oleh Shi Kejian
Seluruh dunia gembar setelah berita tentang perjanjian perdamaian yang akan segera terjadi antara AS dan Iran dikonfirmasi oleh kedua belah pihak. Banyak orang yang mendukung tapi banyak pula yang menentang dengan berbagai pandangan, antara lain ada yang mengatakan AS telah menang dan yang lain mengatakan Iran yang menang. Lalu bagaimana kita menilainya?
Beberapa orang yang terdorong oleh sentimen anti-komunis dan anti-kediktatoran, berharap Trump menjatuhkan rezim Iran. Yang lain, yang menilai dari perspektif kemanusiaan, merasa perjanjian perdamaian sama saja dengan membiarkan para diktator membantai rakyatnya sendiri, dan mendukung rezim yang jahat.
Tentu ada pula yang menggemakan retorika Partai Komunis Tiongkok (PKT), mengklaim Iran belum kalah sejak Ali Khamenei terbunuh, dan bahkan jika rezim tersebut runtuh, mereka masih dapat menemukan alasan untuk membuktikan kemenangan Iran…
Baiknya kita menganalisis hal ini dari tiga perspektif:
Perspektif Pertama—Tujuan Perang. Berapa Banyak Tujuan Perang? Berapa yang Tercapai?
Pertama: Tujuan utamanya adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Dalam waktu satu bulan sebelum serangan AS-Israel, Iran sudah akan memproduksi senjata nuklir.
Begitu Iran memiliki senjata nuklir, ia akan menjadi hegemon Timur Tengah, dapat secara sewenang-wenang memaksa semua negara Timur Tengah, dan negara-negara lain pasti akan mengikuti jejak Iran mengembangkan senjata nuklir juga, yang menyebabkan kekacauan global. Oleh karena itu, ini adalah masalah yang sangat mendesak, sehingga kemampuan dan fasilitas nuklirnya harus segera dihancurkan.
Kedua: Oleh karena kelompok garis keras Iran bersikeras untuk mempertahankan pengembangkan senjata nuklir, maka untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran demi perdamaian jangka panjang, anggota inti dari kelompok garis keras tersebut perlu dilenyapkan. Kebetulan saja pada saat itu, Iran sedang mengalami gelombang protes dalam negeri, dan rezim mullah baru saja melakukan pembantaian besar-besaran terhadap para demonstran sebulan sebelumnya.
Jadi operasi pemenggalan kepala terhadap Ali Khamenei dan para pejabat tinggi bergaris keras ini dipandang sebagai penegakan keadilan dan penguatan perjuangan bagi rakyat Iran. Maka, bom pertama dijatuhkan kepada Ali Khamenei, yang sedang menghadiri pertemuan inti. Seketika itu 48 orang tokoh militer dan politik berpangkat tinggi Iran meninggal dalam operasi pemenggalan kepala yang dilancarkan AS pada hari pertama. Selanjutnya, operasi pun masih berhasil membunuh banyak pemimpin militer dan politik Iran lainnya.
Banyak posisi penting dalam pemerintahan Iran berulang kali mengalami pergantian personel mungkin karena masalah kualifikasi. Menurut ucapan Trump, orang-orang yang baru dipromosikan tersebut semuanya adalah tokoh-tokoh yang sebelumnya tidak pernah dikenal.
Ketiga: Isu Rezim Iran. Sebelum perang berkobar, Trump tidak pernah mengutarakan keinginan untuk menggulingkan rezim Iran saat membahas soal isu Iran. Trump hanya menuntut agar Iran menghentikan pengembangan senjata nuklirnya dan berhenti mendanai organisasi teroris seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi.
Seiring dengan meningkatnya kobaran protes warga Iran, dan militer Iran menggunakan kekerasan untuk menghadapi rakyatnya sendiri, ditambah lagi pemimpin tertinggi Iran tewas dalam operasi pemenggalan kepala, maka revolusi internal di Iran menjadi sangat mungkin terwujud.
Pada saat itu, meskipun pembahasan isu setelah runtuhnya pemerintahan teokratis memang dibahas secara terbuka, tetapi karena berbagai faksi di Iran berdebat tanpa henti, sehingga tidak ada konsensus yang tercapai.
Tentu saja, menggulingkan rezim saat ini akan mencapai denuklirisasi jangka panjang dan menghentikan pendanaan terhadap organisasi teroris. Namun, jika rezim saat ini tidak dapat digulingkan, maka negosiasi akan mengharuskan mereka untuk menyerahkan uranium yang diperkaya dan berjanji untuk tidak mendanai organisasi teroris.
Oleh karena itu, menggulingkan rezim saat ini hanyalah alternatif untuk mencapai denuklirisasi Iran, bukan tujuan yang mutlak.
Keempat: Jika rezim saat ini tidak dapat digulingkan, setidaknya kemampuan serangan jarak menengah dan jauh Iran harus dihilangkan, sehingga Iran tidak mampu mengancam negara-negara Timur Tengah lainnya.
Kelima: Amerika Serikat tidak ingin terjebak dalam perang berkepanjangan, terutama perang dengan korban jiwa yang signifikan di pihak AS. Jika tidak, fraksi kiri dalam negeri AS bisa memanfaatkan kesempatan untuk menciptakan masalah dan memengaruhi pemilihan paruh waktu.
Dari kelima poin ini, poin 1, 2, dan 5 telah tercapai dengan sempurna, sementara poin 4 sebagian besar telah tercapai. Hingga akhir Maret tahun ini, kekuatan utama angkatan udara dan angkatan laut Iran telah sepenuhnya dilenyapkan, mungkin hanya menyisakan beberapa pesawat tua dan perahu cepat kecil, sehingga mereka tidak mampu menyerang atau mengancam negara-negara Teluk lainnya. Hanya karena dukungan terselubung berkelanjutan dari PKT, Iran kadang-kadang dapat meluncurkan rudal dan drone untuk mempertahankan kehadirannya.
Namun, poin ketiga sama sekali tidak terpenuhi, karena tiga alasan: Pertama, prospek rezim Iran pasca-era mullah jauh dari optimis, yang memungkinkan mereka jatuh ke dalam model Irak, pertikaian antar faksi yang terjadi terus menerus, rakyat tetap hidup dalam kesulitan dan keamanan yang belum kondusif. Kedua, akibat organisasi seperti Garda Revolusi dan milisi Basij mempertahankan kendali yang sangat ketat terhadap penduduk, sehingga penduduk tidak mampu mengorganisir perlawanan yang efektif. AS tidak mengerahkan pasukan daratnya karena dapat mengakibatkan kerugian yang signifikan. Ketiga, pengkhianatan Kurdi telah membuat kecewa Trump.
Baru-baru ini, Trump mengungkapkan bahwa AS telah mempercayakan Kurdi untuk mengirimkan sejumlah senjata kepada rakyat Iran, tetapi Kurdi menyalahgunakan kepercayaan, senjata tidak diberikan kepada rakyat Iran tetapi dikuasainya sendiri. Hal mana telah mengganggu rencana strategis AS.
Pada awal perang, Trump mengusulkan gagasan negara Kurdi, tetapi pandangan sempit Kurdi memaksanya untuk meninggalkan gagasan ini. Jika AS menghabiskan sumber daya yang signifikan untuk menghancurkan rezim mullah, hanya untuk membuat kekuasaan Kurdi besar di kemudian hari, tetapi mungkin saja pada akhirnya tidak dapat bekerja sama dengan AS, maka AS lebih memilih untuk mempertahankan struktur politik saat ini, yang lebih mudah dikelola oleh AS, rakyat Iran, dan negara-negara tetangga lainnya.
Oleh karena itu, mengenai masalah perubahan rezim, Trump menyesuaikan tujuannya berdasarkan realitas situasi. Tujuannya tetap sama: meminimalkan kerugian bagi rakyat Iran, dan bagi Amerika Serikat untuk menghindari pengorbanan yang tidak perlu.
Lalu bagaimana Trump menyesuaikan pendekatannya? Yaitu melalui model Venezuela.
Model Venezuela, atau model menggulingkan rezim yang ada untuk mendirikan pemerintahan baru tidak melalui pemberontakan dan revolusi kekerasan ini dapat dianggap sebagai model temuan Trump. Melalui metode tersebut Trump dapat membiarkan mekanisme operasional dari pemerintah yang ada tetap berjalan, dan Amerika Serikat dapat bertindak sebagai pihak ketiga untuk mengawasi tahapan proses demokratisasi. Seluruh proses tersebut berlangsung tanpa konflik besar atau pertumpahan darah, dan proses demokratisasi pada akhirnya tercapai.
Tentu saja, demokratisasi Venezuela belum sepenuhnya tercapai, tetapi tren saat ini sangat menjanjikan dan optimis. Jika berhasil, ini akan memberikan model bagi negara-negara otoriter lainnya: para diktator atau kelompok kekuasaan tidak harus memilih antara menindas rakyat secara brutal dan dibantai oleh pemberontak. Mereka memiliki jalan ketiga, yaitu menebus kesalahan mereka, mencapai transisi yang mulus, dan mempertahankan kehidupan yang layak dan martabat yang pantas di sisa hidup mereka.
Lebih lanjut, transformasi Venezuela yang sukses telah memberi kepercayaan kepada masyarakat bahwa bahkan di negara-negara totaliter, beberapa pejabat tinggi bersedia bergerak menuju demokratisasi, jika diberi kesempatan dan dukungan yang cukup. Ini adalah bentuk perubahan yang paling tidak mengganggu dan model yang paling ideal.
Sekarang jelas terlihat bahwa Trump sedang mendorong Iran ke arah itu.
Pertama, para pejabat tinggi Iran yang terbunuh dalam awal operasi pemenggalan kepala secara massal adalah mereka yang tergolong sebagai kelompok garis keras dan yang memiliki hutang darah kepada rakyat Iran. Sementara itu, presiden, ketua parlemen, dan menteri luar negeri yang tergolong faksi progresif—tidak masuk dalam target operasi. Ketika kelompok garis keras telah mengalami beberapa kali pergantian personil, sementara faksi progresif sebagian besar masih terdiri dari para veteran yang berkemampuan lebih, maka pergeseran kekuasaan pasti terjadi.
Meskipun kekuasaan militer masih berada di tangan kelompok garis keras, tetapi pengalaman, koneksi, dan prestise mereka belum mampu menyaingi para veteran progresif. Selain itu, pembunuhan yang terjadi cepat dan menelan banyak korban ini membuat gangguan pada proses normal pengembangan bakat, dan menyulitkan para pemimpin baru untuk mendapatkan dukungan rakyat, sehingga berpotensi menimbulkan perpecahan di dalam kelompok garis keras.
Kedua, sebenarnya Trump telah memberikan kesempatan kepada faksi progresif Iran untuk naik ke tampuk kekuasaan dengan inisiatifnya untuk meminta mereka duduk di meja perundingan. Trump berharap kontribusi mereka yang signifikan terhadap perdamaian akan meningkatkan popularitas domestik dan memberi mereka lebih banyak pengaruh.
Ketiga, terdapat cakupan tentang pelepasan secara bertahap sanksi keuangan terhadap Iran dalam perjanjian tersebut, yang pada dasarnya akan memberikan faksi progresif pengaruh yang lebih besar untuk terus menekan kelompok garis keras. Soal apakah syarat pelepasan sanksi keuangan ini dapat atau tidak dipenuhi, tentu membutuhkan negosiasi tatap muka, yang tidak diragukan lagi akan diwakili oleh faksi prograsif. Jelas negosiasi membutuhkan bukti konkret, yang memungkinkan faksi progresif untuk menekan kelompok garis keras agar mau bekerja sama.
Apakah ada risiko kecurangan? Mungkin saja ada, tetapi dengan faksi progresif yang bertindak sebagai penyangga, kecurangan tidak akan terlalu parah. Yang penting sudah berhasil memperlambat proses pengembangan senjata nuklir Iran. Jelas, AS tidak yakin apakah rezim mullah bersedia mematuhi perjanjian tersebut sepanjang waktu, tetapi asal bisa menunda rezim mullah mengingkari kesepakatan itu sudah dianggap berhasil. Karena waktu lebih penting bagi kubu demokratis. Hal ini akan kita analisis kemudian.
Oleh karena itu, meskipun tidak menggulingkan pemerintahan Iran saat ini, namun tuntutan denuklirisasi dan tidak mendukung terorisme tetap tidak berubah. Jika tujuan-tujuan ini tercapai, isu rezim menjadi tidak penting. Namun, karena kedua poin ini tidak termasuk dalam kesepakatan pendahuluan, sehingga perlu dibahas lebih lanjut dalam negosiasi kesepakatan akhir di waktu mendatang.
Jadi dapat kita katakan bahwa tujuan antara kelompok garis keras Iran dan AS sangat berbeda saat ini. Sementara faksi progresif Iran mencoba menjembatani kesenjangan, menemukan keseimbangan, demi tercapainya perdamaian sementara. Meskipun mereka masih membutuhkan waktu untuk mengamati perkembangan selanjutnya.
Perspektif Kedua—Perubahan dalam Tatanan Global
Ada orang yang menilai tidak membawa manfaat bagi AS tentang perang Iran yang berlangsung selama 4 bulan dan kini sementara berakhir. Mungkin yang dimaksud adalah bahwa rezim Iran sampai saat ini masih eksis. Namun, jika kita membandingkan situasi di Iran, AS, Timur Tengah, dan bahkan dunia 4 bulan lalu, kita akan menemukan perubahan yang cukup signifikan.
Militer AS telah berhasil menunjukkan kemampuan serangan yang mengejutkan, untuk mengembalikan reputasinya sebagai kekuatan yang tak terkalahkan di dunia, serta membangun kembali posisi hegemoni global AS. Sebelumnya, Iran pernah sesumbar dengan penuh percaya diri mampu mengusir AS dari Timur Tengah. Mereka menganggap tentara AS masih orang-orang yang sama yang telah mengalami kekalahan di Afghanistan. Mereka juga yakin bahwa sistem radar baru buatan PKT cukup untuk melawan pesawat tempur F-35, dan rudal anti-kapal berkecepatan tinggi buatan PKT dapat menenggelamkan kapal induk AS…
Namun, ketika para pemimpin tertinggi Iran satu per satu menjadi target operasi pemenggalan kepala, dan ketika angkatan udara AS dan Israel sepenuhnya mengendalikan wilayah udara Iran, ketika kapal-kapal angkatan laut Iran yang dibanggakan ditenggelamkan satu per satu, terutama ketika ratusan rudal yang diluncurkan militer Iran secara bersamaan untuk menyerang kapal induk AS, seluruhnya berhasil ditangkis oleh militer AS… dunia terkejut tetapi Iran putus asa. Kesenjangan generasi persenjataan yang cukup besar, termasuk koordinasi dan respons militer ini selain sulit dikejar oleh militer Iran, tetapi juga tidak tertandingi oleh kekuatan militer lain di dunia.
2 Segera setelah perjanjian damai diumumkan, Iran langsung menyatakan kemenangan, dan PKT juga mengklaim kemenangan untuk Iran. Tetapi “kemenangan” Iran hari ini bukanlah kemenangan yang diharapkan Iran 4 bulan lalu—standarnya telah berubah. Empat bulan lalu, Iran berharap untuk mencegah pesawat tempur F-35 Amerika Serikat memasuki negaranya, menenggelamkan kapal induk Amerika Serikat di Teluk Persia, dan memaksa AS untuk mundur dari Timur Tengah.
Bahkan di awal perang, setelah kematian Khamenei, pemerintah Iran bersumpah untuk memaksa AS membayar hutang darahnya… tetapi sekarang, mereka mengaku menang karena rezim masih eksis. Ini sama seperti seorang penjahat yang ingin mendominasi jalanan, menjadi tiran lokal, tetapi malah dipukuli habis-habisan, berdarah-darah, patah tulang, dan giginya berserakan di tanah, tidak mampu berdiri, namun tetap dengan keras kepala mengatakan: “Silakan bunuh saya jika Anda berani! Jika Anda tidak dapat membunuh saya hari ini, maka sayalah pemenangnya!” Tetapi dunia telah menyaksikan kebohongannya: betapapun keras kepalanya, dia hanyalah seorang preman yang tulang punggungnya telah patah.
Sebelum perang AS-Iran, rezim Iran bagaikan kepala preman Timur Tengah yang memelihara sekelompok kaki tangan untuk menimbulkan masalah di mana-mana. Sebagian besar negara Timur Tengah tidak berani bersuara, kecuali Israel, yang berani mendobrak rintangan dan melawan Hamas dan Hizbullah. Namun, meskipun Israel memiliki teknologi canggih dan militer yang kuat, wilayahnya yang kecil dan jumlah penduduk yang sedikit tidak mampu mempertahankan konfrontasi jangka panjang dengan militer Iran yang lebih besar. Hanya intervensi AS yang dapat mengatasi situasi tersebut. Oleh karena itu, meskipun Israel dapat membela diri, tetapi kekuatannya belum mampu untuk menyaingi Iran, apalagi menjadi kekuatan deterensi di Timur Tengah.
Sekarang, situasinya sangat berbeda. Selama perang berlangsung, peluncuran rudal Iran yang tanpa pandang bulu telah memaksa negara-negara tetangganya di Timur Tengah memperkuat kerja sama dengan Israel, menjauhi Iran, dan menjadi lebih bergantung pada perlindungan militer AS.
Sekarang, vitalitas Iran sudah tergerus hebat, untuk membela diri saja sulit, apalagi mendukung sekutu yang dipeliharanya. Oleh karena itu, meskipun perjanjian perdamaian mencakup ketentuan untuk perdamaian Lebanon, Israel telah dengan jelas menyatakan bahwa mereka tidak akan menghentikan tindakan pembalasan terhadap Hizbullah di Lebanon, dan bahwa jika Iran menyerang Israel sebagai akibatnya, Israel akan membalas.
Dengan kata lain, Israel tidak akan sepenuhnya mematuhi perjanjian perdamaian. Israel masih memiliki kepercayaan diri untuk menghadapi Iran yang sudah lumpuh. Israel saat ini cukup mampu untuk menekan beberapa anak buah nakal Iran yang berada di Timur Tengah. Setelah perang ini, Israel pada dasarnya sudah mampu memposisilkan kekuatannya tidak lagi kalah dengan Iran. Aliansi anti-Iran di Timur Tengah yang didukung oleh AS dan dipimpin oleh Israel, kini lebih besar dan lebih kohesif daripada di waktu lalu.
Melihat lanskap global, rezim Iran seharusnya sudah runtuh dalam serangan gabungan AS-Israel jika tidak mendapat dukungan terselubung dari PKT. PKT adalah pendukung keuangan dan pelindung semua rezim jahat di dunia. Selama PKT ada, dunia tidak akan pernah damai. Niat PKT adalah menggunakan Iran mengikat AS, untuk menguras kekuatan militer AS, dan sekaligus menguji senjatanya sebagai persiapan untuk invasi ke Taiwan. Namun, AS telah melihat skema ini.
Oleh karena itu, AS telah melumpuhkan program nuklir Iran, melemahkan kemampuan ofensifnya, dan menyingkirkan sejumlah besar garis keras yang berpengalaman, kejam, dan licik. Kemudian, AS mengakhiri konflik dengan perjanjian damai. Membiarkan Israel nanti menghadapi Iran yang sudah lumpuh. Dengan demikian AS dapat lebih berfokus untuk menangani isu PKT. Ini adalah keputusan strategis yang sangat rasional.
Bersamaan dengan itu, perubahan lain dalam lanskap global adalah negara-negara di Amerika Latin semakin mendekat ke pihak AS dalam tingkatan yang berbeda. Kekuatan ofensif militer AS yang menakjubkan dalam serangannya terhadap Iran telah membungkam negara-negara otoriter dan meningkatkan rasa hormat negara-negara demokratis terhadap AS. Kemudian, Trump memanfaatkan kesempatan itu dan mendirikan “Perisai Benua Amerika” (Shield of the Americas) pada 5 Maret 2026, yang menggalang lebih dari sepuluh negara Amerika Latin untuk berpartisipasi melalui komitmen bersama dalam memerangi organisasi kriminal transnasional. Ini tidak hanya memperkuat keamanan regional AS, mengukuhkan posisi dominan AS di Benua Amerika, tetapi juga mengisolasi beberapa negara yang sangat terinfiltrasi oleh komunisme, sekaligus meningkatkan tekanan kepada mereka agar lebih jeli dalam memilih pihak.
Perspektif Ketiga—Siapa yang Paling Diuntungkan dari Perdamaian Sementara?
PKT yang paling merasa sakit dengan ditandatanganinya perjanjian perdamaian AS-Iran. Karena itu merupakan tanda kegagalan PKT dalam mengikat militer AS di Timur Tengah untuk dikuras kekuatannya. Oleh karena itu, media dan media sosial yang dikendalikan PKT gencar mempromosikan narasi bahwa Iran menang dan AS kalah—satu-satunya kebohongan yang dapat mereka lontarkan saat ini. Namun, ada juga individu yang anti-komunis tetapi belum benar-benar memahami situasi melempar kritikan yang berbunyi: Trump telah tertipu karena janji-janji Iran sama sekali tidak dapat diandalkan. Itu sama saja dengan memberi rezim Iran ruang bernapas, yang kemudian akan bangkit kembali untuk terus menimbulkan kekacauan di Timur Tengah dan mengembangkan senjata nuklir.
Tetapi apakah hanya Iran satu-satunya negara yang menggunakan kesempatan ini untuk berbenah dan mengisi kembali sumber dayanya? Bukankah AS juga dapat melakukan hal yang sama? Begitu pula ekonomi global juga bisa mengambil keuntungan ini?
Setelah perjanjian perdamaian ditandatangani, situasi dapat berkembang menuju 2 arah. Salah satu kemungkinannya adalah faksi progresif di Iran mendapatkan kendali dalam perebutan kekuasaan internalnya, dan benar-benar menerapkan perjanjian tersebut. Kemungkinan lainnya adalah bahwa kelompok garis keras Iran yang mendominasi dan terus mengembangkan kemampuan militer mereka—kemungkinan ini tidak kecil.
Meskipun demikian, ini hanyalah kontes siapa yang memiliki kapasitas produksi yang lebih besar dan dapat mengumpulkan kekuatan lebih cepat. Jelas, mesin perang AS baru saja mulai bergerak. Pada Maret dan Juni tahun ini, Trump 2 kali bertemu dengan kontraktor pertahanan, menuntut mereka untuk menggandakan produksi persenjataan canggih. Pada April, Trump bertemu dengan para produsen mobil seperti GM dan Ford, meminta mereka berpartisipasi dalam produksi senjata dan kendaraan militer.
Pada 9 April, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk mempercepat produksi senjata dan memperluas basis industri pertahanan. Meskipun proses transformasi dan percepatan ini membutuhkan waktu. Tetapi setelah transformasi selesai, pertumbuhan kekuatan militer AS akan sangat dahsyat. Sama seperti pada tahap awal Perang Pasifik tahun 1941, di mana produksi tahunan kapal perang AS sedikit lebih rendah daripada Jepang, tetapi setahun kemudian, produksi tersebut menyamai dan melampaui Jepang. Pada tahun 1944, total produksi kapal perang AS sepuluh kali lipat dari Jepang, jauh melampaui Jepang. Oleh karena itu, bagi AS waktu yang lebih berharga.
Selain itu, periode implementasi perjanjian ini juga merupakan periode pengamatan strategis. Setelah operasi pemenggalan kepala secara massal pada awal Maret tahun ini, tindakan para pejabat yang baru dipromosikan masih belum jelas. Jika mereka hanya tidak kompeten, mempertahankan mereka akan lebih bermanfaat. Jika mereka adalah penjahat yang kejam dan licik, operasi pemenggalan kepala masih dapat dilanjutkan.
Pada akhirnya, negara-negara di seluruh dunia juga yang akan menikmati manfaat dari perjanjian perdamaian ini. Mereka akan memiliki kesempatan untuk mengisi kembali cadangan minyak mereka dan memilih rantai pasokan alternatif, seperti dari Venezuela dan Alaska, sebelum Iran mengingkari perjanjian. Selain itu, negara-negara penghasil minyak di Teluk juga dapat membangun dan memperluas jalur pipa minyak yang melewati Selat Hormuz, yang pada dasarnya membebaskan mereka dari gangguan Iran terhadap kapal tanker minyak dan manipulasi ekonomi global.
Oleh karena itu, dari perspektif ini, penerima manfaat terbesar dari perjanjian damai bukanlah Iran, melainkan Amerika Serikat dan kubu demokrasi global.
Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa ini adalah perang yang tidak dapat dihindari, yang diakibatkan oleh desakan ancaman senjata nuklir. Setelah AS mencapai sebagian besar tujuan strategisnya, militer Amerika Serikat menggunakan blokade Selat Hormuz dan serangan udara untuk memaksa rezim Iran menandatangani perjanjian damai, mengakhiri perang dan meletakkan dasar bagi perubahan Iran di masa mendatang. Setelah itu AS baru dapat lebih fokus untuk menangani isu PKT, sebuah rezim pendukung utama kejahatan global. Ini adalah pilihan terbaik saat ini. (***)





