DPR Soroti Latsarmil SPPI, TB Hasanuddin: Calon Manajer Kopdes Lebih Butuh Ilmu Manajemen

wartaekonomi.co.id
9 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah sorotan terhadap pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI), anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin menilai materi pelatihan untuk calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih seharusnya lebih difokuskan pada kemampuan manajerial daripada latihan militer yang berat.

Menurut mantan Mayjen TNI itu, tugas utama para peserta nantinya adalah mengelola koperasi desa sehingga kompetensi yang perlu diperkuat berkaitan dengan manajemen organisasi, tata kelola koperasi, dan kemampuan teknis sesuai bidang pekerjaannya.

“Kalau memang peserta dipersiapkan untuk jabatan manajerial di Koperasi Desa, maka fokus utama sebaiknya diberikan pada pelatihan manajemen koperasi saja, penguatan kapasitas organisasi, dan pelatihan teknis yang secara relevan,” kata TB Hasanuddin dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2026).

Ia menegaskan pendidikan kemiliteran tetap memiliki manfaat, tetapi porsinya sebaiknya dibatasi hanya untuk membangun karakter dasar peserta.

“Pelatihan militer cukup diberikan pada tingkat dasar dan terbatas saja,” sambung purnawirawan TNI tersebut.

TB Hasanuddin menjelaskan pelatihan dasar itu dapat diarahkan untuk membentuk disiplin, kekompakan, serta semangat kebersamaan melalui kegiatan seperti baris-berbaris, santiaji, apel, hingga senam pagi.

Menurutnya, pendekatan tersebut sudah cukup untuk membangun karakter peserta tanpa harus memberikan beban fisik yang berlebihan.

Pernyataan itu disampaikan setelah tiga peserta Program SPPI yang dipersiapkan menjadi calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti Latsarmil.

TB Hasanuddin menilai peristiwa tersebut harus menjadi momentum untuk mengevaluasi desain pelatihan secara menyeluruh agar sesuai dengan kebutuhan tugas para peserta setelah lulus.

Selain materi pelatihan, ia juga menyoroti pentingnya proses pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum peserta menjalani aktivitas fisik.

“Itu pun sebelumnya harus lolos tes kesehatan sebelum mengikuti aktivitas fisik. Pemeriksaan kesehatan harus dilakukan secara benar dan ketat oleh tim dokter. Jika proses skrining kesehatan tidak akurat, maka ketika peserta mengikuti latihan dengan beban fisik tertentu dapat menimbulkan risiko yang fatal,” sebutnya.

Baca Juga: Bisa Mundur dengan Tenang, Penalti Rp100 Juta Rekrutmen Koperasi Merah Putih Resmi Dihapus!

Berdasarkan informasi yang beredar, tiga peserta yang meninggal dunia adalah Anisa Muyassaroh yang dilaporkan mengalami heat stroke dan henti jantung, Yonanda Muhammad Taufiq yang meninggal akibat cardiac arrest, serta Novia Rahmadhani Sihotang yang meninggal setelah menjalani perawatan akibat gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan tuberkulosis (TBC).

Karena itu, TB Hasanuddin meminta pemerintah mengevaluasi mekanisme seleksi kesehatan, intensitas latihan, pengawasan medis selama kegiatan, hingga kesesuaian materi pelatihan dengan tugas yang akan dijalankan peserta.

“Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama. Program yang bertujuan membangun kapasitas SDM tidak boleh mengorbankan aspek kesehatan dan keamanan peserta,” tegasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jokowi Awali Perjalanan Silahturahmi Kebangsaan Di Lampung
• 4 jam lalucumicumi.com
thumb
Ini Tugas Satgas Mitigasi PHK yang Dipimpin Prasetyo Hadi
• 3 menit lalukompas.com
thumb
Berapa Banyak Telur yang Aman Dikonsumsi Setiap Hari? Ini Kata Ahli
• 13 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Ratusan calon manajer Koperasi Desa jalani Latsarmil
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Sudin Jakbar Relokasi 7.960 Kabel Semrawut di Jalan Utama
• 19 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.