Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (US Dollar Index/DXY). Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia tersebut naik 0,11 persen ke level 101,300.
Baca juga: Mata Uang Rupiah Tertekan Dolar AS dan Ringgit Malaysia
Selain terhadap dolar AS, rupiah juga melemah terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Nilai tukar dolar Singapura berada di level Rp13.876,50 atau naik 0,10 persen, sedangkan ringgit Malaysia menguat ke Rp4.380,92 atau naik 0,41 persen terhadap rupiah. Sementara itu, euro bertahan di kisaran Rp20.398 per euro.
Rupiah juga melemah terhadap Yen Jepang dan Yuan Tiongkok. Rupiah melemah 0,14 persen dengan berada pada level 111,21. Kemudian rupiah melemah 0,12 persen terhadap Yuan Tiongkok dengan berada pada level Rp2.646.
Di pasar komoditas, harga emas dunia justru bergerak melemah. Emas spot (XAU/USD) turun 7,67 poin atau 0,19 persen menjadi USD4.019,11 per troy ons. Koreksi harga emas terjadi di tengah penguatan dolar AS yang kembali menjadi aset pilihan investor.
Secara umum, penguatan dolar AS membuat aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik bagi pelaku pasar global. Kondisi tersebut biasanya memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pergerakan rupiah selanjutnya diperkirakan masih dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama arah kebijakan moneter bank sentral utama dunia, perkembangan ekonomi global, serta arus modal asing ke pasar keuangan domestik. Di sisi domestik, pelaku pasar juga akan mencermati respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)





