iklim. Perencana kota Clement Gaillard menilai persoalan utama justru terletak pada desain bangunan yang tidak disiapkan untuk menghadapi suhu yang semakin panas.

Banyak gedung modern memiliki jendela kaca besar di Prancis. Sementara rumah-rumah berinsulasi baik untuk musim dingin justru menyimpan panas saat musim panas.

AC juga memiliki efek samping. Selain menggunakan cairan pendingin yang berpotensi mencemari lingkungan, perangkat ini membuang udara panas ke luar ruangan.

Peneliti Pusat Penelitian Lingkungan dan Pembangunan Internasional (CIRED), Vincent Viguie, mengatakan fenomena tersebut dapat meningkatkan suhu lokal di kawasan perkotaan yang padat dan minim ventilasi. Simulasi di Kota Lyon menunjukkan penggunaan AC pada fasad bangunan berpotensi menaikkan suhu udara sekitar hingga 1,75 derajat Celsius.

Meski begitu, penelitian terbaru CIRED menunjukkan solusi alternatif seperti memperbanyak ruang hijau dan renovasi bangunan juga memiliki keterbatasan. Dalam simulasi gelombang panas ekstrem di wilayah Paris pada periode 2070-2100, penghapusan seluruh AC membuat warga tetap terpapar suhu di atas 32 derajat Celcius selama enam jam setiap hari.

Perdebatan mengenai AC kini bahkan memasuki arena politik menjelang pemilihan presiden Prancis tahun depan. Tokoh sayap kanan Marine Le Pen mendorong akses AC yang lebih luas dengan alasan suhu ekstrem dapat mengancam nyawa, sebaliknya, pemimpin kiri Jean-Luc Melenchon menilai pemasangan AC secara masif hanya menjadi solusi semu yang justru memperparah krisis iklim.


(tfa/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
4 Daftar Prioritas Penerima MBG - Eropa Panas, Warga "Panic Buying"

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Riset: 73% Perempuan RI Alami Gangguan Pigmentasi, Termasuk Flek Hitam
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Polisi Gagalkan Rencana Perkelahian Gangster Bersenjata Tajam di Pati
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Pemadaman Listrik dan Momentum Transisi Energi
• 2 jam lalukompas.id
thumb
Supergirl Terbang Tinggi di Indonesia! Hari Pertama Tembus 63 Ribu Penonton
• 18 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Gedung Putih Minta Dana USD 87,6 Miliar untuk Biayai Perang AS-Iran
• 21 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.