Jakarta, VIVA – Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap perempuan berinisial YTR yang menjerat Taufik Hidayat (30) masih menjadi perhatian publik. Polda Jawa Barat telah menetapkan Taufik sebagai tersangka dan menjeratnya dengan pasal berlapis yang membuatnya terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara.
Polisi menduga korban mengalami kekerasan secara berulang selama tinggal bersama pelaku hingga mengalami luka berat, gangguan penglihatan, kesulitan berbicara, dan tidak dapat berjalan normal.
Di tengah proses hukum yang terus berjalan, berbagai fakta mengenai kehidupan pribadi Taufik mulai terungkap. Tak hanya riwayat masa lalunya, kisah keluarganya pun ikut menjadi sorotan.
Dari pengakuan ayah kandungnya, Tata, serta Kepala Desa Ciaro, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Kusnaedi, terungkap bahwa keluarga tersebut telah lama diterpa berbagai cobaan. Satu per satu tragedi datang silih berganti hingga menyisakan kisah pilu yang kini kembali menjadi perhatian publik.
Keluarga yang Pernah Hidup dengan Empat Anak
Tata mengungkapkan bahwa dirinya bersama sang istri memiliki empat orang anak. Layaknya keluarga pada umumnya, mereka sempat menjalani kehidupan bersama sebelum berbagai musibah datang menghampiri.
Cobaan pertama datang ketika anak sulung yang berjenis kelamin perempuan meninggal dunia akibat sakit. Kepergian putri pertama menjadi duka mendalam bagi keluarga.
Meski berusaha bangkit, keluarga tersebut kembali diterpa musibah beberapa waktu kemudian, di mana anak bungsu laki-laki meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan. Keterangan itu diungkapkan Kusnaedi.
"Yang bungsu meninggal karena overdosis, minum obat-obatan sampai meninggal dunia," ujarnya. Peristiwa tersebut menjadi salah satu kehilangan terbesar yang harus diterima keluarga Tata.
Sang Ibu Tak Kuat Menanggung Beban
Kepergian dua anak disebut memberikan dampak besar terhadap kondisi psikologis ibu Taufik. Menurut Kusnaedi, bukan hanya kehilangan anak yang menjadi beban pikirannya, tetapi juga berbagai persoalan yang dialami anak-anak lainnya.
Ia menyebut kondisi ibu Taufik terus memburuk hingga mengalami tekanan mental yang cukup berat. "Ibunya stres, setahun ampleung-ampleungan (jalan kaki ke sana ke mari)," ungkap Kusnaedi.
Perubahan perilaku sang ibu pun mulai terlihat. Ia lebih banyak berdiam diri di rumah, enggan berbicara dengan siapa pun, bahkan beberapa kali keluar rumah dan berjalan tanpa arah. "Istrinya (Tata) nggak mau dibawa diperiksa, di rumah diem, nggak ngomong," katanya.





