Presiden Prabowo Subianto diduga tengah mengambil langkah strategis untuk melemahkan kekuatan politik Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) menjelang Pilpres 2029.
Pegiat media sosial Eko Kuntadhi menilai Prabowo sedang memotong logistik politik Jokowi dengan menekan para oligarki yang selama ini menaunginya melalui kebijakan ekonomi.
"Langkah-langkah Prabowo yang kemudian kita rasakan sekarang ini diindikasikan banyak memotong kekuatan-kekuatan ekonomi yang dulu berdiri di belakang Jokowi," ungkapnya dalam kanal YouTube 2045 TV, dikutip Jumat (26/6).
"Para pengusaha tambang atau para konglomerat, para oligarki ekonomi yang dulu berdiri di belakang Jokowi ini merasa semua kebijakan Prabowo atau arah kebijakan Prabowo ingin memotong mereka,' imbuhnya.
Eko juga menyinggung isu yang berkembang di publik mengenai dominasi ekonomi Indonesia yang selama ini disebut dikuasai oleh “sembilan naga” dan kini digadang-gadang akan digantikan oleh “sembilan haji”. Isu tersebut, menurutnya, ramai diperbincangkan di media sosial maupun warung kopi sebagai strategi untuk memotong logistik lawan politik.
Tujuannya, kata Eko, agar lawan tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk menggerakkan perubahan politik atau merancang skenario politik ke depan.
Baca Juga: Roy Suryo dan dr. Tifa Jadi Korban Pertarungan Politik Prabowo vs Gibran
Sebagai catatan, Presiden Prabowo pada 1 Juni 2026 menginisiasi kebijakan ekspor satu pintu dengan tujuan utama menutup celah manipulasi keuangan oleh pengusaha besar (oligarki komoditas) yang selama ini memicu kebocoran devisa negara.
Melalui Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam, pemerintah menunjuk BUMN khusus, yaitu PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), sebagai eksportir tunggal sekaligus integrator perdagangan untuk tiga komoditas strategis: batu bara, kelapa sawit (crude palm oil), dan paduan besi (ferroalloy).





